The Exciting Sunday Morning

IMG_0308[1]

Mungkin setiap kota di Indonesia memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari Minggu. Salah satunya kota Pelajar dan Budaya ini, Yogyakarta. Tidak hanya Jakarta tempat asalku yang punya car free day dan event Sunday Morning. Yogya punya Sunday Morning yang berlokasi di Kampus bekennya, kampus segala mahasiswa di Indonesia. Yang menyediakan tempat bersantai di Minggu pagi. Yap, Universitas Gadjah Mada. Dari pintu masuk dekat gedung vokasi Ekonomika dan Bisnis sampai melewati gerbang FBS UNY. Jalur yang cukup panjang untuk jogging sebenarnya. Mungkin kalau diilustrasikan, di awal jalur Sunday Morning dompetmu masih penuh, tapi begitu keluar yap, tahu sendirilah. Yeah dan ini adalah tulisan kedua tentang mini advanture-ku bersama Aghnia, kalian bisa follow Instagram @aghniarlf

IMG_0274

Jual kerudung aja bisa jadi lucu gini

Namun pagi itu aku dan Aghnia bukan berniat jogging. Misi kami simpel. Ngabisin duit.

Continue reading

Advertisements

Romance Phobic

Menatapnya seperti membuka luka lama. Kelebat bayang putih-biru berlarian lagi melintasi ruang bersuhu dingin ini. Rina sibuk mengemut sendok berisi gumpalan eskrim Mcflury Choco. Tidak peduli hidungnya mengeluarkan cairan dan bersin berulang kali. Ia sengaja berlama-lama disitu, toh di luar hujan turun begitu lebatnya. “Ini yang disebut perayaan patah hati,” lawan bicaranya, Nisa, an old friend duduk di hadapannya.

Juga sibuk menjilati eskrim saus strawberry. Dua gadis remaja tanggung (18 tahun) menghabiskan sore itu di salah satu tempat nongki di Mall Malioboro. Nisa dan Rina bahkan telah saling mengenal sejak taman kanak-kanak. Nisa tahu betul karakter sahabatnya. Rina tidak akan menangis hanya karena masalah sepele. Sepele? Ya.

“Gini deh, gue bingung sama dia. Dia kan udah tau lo dari dulu. Jalan 7 tahun kalian akrab, but, kenapa dia engga..?”

“Itu poinnya!” Rina menyela sambil mengacungkan sendok plastik eskrimnya.

“Dia sangat tahu! Tahu setahu-tahunya. Bahkan soal gue yang..terikat, oh no, tersihir sama dia bertahun-tahun. Dia ga kasih tau gue, karena mau jaga perasaan gue, Nis!”

“Hell yeah! Kalo dia sebaik itu kenapa dia upload foto berdua cewek lain. LEbih sakit kan, lo cuma bisa nerka tanpa dia kasih tau apapun. Dan lo malah tahu dari orang lain. Itu lebih sakit,”

“Mungkin dia kira gue cuma ngira cewek itu temen deketnya,”

“Bullshit!” Diah meletakkan gelas eskrimnya dengan kasar. Sudah satu jam lebih mereka duduk di sudut itu. Dekat dari wastafel. Dan di sisi kanan Rina, dinding kaca sempurna basah di luar oleh air hujan. Mereka bisa menikmati pemandangan-kesibukan Malioboro di bulan Desember. Dan mulai menggigil oleh AC ruangan. Ia memakai sarung tangan hitam yang ia beli di toko aksesoris tak jauh dari sini.

“Seriusan kita gak move on ke mana gitu?” Rina bertanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya yang dingin. “Gue pewe, meski gigil,” Balas sahabatnya nyengir.

Rina melanjutkan jilatannya. Baginya semua makanan di kafe fast food itu bisa mengembalikan moodnya. Atau setidaknya menghibur hatinya.

“Lo gak pernah coba tanya si Natali. Kenapa mereka bisa sampai taken–akhirnya?”

“Natali? Gue rasa dia udah wanti-wanti Natali biar gak jelasin terlalu banyak ke gue,”

“But, lo tau, pacarnya bener-bener bukan tipenya dia! Natali pun mengakui kan, [acar dia sekarang gak cakep. Aneh,”

“Tapi anak kedokteran, woy!”

“Cantikan Natalie, Rin!”

“Love is blind,” Rina sedikit melamun saat menangkis perkataan NIsa. KEnapa terkesan ia membela perbuatan seorang yang sudah menyakitinya? Tapi alangkah menyebalkan urusan perasaan ini. Apalagi bagi gadis lugu sepertinya yang membiarkan perasaan itu tumbuh berkembang hingga mengakar kuat seolah pohon kokoh nan rimbun. Butuh sesuatu yang dahsyat untuk menghancurkannya.

“Asal lo gak philobhobic aja kayak gue,” Nisa dengan gaya acuhnya menyeruput fruit tea dari gelas stereofoam yang mereka pesan untuk menemani lunch dengan fried chicken. Semua yang dikonsumsi mereka saat itu sangat junk food.
“Wait, gue tahu istilah itu..,”

“Phobia akan jatuh cinta,” Nisa menimpali sambil terkekeh. Well, pernyataan NIsa barusan cukup membuat Rina tersedak. “Itu seriusan? Bukan sugesti lo doang?”

“Si Izzah juga lho, Rin. Dia malah hasil test di internet”

“Hmp. tes kayak di facebook kan, dasar itu mah ga valid,”

Lalu diam. sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Lo gak percaya sama cinta. Gitu intinya?” Rina bertanya dengan wajah meledek.

“Bukan. Lebih kayak cinta dalam konteks relation-ship. Gue sempet sampai pada satu kesimpulan bahwa, gak ada satu hubungan yang awet. Pasti akan ada putus. cerai,”

“Stop. Tapi lo liat orangtua kita kan?”

“Ya itu dulu Rin. Sekarang ego masing-masing lebih tinggi,”

“Menurutku asal kita sama orang yang tepat, pasti awet kok,”

Walaupun Nisa bukan cewek berpengalaman dalam hal percintaan ataupun cowok. Entah mengapa RIna lebih suka membagi pikirannya dan berdisksui dengan Nisa. Ia suka cara Nisa menanggapi galauannya. SIkap skeptis dan cederung sarkasnya. Seolah Rina membutuhkan itu. Ketimbang dengan lawan bicara yang mendorongnya selalu berpositive thinking. Atau hanya bisa menghibur dengan kalimat standar, “Sabar ya.. Pasti ada hikmah di balik itu,” Hoam bosan.

“Gue tanya, lo setuju gak dengan guotes lebih baik bersama dengan orang yang mencintaimu, daripada yang kamu cintai,”

“Nope! Gue ga bisa begitu,”

“Lho, kalau keadaan memaksa?”

Seketika Rina teringat akan bacaannya yang mengisahkan seorang wanita yang jatuh hati pada pria lain. Dan mati-matian berusaha mencintai suaminya.

“Gawat, gue mungkin akan jadi seorang istri yang bahkan susah-payah mencoba mencintai suami,”

“Daripada lo sama yang lo puja. Tapi ujungnya dia menghianati lo?”

“Lagipula cinta itu bisa nyusul,” Rina menimpali. Kawannyada benarnya untuk yang satu itu.

bersambung.