Marriage?!

gambar-kartun-muslim-muslimah-468x555

Malam makin larut.

Sementara kapasitor-kapasitor dalam otakku makin cepat bekerja.

“Aku gak pengen nikah,”

Celetuk kawan lamaku Aku tidak tahu harus bereaksi apa, namun aku sama sekali tidak kaget atau heran. Angin malam berhembus pelan dan pembicaraan kami mengalir deras seperti aliran sungai untuk arum-jeram.

Sambil menenteng sekantung es teh angkringan depan asrama, aku tergelak mendengar kesungguhan dari cara bicaranya. “Aku heran, Min, kenapa manusia harus nikah? Diperparah dengan perintah agama kita, Sunnatullah, kan. Nikah dapat pahala banyak pulak,” Aku diam. Tidak berniat membalas dengan argumen sebagai opposition team. Hanya ingin menjelaskan–bukan mendebat.

“Dan kenapa pula-,”

“Kita memiliki naluri melanjutkan keturunan?” Potongu cepat. Ia tersenyum mengiyakan.

“Kenapa, Min? Dosakah aku gak nikah?”

Karena aku bukan dari jurusan keagamaan, dan takut asal mengeluarkan statement. aku jelaskan dari sudut pandangku sebagai anak biasa, dengan logika standar,

“Kalo gak gitu, manusia punah, coy!” Ujarku simple.

“ah, biar! Kita udah over-populate kok sebenernya,” Kawanku itu, mengenakan atas mukena menyeruput es teh berkaporitnya.

Continue reading

Advertisements