Pensil

pensil-untuk-hobi-menggambar

Aku kehilangan

Pensil

Apa ia, digulung dalam

Ratusan volume udara

dalam sekotak

ruang hampa?

 

Tunjuki aku titik hitam

di moncongmu

yang mencucu

Biasa bercumbu

dengan selapis putih

persegi panjang

 

Ayo! Tunjukkan padaku

Kau satu-satunya

Artefak dari peradaban

abad milenium

yang segera jadi purba

 

Hanya denganmu bisa

Kulukis memoar

atas ruang dan waktu yang ada

Advertisements

Pendamping

Diam kamu!

Kamu kira maaf cukup?

Semua kau umbar!

Dalam larik kata indahmu!

 

Celakanya aku menyimak

Menelan bulat-bulat

SEMUANYA!

 

Dan semua pesan singkat-aneh

Mu, kau anggap apa?

Memintaku bertahan?

Menanti hingga kau hampiri

 

Menanyakan usia-

Keisapanku untuk..

Ah, sudahlah

Aku perempuan tahu

batasan

 

Bertanya harapanku

atas insan yang ingin kudampingi

Seumur hidupku (?)

Seoalh kaulah insan tersebut kelak

Banyak OMONG!

Selamat Tidur

a7fac055af5f0766107b588cb5bf0e3f

Mataku mengerjap sayu

Menuntut istirahat

Namun, syaraf di sini

masih bekerja konstan

Menuntut sebuah

Karya

 

Apa daya, aku tetap terjaga

Mencari serpihan bintang

yang mungkin terjatuh

dari pekatnya angkasa

 

Angkasa yang sama

Bintang yang sama

Kapas tipis putih terapung

yang sama

Sama-sama kita pandang

 

Sekarang? Ya, sekarang

Tentunya kau belum tertidur kan

Maka, kalau begitu

Selamat tidur 🙂

 

Imaji Kosong

malioboro-yogyakarta-malam-hari

Sudah berapa lembar

Puisi yang kubuat

Sudah berapa liter tinta

yang kutoreh

Sudah berapa hela

napas yang kuhembus

Setiap kali membaca ulang

 

Saat penat merayap

Merengkuh tubuh ringkih ini

Saat bosan menyergap

Benakku yang terperangkap ini

Saat cahayanya hilang

ditelan, di batas garis horizon

 

Pena di tangan kanan

Buku mungil di pangkuan

Dendang lagu di kepala

Menyapa sukma merintih

Minta dirindu

Kangen

Sepertinya, ia, iya

Berharap untuk dirindu

 

Dan kau memaksa

Ku, paham akan jarak

Membuatku

tau makna sepi

Hargai rasa sunyi

Pencipta ruang, pembatas

seperti tengahnya pagi dan sore

Siang

Umpama Jogja dan Bali

Laut.

Kau cipta ruang

Untuk kau bebas

 

Boleh egois–mereguk rindu memuakkan

Tapi, kau pilih cara itu

Ya, sudah..

 

Dan bumi tetap berada

pada porosnya

Aku masih di Jogja

Tak ada yang berubah.

Meski langit lebih muram.

Dan tatkala malam

lebih dingin

 

Kau pergi

membuatku menemukanmu

di sepanjang Malioboro

Di bangku kosong transjogja

Di kerumunan wisatawan

serta pedagang

Pun pada noda teko angkringan

Mataku hanya mencari sosokmu

Continue reading

Kabar Jangkar

u23_8931

Kabar baiknya

Jangkar yang kubuang-sauh,

Sedia tambatan lain

Tinggal kesediaanku, ingin menambat atau?

TIDAK.

Jawabku dalam sanubari

Tegasku. Itu tidak setimpal

Jangkarku terlalu kasar, besar dan berat

Kuatkah ia nanti?

Mungkin ia bersedia

Kupatok, kupukul, kubaret.

Tapi~

Aku tak ingin melukai.

Dan kenapa harus muncul di saat

Tambatan di pantai yang biasa setia

Itu hilang, tenggelam perlahan.

Apa memang, ia pengganti?

anchor-graveyard-62

Abstraksi Layang Untuk

Ini abstrak sekali.

Ketika samudera jiwamu terlihat implisit di mataku. Dan ketika dialog kita semakin mengerucut. Berfokus padaku. Ya memang benar juga, aku egois. Namun, kamu biarkan saja. Seolah menjadi korban keegoiskanku adalah kenikmatan bagimu. Siapa sangka, tidak juga kamu–ketika berjumpa pertama kali denganku–yang tenggelam dalam baju kebesaran. (baru terbersit olehku sekarang, apa dulu kamu menatapku satu mata?) sekarang justeru kamu memujaku layaknya manusia dengan kodrat membutuhkan idola, akulah dewimu. Aku, sosok yang kau banggakan, sekarang dan sampai kapanpun.

Maka alfabet itu meluncur bebas, membentuk sejarah–pemanis ingatan. Kau, aku. Ungkapan apa yang tepat selain waktu yang dapat menghentikannya?

Kamu dulu, kamu sekarang.

Aku dulu, aku sekarang.

 

“Setiap orang berubah,” katamu. Tidak, kamu. Masih sama. Kamu yang urakan, tinggi, pencemas. Memang ada yang berubah. Tapi itu kita. Bukan kamu. Kamu semakin dewasa, matang menghadapi kekanakan yang kubuat-buat.

Daftar riwayat “dewi-dewi”mu banyak. Pelarianmu katamu baru jujur sekarang. Banyak sekali sampai aku membenci mendengar kau dan teman-temanmu mengucapkannya, dan hidupku didominasi oleh kisahmu tentang “mereka”. Aku menghujatmu. Yang hanya tahu converse maupun Peter Says Denim. Kamu pecundang! Di otakmu hanya ada mereka dan “mereka”.

Bahkan prospek pekerjaanmu seabsurd kita. Cita-cita. Kau plin-plan. Ikuti yang terkenal. Hilang oleh zaman. Kamu ganti impianmu. Apa sih bakatmu? Semakin aku benci kekuranganmu, semakin hal itu merebut jatah dalam benakku. Kau tumbuh dewasa dengan porsi banyak disini. Jauh di alam bawah sadarku.

Usia kita melewati 18 tahun.

Kau bukan lagi bocah yang tertawa girang setelah menyembunyikan barangku. Bukan pula bocah yang marah, sok galakl dengan teman yang mengganggu ‘milikmu’. Kau pendiam, sekarang. Mengakui satu demi satu, hal. Membalik kartu-kartu di hadapanku.

Menatap tajam ke arahku.

Memaksaku memejam rapat. Mengingat aksara yang tertoreh pada buku harianku yang tua. Tinggal menunggu waktu hingga ia mengetahuinya. Hingga kita sama-sama menyadari.

Dan, inikah waktu yang dulu kumaksud?

Aku bahkan baru mau pindah dimensi.