Imaji Kosong

malioboro-yogyakarta-malam-hari

Sudah berapa lembar

Puisi yang kubuat

Sudah berapa liter tinta

yang kutoreh

Sudah berapa hela

napas yang kuhembus

Setiap kali membaca ulang

 

Saat penat merayap

Merengkuh tubuh ringkih ini

Saat bosan menyergap

Benakku yang terperangkap ini

Saat cahayanya hilang

ditelan, di batas garis horizon

 

Pena di tangan kanan

Buku mungil di pangkuan

Dendang lagu di kepala

Menyapa sukma merintih

Minta dirindu

Kangen

Sepertinya, ia, iya

Berharap untuk dirindu

 

Dan kau memaksa

Ku, paham akan jarak

Membuatku

tau makna sepi

Hargai rasa sunyi

Pencipta ruang, pembatas

seperti tengahnya pagi dan sore

Siang

Umpama Jogja dan Bali

Laut.

Kau cipta ruang

Untuk kau bebas

 

Boleh egois–mereguk rindu memuakkan

Tapi, kau pilih cara itu

Ya, sudah..

 

Dan bumi tetap berada

pada porosnya

Aku masih di Jogja

Tak ada yang berubah.

Meski langit lebih muram.

Dan tatkala malam

lebih dingin

 

Kau pergi

membuatku menemukanmu

di sepanjang Malioboro

Di bangku kosong transjogja

Di kerumunan wisatawan

serta pedagang

Pun pada noda teko angkringan

Mataku hanya mencari sosokmu

 

beratus-tahun-denyut-malioboro1Kau pergi

Membiarkanku menemukanmu

Di tanggga kusam

gedung TBY.

Di lorong redup museum Benteng

Di depan kantor Pos

Di depan Bank Indonesia

Di.. bawah patung

tepat di titik 0 Jogja

Lesu rautmu

Masih melekat jelas dalam intervalku

Ketika kau terpaksa

Meninggalkanku

Di simpang 4

 

Angin malam menyapa

Setelah kepergianmu

Dan kepulanganku.

Aku masih hidup

Sama.

Dua mata, dua tangan dan kaki

Satu hidung dan mulut

 

Hembusannya mengingatkanku

Pada pertemuan kita

Yang menjebakku dalam

kotak kenangan.

 

Desauannya.

Ah.

Percuma siang malam

Melakukan rutinitasku

Bayangmu yang hancur perlahan

Tersusun kokoh kembali

Di penghujung hari.

Ketika

Lengang menggelayutkan lengannya

di pundakku.

 

Kau–tidak tahu etika

Duduk di ranjangku.

Dengan topi yang sama (dariku)

Kaus dan jeans sama

 

Wujudmu sempurna

Utuh muncul di hadapanku.

Seluruh kesibukanku

seolah sia-sia belaka

Karena pada akhirnya

Hariku hanya tentangmu

 

Payah aku melenyapkanmu

Kau makin nyata.

Merayuku, jatuh dalam dekapmu

menceburkan diri dalam mata tajam itu

Namun, saat aku

Betulan jatuh..

Kau, malah tak ada

 

Kau bisikkan tangis, kugigit bibirku

Omong kosong!

Tadi hanya imajiku atas dirimu

Semu, sakit, pahit.

Tak mungkin kuraih.

 

5 thoughts on “Imaji Kosong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s