Romance Phobic

Menatapnya seperti membuka luka lama. Kelebat bayang putih-biru berlarian lagi melintasi ruang bersuhu dingin ini. Rina sibuk mengemut sendok berisi gumpalan eskrim Mcflury Choco. Tidak peduli hidungnya mengeluarkan cairan dan bersin berulang kali. Ia sengaja berlama-lama disitu, toh di luar hujan turun begitu lebatnya. “Ini yang disebut perayaan patah hati,” lawan bicaranya, Nisa, an old friend duduk di hadapannya.

Juga sibuk menjilati eskrim saus strawberry. Dua gadis remaja tanggung (18 tahun) menghabiskan sore itu di salah satu tempat nongki di Mall Malioboro. Nisa dan Rina bahkan telah saling mengenal sejak taman kanak-kanak. Nisa tahu betul karakter sahabatnya. Rina tidak akan menangis hanya karena masalah sepele. Sepele? Ya.

“Gini deh, gue bingung sama dia. Dia kan udah tau lo dari dulu. Jalan 7 tahun kalian akrab, but, kenapa dia engga..?”

“Itu poinnya!” Rina menyela sambil mengacungkan sendok plastik eskrimnya.

“Dia sangat tahu! Tahu setahu-tahunya. Bahkan soal gue yang..terikat, oh no, tersihir sama dia bertahun-tahun. Dia ga kasih tau gue, karena mau jaga perasaan gue, Nis!”

“Hell yeah! Kalo dia sebaik itu kenapa dia upload foto berdua cewek lain. LEbih sakit kan, lo cuma bisa nerka tanpa dia kasih tau apapun. Dan lo malah tahu dari orang lain. Itu lebih sakit,”

“Mungkin dia kira gue cuma ngira cewek itu temen deketnya,”

“Bullshit!” Diah meletakkan gelas eskrimnya dengan kasar. Sudah satu jam lebih mereka duduk di sudut itu. Dekat dari wastafel. Dan di sisi kanan Rina, dinding kaca sempurna basah di luar oleh air hujan. Mereka bisa menikmati pemandangan-kesibukan Malioboro di bulan Desember. Dan mulai menggigil oleh AC ruangan. Ia memakai sarung tangan hitam yang ia beli di toko aksesoris tak jauh dari sini.

“Seriusan kita gak move on ke mana gitu?” Rina bertanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya yang dingin. “Gue pewe, meski gigil,” Balas sahabatnya nyengir.

Rina melanjutkan jilatannya. Baginya semua makanan di kafe fast food itu bisa mengembalikan moodnya. Atau setidaknya menghibur hatinya.

“Lo gak pernah coba tanya si Natali. Kenapa mereka bisa sampai taken–akhirnya?”

“Natali? Gue rasa dia udah wanti-wanti Natali biar gak jelasin terlalu banyak ke gue,”

“But, lo tau, pacarnya bener-bener bukan tipenya dia! Natali pun mengakui kan, [acar dia sekarang gak cakep. Aneh,”

“Tapi anak kedokteran, woy!”

“Cantikan Natalie, Rin!”

“Love is blind,” Rina sedikit melamun saat menangkis perkataan NIsa. KEnapa terkesan ia membela perbuatan seorang yang sudah menyakitinya? Tapi alangkah menyebalkan urusan perasaan ini. Apalagi bagi gadis lugu sepertinya yang membiarkan perasaan itu tumbuh berkembang hingga mengakar kuat seolah pohon kokoh nan rimbun. Butuh sesuatu yang dahsyat untuk menghancurkannya.

“Asal lo gak philobhobic aja kayak gue,” Nisa dengan gaya acuhnya menyeruput fruit tea dari gelas stereofoam yang mereka pesan untuk menemani lunch dengan fried chicken. Semua yang dikonsumsi mereka saat itu sangat junk food.
“Wait, gue tahu istilah itu..,”

“Phobia akan jatuh cinta,” Nisa menimpali sambil terkekeh. Well, pernyataan NIsa barusan cukup membuat Rina tersedak. “Itu seriusan? Bukan sugesti lo doang?”

“Si Izzah juga lho, Rin. Dia malah hasil test di internet”

“Hmp. tes kayak di facebook kan, dasar itu mah ga valid,”

Lalu diam. sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Lo gak percaya sama cinta. Gitu intinya?” Rina bertanya dengan wajah meledek.

“Bukan. Lebih kayak cinta dalam konteks relation-ship. Gue sempet sampai pada satu kesimpulan bahwa, gak ada satu hubungan yang awet. Pasti akan ada putus. cerai,”

“Stop. Tapi lo liat orangtua kita kan?”

“Ya itu dulu Rin. Sekarang ego masing-masing lebih tinggi,”

“Menurutku asal kita sama orang yang tepat, pasti awet kok,”

Walaupun Nisa bukan cewek berpengalaman dalam hal percintaan ataupun cowok. Entah mengapa RIna lebih suka membagi pikirannya dan berdisksui dengan Nisa. Ia suka cara Nisa menanggapi galauannya. SIkap skeptis dan cederung sarkasnya. Seolah Rina membutuhkan itu. Ketimbang dengan lawan bicara yang mendorongnya selalu berpositive thinking. Atau hanya bisa menghibur dengan kalimat standar, “Sabar ya.. Pasti ada hikmah di balik itu,” Hoam bosan.

“Gue tanya, lo setuju gak dengan guotes lebih baik bersama dengan orang yang mencintaimu, daripada yang kamu cintai,”

“Nope! Gue ga bisa begitu,”

“Lho, kalau keadaan memaksa?”

Seketika Rina teringat akan bacaannya yang mengisahkan seorang wanita yang jatuh hati pada pria lain. Dan mati-matian berusaha mencintai suaminya.

“Gawat, gue mungkin akan jadi seorang istri yang bahkan susah-payah mencoba mencintai suami,”

“Daripada lo sama yang lo puja. Tapi ujungnya dia menghianati lo?”

“Lagipula cinta itu bisa nyusul,” Rina menimpali. Kawannyada benarnya untuk yang satu itu.

bersambung.

Pendamping

Diam kamu!

Kamu kira maaf cukup?

Semua kau umbar!

Dalam larik kata indahmu!

 

Celakanya aku menyimak

Menelan bulat-bulat

SEMUANYA!

 

Dan semua pesan singkat-aneh

Mu, kau anggap apa?

Memintaku bertahan?

Menanti hingga kau hampiri

 

Menanyakan usia-

Keisapanku untuk..

Ah, sudahlah

Aku perempuan tahu

batasan

 

Bertanya harapanku

atas insan yang ingin kudampingi

Seumur hidupku (?)

Seoalh kaulah insan tersebut kelak

Banyak OMONG!

Imaji Kosong

malioboro-yogyakarta-malam-hari

Sudah berapa lembar

Puisi yang kubuat

Sudah berapa liter tinta

yang kutoreh

Sudah berapa hela

napas yang kuhembus

Setiap kali membaca ulang

 

Saat penat merayap

Merengkuh tubuh ringkih ini

Saat bosan menyergap

Benakku yang terperangkap ini

Saat cahayanya hilang

ditelan, di batas garis horizon

 

Pena di tangan kanan

Buku mungil di pangkuan

Dendang lagu di kepala

Menyapa sukma merintih

Minta dirindu

Kangen

Sepertinya, ia, iya

Berharap untuk dirindu

 

Dan kau memaksa

Ku, paham akan jarak

Membuatku

tau makna sepi

Hargai rasa sunyi

Pencipta ruang, pembatas

seperti tengahnya pagi dan sore

Siang

Umpama Jogja dan Bali

Laut.

Kau cipta ruang

Untuk kau bebas

 

Boleh egois–mereguk rindu memuakkan

Tapi, kau pilih cara itu

Ya, sudah..

 

Dan bumi tetap berada

pada porosnya

Aku masih di Jogja

Tak ada yang berubah.

Meski langit lebih muram.

Dan tatkala malam

lebih dingin

 

Kau pergi

membuatku menemukanmu

di sepanjang Malioboro

Di bangku kosong transjogja

Di kerumunan wisatawan

serta pedagang

Pun pada noda teko angkringan

Mataku hanya mencari sosokmu

Continue reading

Kamu Duduk

wpid-20100503_nike_hol10_bmx_0763-960x638-600x600

Kamu duduk

Disitu

5 senti dariku

Rambut habis dicukur

Pangkas habis kanan-kiri

tebal di tengah

Mengalahkan pesona Adipati Dolken

Kamu duduk

Disitu

Kakimu menjuntai bak hordeng

menyapu karpet

Lalu,

Dalam genggamanmu

Kamu sodorkan sebotol, ah, dua.

Aku pilih satu

Kamu tempelkan sebotol

Nutriboost dingin (di pipiku)

yang dinginnya masih terasa

Hingga Kini

Aku Rindu

untitled

 

 

 

 

 

 

 

Abi, aku rindu

Aku rindu obrolan kita di pagi hari

Aku rindu lagu yang kau setel di pagi hari

Aku rindu kau yang menyesap kopi hitam

Aku rindu memeluk pinggang gendut itu

Aku rindu berpangku tangan, di atas sofa menatap luar jendela bersama-sam, melihat tingkah kodok dan capung

Aku rindu kau yang mengecek kamarku di malam hari

Aku rindu deru motormu

Aku rindu suara ketikan pada laptopmu

Aku rindu kau yang marah karena kami kesiangan

Aku rindu humor segarmu saat sarapan–Menawrkan diri untuk mengoles roti

Aku rindu diskusi kita di atas motor saat berangkat bareng

Aku rindu kau yang memutar film rumit kesukaanmu

Aku rindu kau yang duduk manis membaca novel

Aku rindu membaca novel dan buku yang kau sarankan

Aku rindu sarapan lontong sayur di depan pom bensin

Aku rindu menatap ikan di kolam, lalu di sebelahku kau menjatuhkan butiran pelet

Aku rindu melihat kerutan wajah itu

Aku rindu memperhatikan ubanmu

Oh, kau menua ya?

Lalu, apa saja persembahganku untukmu selama ini?

Tidak ada. Maaf, kalau begitu. Aku belum membuatmu bangga.

Maaf, semoga (namun) kau tetap merindukan aku, anakmu.

Ambil Saja

warga-di-china-geger-ada-manusia-bersay-fb5d94

Memang cuma waktu yang sadis

Membolak-balik pasir

Mengubah alur cerita

Seolah seisi bumantara mendukungnya

Dan kemarin dia datang

Mohon izin padaku–untuk mengambil….

 

“Ambil Saja!” Bentakku

Dia berkilah, mengkambing-hitamkan tuhan

“Hanya menjalankan perintah?!”

Seluruh emosiku sempurna terkumpul

di ubun-ubun

Dia bahkan belum sempat

Bilang ambil apa?

“Ambil dia kan??! Dari kehidupanku?”

Aku pura-pura tuli. Persetan .

Belasan nyaris 20 tahun

hanya menanti saat kepergiannya?

Diambil sang waktu?

Sadis.

“Bukan,” Lirihnya.

“Aku ingin mengambilmu, dari pikirannya. Hingga ia hidup tanpa namamu di ingatannya,”

boyangel

Memori dalam Lelap

Taksaka, menuju Jogjakarta.

6191975739_d563023df2_b

Pagi aku mengejar kereta keberangkatan pukul 08:50. Melepas bergalon CO2 untuk terakhir kali di Jakarta. Menghempas beban pada sebuah bangku kereta eksekutif. Berpikir untuk tidak memikirkan apapun. Apalagi sejumput asa yang berserak ketika aku terjaga subuh hari.

Aku dan fantasi indahku tentangnya.

Perlukah kubawa serta?

Dia yang asli tengah bergelut dengan hedonisme dan kehidupan bebas di Kota sejuta turis. Sempatkah ia memimpikanku?

Itu bukan mimpi kemarin siang. Tetapi kenangan yang terputar kembali dalam tidur. Ia yang bersender pada balkon, menggangu diriku yang kepalanya rebah di meja kelas. Ia yang dungu! Dasar dungu! Umpatku waktu itu. Aku maki ia dalam lelap. Wajahnya makin dekat, mnenyeringai ramah. Dan aku melihatnya menangis terkadang. Tertawa, sering. Tersenyum lebar–padaku. Selalu.

Ia di kelas, ia di kantin, ia yang membawa motor supra-x. Ia yang bermain skateboard. Ia yang berlari melintasi koridor. Ia yang tersdandung di tangga, lantas terbaring lemah di UKS. Ia memimpin pleton saat upacara. Ia yang maju ke depan kelas dan disuruh mengangkat satu tangan selama pelajaran. Ia dihukum jalan jongkok. Ia yang, meletakkan kepalanya di mejaku. Menatap lamat wajah tidurku. Ia yang membawakan kenangan. Menawarkan kegembiraan.

11665613_10203272967344951_7253024305191750652_n

Sebuah candu.

Ia yang memakaikan jaket padaku.

Yang aromanya masih teringat.

Membuatku ingin mendekapnya.

Dasinya melayang, beterbangan manakala ia berlari. Topi yang selalu dipakainya. Ia yang mendekati para gadis dengan mudahnya. Dulu, aku tidak termasuk.

Aku cukup sabar menatap dari jauh.

Hingga kini aku sabar menatap delusi serta imajimu yang susah-senang di sana. Mimpi itu terlalu dalam. Hingga aku enggan terbangun. Maafkan aku, terobsesi padamu.

rel-kereta-api