Secret Garden-A Real Secret Resto

img-20161202-wa0056

Menyusuri jalan Martadinata, menyusuri jembatan yang menyebrangi Kali Winongo, kami menikmati senja yang akan segera berakhir sambil berjalan kaki dari jalan Agus Salim sampai ke pasar Serangan. Menyebrangi perempatan Cavinton yang tampak glamour oleh cahaya dari lampu jalan dan tentunya, lampu hotel Cavinton.

img-20161202-wa0055

Sebenarnya tujuan kami kali ini tidak related dengan hotel cavinton. Tapi kurasa tak ada salahnya membahas sedikit kemegahan hotel tersebut—yang disekitarnya banyak musisi jalanan yang baru beres-beres jelang magrib. Kamipun menyebrang ke belokan di depan pasar, dan melipir sepanajng kios yang telah tutup. Akhirnya tibalah kami di pintu masuk. Sebuah restoran dengan konsep party outdoor. Secret Garden. Sesuai namanya, restoran ini beruansa hijau selayaknya sebuah taman. Dan lokasinya sangat rahasia, siapa yang menyangka di balik deretan kios pasar, dan dalam jalanan gelap beraroma tak sedap ini ada tempat seindah Secret Garden. Memang cukup kontras kondisinya, antara gerobak dan warung-warung kelontong atau angkringan  sebrang pintu masuknya Secret Garden, dan nuansa di pintu masuk yang—waw, seolah memasuki dimensi lain!

img-20161202-wa0058

Sebenarnya dari awal aku tahu ada restoran bernama Secret Garden di kawasan ini saja aku sudah terheran-heran. Seperti, hm, entahlah, salah penempatan. It’s not supposed to be here, got it? Karena itulah mungkin disebut SECRET.

Continue reading

Aku Rindu

untitled

 

 

 

 

 

 

 

Abi, aku rindu

Aku rindu obrolan kita di pagi hari

Aku rindu lagu yang kau setel di pagi hari

Aku rindu kau yang menyesap kopi hitam

Aku rindu memeluk pinggang gendut itu

Aku rindu berpangku tangan, di atas sofa menatap luar jendela bersama-sam, melihat tingkah kodok dan capung

Aku rindu kau yang mengecek kamarku di malam hari

Aku rindu deru motormu

Aku rindu suara ketikan pada laptopmu

Aku rindu kau yang marah karena kami kesiangan

Aku rindu humor segarmu saat sarapan–Menawrkan diri untuk mengoles roti

Aku rindu diskusi kita di atas motor saat berangkat bareng

Aku rindu kau yang memutar film rumit kesukaanmu

Aku rindu kau yang duduk manis membaca novel

Aku rindu membaca novel dan buku yang kau sarankan

Aku rindu sarapan lontong sayur di depan pom bensin

Aku rindu menatap ikan di kolam, lalu di sebelahku kau menjatuhkan butiran pelet

Aku rindu melihat kerutan wajah itu

Aku rindu memperhatikan ubanmu

Oh, kau menua ya?

Lalu, apa saja persembahganku untukmu selama ini?

Tidak ada. Maaf, kalau begitu. Aku belum membuatmu bangga.

Maaf, semoga (namun) kau tetap merindukan aku, anakmu.

Marriage?!

gambar-kartun-muslim-muslimah-468x555

Malam makin larut.

Sementara kapasitor-kapasitor dalam otakku makin cepat bekerja.

“Aku gak pengen nikah,”

Celetuk kawan lamaku Aku tidak tahu harus bereaksi apa, namun aku sama sekali tidak kaget atau heran. Angin malam berhembus pelan dan pembicaraan kami mengalir deras seperti aliran sungai untuk arum-jeram.

Sambil menenteng sekantung es teh angkringan depan asrama, aku tergelak mendengar kesungguhan dari cara bicaranya. “Aku heran, Min, kenapa manusia harus nikah? Diperparah dengan perintah agama kita, Sunnatullah, kan. Nikah dapat pahala banyak pulak,” Aku diam. Tidak berniat membalas dengan argumen sebagai opposition team. Hanya ingin menjelaskan–bukan mendebat.

“Dan kenapa pula-,”

“Kita memiliki naluri melanjutkan keturunan?” Potongu cepat. Ia tersenyum mengiyakan.

“Kenapa, Min? Dosakah aku gak nikah?”

Karena aku bukan dari jurusan keagamaan, dan takut asal mengeluarkan statement. aku jelaskan dari sudut pandangku sebagai anak biasa, dengan logika standar,

“Kalo gak gitu, manusia punah, coy!” Ujarku simple.

“ah, biar! Kita udah over-populate kok sebenernya,” Kawanku itu, mengenakan atas mukena menyeruput es teh berkaporitnya.

Continue reading