Kamu Duduk

wpid-20100503_nike_hol10_bmx_0763-960x638-600x600

Kamu duduk

Disitu

5 senti dariku

Rambut habis dicukur

Pangkas habis kanan-kiri

tebal di tengah

Mengalahkan pesona Adipati Dolken

Kamu duduk

Disitu

Kakimu menjuntai bak hordeng

menyapu karpet

Lalu,

Dalam genggamanmu

Kamu sodorkan sebotol, ah, dua.

Aku pilih satu

Kamu tempelkan sebotol

Nutriboost dingin (di pipiku)

yang dinginnya masih terasa

Hingga Kini

Advertisements

Ambil Saja

warga-di-china-geger-ada-manusia-bersay-fb5d94

Memang cuma waktu yang sadis

Membolak-balik pasir

Mengubah alur cerita

Seolah seisi bumantara mendukungnya

Dan kemarin dia datang

Mohon izin padaku–untuk mengambil….

 

“Ambil Saja!” Bentakku

Dia berkilah, mengkambing-hitamkan tuhan

“Hanya menjalankan perintah?!”

Seluruh emosiku sempurna terkumpul

di ubun-ubun

Dia bahkan belum sempat

Bilang ambil apa?

“Ambil dia kan??! Dari kehidupanku?”

Aku pura-pura tuli. Persetan .

Belasan nyaris 20 tahun

hanya menanti saat kepergiannya?

Diambil sang waktu?

Sadis.

“Bukan,” Lirihnya.

“Aku ingin mengambilmu, dari pikirannya. Hingga ia hidup tanpa namamu di ingatannya,”

boyangel

Memori dalam Lelap

Taksaka, menuju Jogjakarta.

6191975739_d563023df2_b

Pagi aku mengejar kereta keberangkatan pukul 08:50. Melepas bergalon CO2 untuk terakhir kali di Jakarta. Menghempas beban pada sebuah bangku kereta eksekutif. Berpikir untuk tidak memikirkan apapun. Apalagi sejumput asa yang berserak ketika aku terjaga subuh hari.

Aku dan fantasi indahku tentangnya.

Perlukah kubawa serta?

Dia yang asli tengah bergelut dengan hedonisme dan kehidupan bebas di Kota sejuta turis. Sempatkah ia memimpikanku?

Itu bukan mimpi kemarin siang. Tetapi kenangan yang terputar kembali dalam tidur. Ia yang bersender pada balkon, menggangu diriku yang kepalanya rebah di meja kelas. Ia yang dungu! Dasar dungu! Umpatku waktu itu. Aku maki ia dalam lelap. Wajahnya makin dekat, mnenyeringai ramah. Dan aku melihatnya menangis terkadang. Tertawa, sering. Tersenyum lebar–padaku. Selalu.

Ia di kelas, ia di kantin, ia yang membawa motor supra-x. Ia yang bermain skateboard. Ia yang berlari melintasi koridor. Ia yang tersdandung di tangga, lantas terbaring lemah di UKS. Ia memimpin pleton saat upacara. Ia yang maju ke depan kelas dan disuruh mengangkat satu tangan selama pelajaran. Ia dihukum jalan jongkok. Ia yang, meletakkan kepalanya di mejaku. Menatap lamat wajah tidurku. Ia yang membawakan kenangan. Menawarkan kegembiraan.

11665613_10203272967344951_7253024305191750652_n

Sebuah candu.

Ia yang memakaikan jaket padaku.

Yang aromanya masih teringat.

Membuatku ingin mendekapnya.

Dasinya melayang, beterbangan manakala ia berlari. Topi yang selalu dipakainya. Ia yang mendekati para gadis dengan mudahnya. Dulu, aku tidak termasuk.

Aku cukup sabar menatap dari jauh.

Hingga kini aku sabar menatap delusi serta imajimu yang susah-senang di sana. Mimpi itu terlalu dalam. Hingga aku enggan terbangun. Maafkan aku, terobsesi padamu.

rel-kereta-api