Dalam Senandung Beo

 

img-20161129-wa0007

Sebenarnya aku berniat menuliskan intro yang lebih bagus. Akan tetapi sulit juga menemukan kata yang pas untuk menggambarkan betapa ramai dan riuh-rendahnya nyanyian maupun cicuwit burung di Pasar Satwa yang baru saja kami kunjungi. Lebih lengkapnya, baca laporan perjalanannya saja ya! Chek it out.

*

*

Pagi ini cuaca sangat mendung sehingga rasanya gravitasi ke kasur lebih kuat dari pada daya yang dikerahkan untuk bangkit. Ditambah hawa dingin dari Air Conditioner kamar 116 yang kami pesan untuk seminggu kedepan ini. Hm, agenda kami hari ini sebetulnya cukup menarik. Ya, kami akan berbuuru batik untuk si Umi yang memang seorang re-seller batik di kediaman kami di Bekasi sana.

Sekitar jam 11:00 setelah benar-benar siap, akhirnya kami mulai menyusuri jalan Ngasem dengan berjalan kaki. Suatu hal yang sangat langka ditemukan di kampung tempat tinggal kami di Bekasi, dimana semua orang telalu mager, sampai ke warung di ujung perempatan rumah saja naik motor. Di sini, di kota Jogja ini aku terbiasa berjalan kaki ke mana-mana. Menaiki transjogja, jogja tempel, atau bus jalur 12 ke arah Sleman.

img-20161130-wa0013

Dan umi harus mengikuti tradisi jalan-kaki kami selama di sini. Padahal di rumah, tinggal mainin touch screen handphone, dan barang akan datang ke rumah. Selain karena ada kurir yang mau disuruh beli ini-itu kesana-kemari, cuaca Bekasi mendukung beliau untuk malas keluar rumah. Hahaha. Dan disini kami jalan kaki kemanapun. Kecuali ke kabupaten atau keluar daerah kota Jogja sekitar 0 km. Yah, paling mentok nyewa taksi.

img-20161130-wa0031

Mom and Fatih baru beli batik

Baru sampai di satu toko batik, Umi merubah rencana. Karena sepertinya ini akan menjadi jalan-jalan untuk si bungsu Fatih, kami sangat mempertimbangkan kepentingan yang berkaitan dengan hasrat anak kecil usia 7 tahun ini. Ya, yang peting sekarang mencoba wisata andhong! Karean Fatih sejak berangkat ke Jogja, telah merengek ingin naik kereta kuda. Harus bin wajib bin kudhu. Dari toko batik Sri Rejeki Ngasem, karena tidak menemukan batik yang cocok, kami berbalik arah. Mampir di dua toko di jalan Agus Salim, sudah mendekati arah Alun-Alun Utara yang saat itu kebak oleh Sekaten. Macet sekali, andhong-andhong tampak lebih banyak yang parkir di situ dari hari biasa. Ditambah lagi ini bukan hari libur, apalagi kalau bukan karena pasar Sekaten itu?

img-20161130-wa0002

Di toko batik terakhir, Umi seperti hampir putuh asa menemukan batik yang warna maupun harganya cocok. Ada batik cap, tulis, printing. Masalahnya batik cap dengan warna biru langit dan pola yang klik, ukuran XL, harganya selangit! Umi sampai bingung kalau mau beli, toh nanti dijual lagi dengan harga berapa? Kalau disini saja harga sudah mencapai setengah juta untuk batik tulis. Ada yang warna biru dan corak batiknya cocok sekali, sayang harganya begitu. Malah akhirnya, si Fatih beli batik baru seharga 35000. Dari sana, tak jauh dari alun-alun, kami segera menaiki andhong setelah Umi berdiskusi (meloby harga) dengan kusirnya.

***

img-20161130-wa0014

Rupanya PASTY, tempat wisata yang menjadi destinasi kami sekarang, berjarak 4 Kilometer! Dan barusan umi coba-coba menawar harga tanpa tahu jarak tempuhnya. Hahaha. Jadilah ini wisata si Fatih! PASTY yang merupakan singkatan dari Pasar Satwa Yogyakarta ini berada di daerah Jalan Bantul.

img-20161129-wa0009

Baru resmi dan ditata ulang sekitar tiga tahun lalu. (Sebelumnya lagi, pasar burung justeru banyak di daerah Ngasem). Fatih riang gembira mengunjungi semua toko burung, reptilia, semua jenis unggas, mamalia seperti kelinci, marmut, hamster, mencit, plus makanan mereka.

img-20161130-wa0010

Untuk kalian yang tidak kuat dengan bau menyengat kotoran unggas, kusarankan menyiapkan diri dengan membawa masker. Aku menjadi korban dari bau mereka, ketika disalah satu toko yang kami kunjungi, berjejer dan bertumpuk kandang burung, akuarium berisi telor semut, sangkar yang berisi belasan tokek bintil merah dan sebaskom jangkrik.

img-20161130-wa0012

Suara burung yang saling menyahut dan aroma kotoran mereka membuat suasana sangat ramai.

img-20161130-wa0016

Bayi burung puyuh :3

Untuk lebih mudahnya, konsep “pasar” ini mungkin… seperti Jatinegara. Oh ya dengan tata letak yang jauh lebih rapih. Dan Pohon yang sangat rindang. Ya, petshop terbuka! Buat kalian yang merupakan penyayang binatang pasti betah berinteraksi berlama-lama dengan penjual disini. Termasuk mantengin ular anakonda yang berjemur dalam kandang besarnya.

img-20161130-wa0029

Kami berputar-putar cukup lama, melihat berbagai jenis ayam. Ayam kalkun, ayam jantan, dan entah aku tak tertarik menghapalnya. Hanya senang memperhatikan suasana tempat. Yang menarik adalah kandang burung kosong yang warna-warni digantung berjejer sangat indah. Enak dilihat.  Dari situ aku paham, rupanya para tukang/penjual burung, reptil itu punya selera estetik yang lumayan 🙂

img-20161129-wa0006

Okey, sekian dulu travelling singkatku hari ini. Salam pecinta satwa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s