Marriage?!

gambar-kartun-muslim-muslimah-468x555

Malam makin larut.

Sementara kapasitor-kapasitor dalam otakku makin cepat bekerja.

“Aku gak pengen nikah,”

Celetuk kawan lamaku Aku tidak tahu harus bereaksi apa, namun aku sama sekali tidak kaget atau heran. Angin malam berhembus pelan dan pembicaraan kami mengalir deras seperti aliran sungai untuk arum-jeram.

Sambil menenteng sekantung es teh angkringan depan asrama, aku tergelak mendengar kesungguhan dari cara bicaranya. “Aku heran, Min, kenapa manusia harus nikah? Diperparah dengan perintah agama kita, Sunnatullah, kan. Nikah dapat pahala banyak pulak,” Aku diam. Tidak berniat membalas dengan argumen sebagai opposition team. Hanya ingin menjelaskan–bukan mendebat.

“Dan kenapa pula-,”

“Kita memiliki naluri melanjutkan keturunan?” Potongu cepat. Ia tersenyum mengiyakan.

“Kenapa, Min? Dosakah aku gak nikah?”

Karena aku bukan dari jurusan keagamaan, dan takut asal mengeluarkan statement. aku jelaskan dari sudut pandangku sebagai anak biasa, dengan logika standar,

“Kalo gak gitu, manusia punah, coy!” Ujarku simple.

“ah, biar! Kita udah over-populate kok sebenernya,” Kawanku itu, mengenakan atas mukena menyeruput es teh berkaporitnya.

Continue reading

Advertisements

An Email for God

Aku bosan. Dia bilang. Dia pikir aku tidak?

“Kita tiga tahun saling memanggil dengan panggilan kasih-sayang. Hubungan kita mengambang. Kita, begini-begini saja. Aku sungguh bosan,”

Oh, ya. Lalu maumu apa?

“Ayo, kita berhenti sejenak. Agar aku bisa lebih merasakan percakapan kita. Agar kita menikmati hubungan ini,”

Mungkin dalam kamus perempuan. Sejenak artinya SELAMANYA. Dan dengan tidak logis aku berasumsi. Kau tiak lagi menyukaiku. Aku membosankan. Bilang saja begitu.

Lalu dia memohon, Maaf. Katanya. “Tdi ada sedikit kesalahan teknis pada laptopku,”

Mungkin. Laptop cuma salah satu pemicu dia mengungkapkan Uneg-unegnya. Biarlah. Pikirku. Aku siap cari penggantinya. Meski rasanya seperti mencabut duri dalam daging–melepasnya sesakit itu.

Aku diam.

Berpikir.

Ia juga. Diam.

Biarkan, jangan tergoda memulai obrolan. Dia sengaja tidak membaca pesanku.  Tak ada balasan. Baiklah. Siap-siap sakit. Aku siap, dia pikir ini akan mengganggu hidupku? Rutinitasku?

Tuhan, Kau lebih tahu. Apa maksudnya? Apa yang ia pikirkan? Lagipula. Adakah kehidupan manusia selain itu?  Lahir. Makan dan tumbuh besar. Memamah biak. Menikah. Kawin. Melahirkan. Oya, Berkembang-biak. Dan mengasuk anak dengan pola serta siklus yang sama PERSIS!

Tuhan,. aku tidak mau itu. Aku bosan. Itu terkesan seperti melecehkan. Kau tau? Hewan Ternak? Apa bedanya manusia dengan mereka? Bahkan kata guru haditsku lebih mulia hewan ketimbang manusia tanpa agama. Jasad atau bagian daging mereka masih bisa dikonsumsi, atau dijual meski mereka mati. Manusia? Habis diulati dalam kubur.

Ya, mirip, bukan? Diberi nafsu untuk makan dan melakukan kegaitan seksual. Membuat mahluk yang sama. Sama hinanya! Lalu tinggal menunggu ajal dan tercampur dengan tanah. Tenggelam, dilupakan zaman.

Lantas Kau beri rasa itu. 

Tertarik–menyukai dan cinta.

Saling berkomitmen, yang sejatinya hanya untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah penduduk bumi. Tinggal tunggu waktu hingga mereka-anak cucu-berebut O2 dengan mahluk hidup lain.

Tapi ayahku selalu memperingatkanku. Kata beliau aku terdoktrin. Bukan, kok. Aku hanya, ya, mencoba melihat dari perspektif lain.”Ya, perspektif orang tak bertuhan. Tanpa prinsip.” Ayahku menyela.

Ya, mungkin saja. Tetapi aku bukan atheis. Belum, baru mau kukatakan, belum mengklaim agnostik. “Kalau kau percayua hidup itu–kita sebagai manusia sama dengan hewan ternak. That’s meant kita yakin hidup itu tidak memiliki arti. Apapun! Hidup tinggal hidup. Mungkin kamu bernapas, eksresi, berkembang biak. Tapi pikiranmu, ada gir di sanma yang karat. Kamu merasa kehidupan begitu hampanya hingga tak ada sesuatu yang nayta untuk kau nikmati. Kau renungkan, dan kau kagumi sebagai ciptaan-Nya. Tidak ada makna. Dan itulah yang ayah sayangkan dari konsep berpikirmu baru-baru ini,”

Ohya, sudah dengar, kan? Aku tunggu jawab-Mu.