Pendamping

Diam kamu!

Kamu kira maaf cukup?

Semua kau umbar!

Dalam larik kata indahmu!

 

Celakanya aku menyimak

Menelan bulat-bulat

SEMUANYA!

 

Dan semua pesan singkat-aneh

Mu, kau anggap apa?

Memintaku bertahan?

Menanti hingga kau hampiri

 

Menanyakan usia-

Keisapanku untuk..

Ah, sudahlah

Aku perempuan tahu

batasan

 

Bertanya harapanku

atas insan yang ingin kudampingi

Seumur hidupku (?)

Seoalh kaulah insan tersebut kelak

Banyak OMONG!

Advertisements

Selamat Tidur

a7fac055af5f0766107b588cb5bf0e3f

Mataku mengerjap sayu

Menuntut istirahat

Namun, syaraf di sini

masih bekerja konstan

Menuntut sebuah

Karya

 

Apa daya, aku tetap terjaga

Mencari serpihan bintang

yang mungkin terjatuh

dari pekatnya angkasa

 

Angkasa yang sama

Bintang yang sama

Kapas tipis putih terapung

yang sama

Sama-sama kita pandang

 

Sekarang? Ya, sekarang

Tentunya kau belum tertidur kan

Maka, kalau begitu

Selamat tidur 🙂

 

Imaji Kosong

malioboro-yogyakarta-malam-hari

Sudah berapa lembar

Puisi yang kubuat

Sudah berapa liter tinta

yang kutoreh

Sudah berapa hela

napas yang kuhembus

Setiap kali membaca ulang

 

Saat penat merayap

Merengkuh tubuh ringkih ini

Saat bosan menyergap

Benakku yang terperangkap ini

Saat cahayanya hilang

ditelan, di batas garis horizon

 

Pena di tangan kanan

Buku mungil di pangkuan

Dendang lagu di kepala

Menyapa sukma merintih

Minta dirindu

Kangen

Sepertinya, ia, iya

Berharap untuk dirindu

 

Dan kau memaksa

Ku, paham akan jarak

Membuatku

tau makna sepi

Hargai rasa sunyi

Pencipta ruang, pembatas

seperti tengahnya pagi dan sore

Siang

Umpama Jogja dan Bali

Laut.

Kau cipta ruang

Untuk kau bebas

 

Boleh egois–mereguk rindu memuakkan

Tapi, kau pilih cara itu

Ya, sudah..

 

Dan bumi tetap berada

pada porosnya

Aku masih di Jogja

Tak ada yang berubah.

Meski langit lebih muram.

Dan tatkala malam

lebih dingin

 

Kau pergi

membuatku menemukanmu

di sepanjang Malioboro

Di bangku kosong transjogja

Di kerumunan wisatawan

serta pedagang

Pun pada noda teko angkringan

Mataku hanya mencari sosokmu

Continue reading

Kamu Duduk

wpid-20100503_nike_hol10_bmx_0763-960x638-600x600

Kamu duduk

Disitu

5 senti dariku

Rambut habis dicukur

Pangkas habis kanan-kiri

tebal di tengah

Mengalahkan pesona Adipati Dolken

Kamu duduk

Disitu

Kakimu menjuntai bak hordeng

menyapu karpet

Lalu,

Dalam genggamanmu

Kamu sodorkan sebotol, ah, dua.

Aku pilih satu

Kamu tempelkan sebotol

Nutriboost dingin (di pipiku)

yang dinginnya masih terasa

Hingga Kini

Aku Rindu

untitled

 

 

 

 

 

 

 

Abi, aku rindu

Aku rindu obrolan kita di pagi hari

Aku rindu lagu yang kau setel di pagi hari

Aku rindu kau yang menyesap kopi hitam

Aku rindu memeluk pinggang gendut itu

Aku rindu berpangku tangan, di atas sofa menatap luar jendela bersama-sam, melihat tingkah kodok dan capung

Aku rindu kau yang mengecek kamarku di malam hari

Aku rindu deru motormu

Aku rindu suara ketikan pada laptopmu

Aku rindu kau yang marah karena kami kesiangan

Aku rindu humor segarmu saat sarapan–Menawrkan diri untuk mengoles roti

Aku rindu diskusi kita di atas motor saat berangkat bareng

Aku rindu kau yang memutar film rumit kesukaanmu

Aku rindu kau yang duduk manis membaca novel

Aku rindu membaca novel dan buku yang kau sarankan

Aku rindu sarapan lontong sayur di depan pom bensin

Aku rindu menatap ikan di kolam, lalu di sebelahku kau menjatuhkan butiran pelet

Aku rindu melihat kerutan wajah itu

Aku rindu memperhatikan ubanmu

Oh, kau menua ya?

Lalu, apa saja persembahganku untukmu selama ini?

Tidak ada. Maaf, kalau begitu. Aku belum membuatmu bangga.

Maaf, semoga (namun) kau tetap merindukan aku, anakmu.

Kabar Jangkar

u23_8931

Kabar baiknya

Jangkar yang kubuang-sauh,

Sedia tambatan lain

Tinggal kesediaanku, ingin menambat atau?

TIDAK.

Jawabku dalam sanubari

Tegasku. Itu tidak setimpal

Jangkarku terlalu kasar, besar dan berat

Kuatkah ia nanti?

Mungkin ia bersedia

Kupatok, kupukul, kubaret.

Tapi~

Aku tak ingin melukai.

Dan kenapa harus muncul di saat

Tambatan di pantai yang biasa setia

Itu hilang, tenggelam perlahan.

Apa memang, ia pengganti?

anchor-graveyard-62

Ambil Saja

warga-di-china-geger-ada-manusia-bersay-fb5d94

Memang cuma waktu yang sadis

Membolak-balik pasir

Mengubah alur cerita

Seolah seisi bumantara mendukungnya

Dan kemarin dia datang

Mohon izin padaku–untuk mengambil….

 

“Ambil Saja!” Bentakku

Dia berkilah, mengkambing-hitamkan tuhan

“Hanya menjalankan perintah?!”

Seluruh emosiku sempurna terkumpul

di ubun-ubun

Dia bahkan belum sempat

Bilang ambil apa?

“Ambil dia kan??! Dari kehidupanku?”

Aku pura-pura tuli. Persetan .

Belasan nyaris 20 tahun

hanya menanti saat kepergiannya?

Diambil sang waktu?

Sadis.

“Bukan,” Lirihnya.

“Aku ingin mengambilmu, dari pikirannya. Hingga ia hidup tanpa namamu di ingatannya,”

boyangel