Marriage?!

gambar-kartun-muslim-muslimah-468x555

Malam makin larut.

Sementara kapasitor-kapasitor dalam otakku makin cepat bekerja.

“Aku gak pengen nikah,”

Celetuk kawan lamaku Aku tidak tahu harus bereaksi apa, namun aku sama sekali tidak kaget atau heran. Angin malam berhembus pelan dan pembicaraan kami mengalir deras seperti aliran sungai untuk arum-jeram.

Sambil menenteng sekantung es teh angkringan depan asrama, aku tergelak mendengar kesungguhan dari cara bicaranya. “Aku heran, Min, kenapa manusia harus nikah? Diperparah dengan perintah agama kita, Sunnatullah, kan. Nikah dapat pahala banyak pulak,” Aku diam. Tidak berniat membalas dengan argumen sebagai opposition team. Hanya ingin menjelaskan–bukan mendebat.

“Dan kenapa pula-,”

“Kita memiliki naluri melanjutkan keturunan?” Potongu cepat. Ia tersenyum mengiyakan.

“Kenapa, Min? Dosakah aku gak nikah?”

Karena aku bukan dari jurusan keagamaan, dan takut asal mengeluarkan statement. aku jelaskan dari sudut pandangku sebagai anak biasa, dengan logika standar,

“Kalo gak gitu, manusia punah, coy!” Ujarku simple.

“ah, biar! Kita udah over-populate kok sebenernya,” Kawanku itu, mengenakan atas mukena menyeruput es teh berkaporitnya.

Lalu pembahasan kami bercabang, membahas soal baby blues, lalu syndrom para suami pasca memiliki anak pertama. Ya, beberapa ayah baru seperti mengalami turbulensi begitu tahu bahwa mereka telah menjadi AYAH. Dan–kenyataan anak itu akan dimilikinya sampai kapanpun memperburuk perasaan. Bukan 2-6 bulan dia akan memenjadi anakku. Tapi seumur hidupku! Ia tanggung-jawabku!

baby-blues-atasi-baby-blues1

Kira-kira begitulah yang menjalari benak mereka (para Ayah) berdasarkan buku Benjamin Hardly yang baru kubaca.

“Kamu mau nikah?” Kawanku itu bertanya dengan kesan mengharapkan jawaban yang sama sepertinya. Yaitu-tidak. “Iya, aku masih ada perasaan itu,”

“Aku rasa nikah itu awful! Second reasonnya, gak ada juga cowok yang mau sama aku, Min!” Langsung saja aku bisa menebak faktor x atas topik yang dipilihnya malam ini.

Jadi dia tidak percaya diri, mungkin begitu, dan yakin bahwa tidak ada cowok yang pengen sama dia. Lalu akhirnya baru kutemkan penjelasan (sok) ilmiah dan paling mainstream!

“Gini, Pin aku tahu kenapa orang pengen nikah,” Kawan besarku itu segera mengubah posisi duduk untuk menyimakku. “Jika seseorang menyukai atau bahkan mencintai yang lain. Entah itu manusia atau bukan, ia pasti ingin memilikinya,” Diam. Mencerna.

“Misal, aku lagi jalan di sebuah toko. Melihat sebuah laptop beken yang didambakan desainer manapun. Pasti aku jadi kepengen kan. Pengen memiliki laptop itu. Wih bagus! Aku pengen itu! PENGEN! Lalu apalagi selain dengan-menjadikannya milikku. Agar aku yakin laptop itu tidak jatuh ke tangan selain aku. Aku haru membelinya! Agar ia jadi mlikku! Dan terjadilah akad jual-beli. Begitu laptopnya resmi jadi milikku, aku peluk erat, dan ada rasa lega biasanya,”

Kawanku lansung menanggapi.

“Tapi laptop itu cepat/lambat pasti rusak Masa garansi habis, habis manis sepa dibuang!” Ia menepuk tangan sekali kemudian menjetikkan jari. Ya, sepertinya rendah amat jika manusia dianalogikan sebagai benda seperti laptop. “hm, itu bedanya. Barang sama orang!” Kataku masih ingin terdengar logis.

Kalau sudah komitmen kuat, sampai sama-sama rusak pun akan tetap saling memilik. (Dan tiba-tiba terlintas kata-kata cinta tak harus memiliki).

“Tetap saja, aku gak mau nikah!”

“Lo, aku kan gak persuade kamu juga!” Lalu, hening. Sebelum aku nyeteluk.

“Bayangin aja ya, nenek moyangmu punya pikiran kayak kamu gitu. Gak pengen nikah. Gak mau bikin keturunan. Njuk, kamu gak bakal ada sekarang!”

einstein_rosen_bridge_theory_by_tobaal

Hah, paradoks. Ini mirip sekali dengan time-travel di video Agung Hapsah. Dan materi Einstein Rosen Bridge mengenai worm whole.

Dimana dalam artikel itu dijelaskan bahwa, sejatinya manusia tidak dapat mengutak-atik masa lalu. Kecuali dengan menggunakan Einstein blablabla itu, jadi sebenarnya ada dunia paralel yang terjadi dalam waktu bersamaan, misal ada Yasmin lain yang secara bersamaan sedang menjalani kehidupan sama persis dengan Yasmin asli. Maka jika aku membunuh Yasmin, yang mati adalah Yasmin kembaran itu. Sedang aku akan tetap melanjutkan kehidupan seperti semula. Sebenarnya agak kurang logis sih. Tetapi, aku suka saja membaca fakta aneh begitu.

“Kamu tahu gak, Min? Perkara nikah itu kalau mau disamakan dengan akad jual-beli iphone bisa lho!” Aku mendelik menatap kawanku. Heran.

“Ya, misalnya ya, Min. kamu beli i-phone. Biaya yang kamu keluarkan gak mungkin cuma seharga iphonenya itu! Pasti ada biaya tambahan lainnya yang gak kamu harapkan sebelumnya. Kayak misalnya, transfer lagu, kan harus sesama i-phone. Dan kamu musti beli di i-store. ya gak? Terus ya.., ditambah biaya perawatan devicenya. Kurang mahal apa coba? I-phone sendiri dah mahal, tho, sama kayak kamu punya keluarga, kamu bikin anak. Kamu harus nafkahin anak-anakmu. Suamimu harus kasih tempat tinggal, makan, dikasi kebutuhan biologis jugak. Terus belum kebutuhan sekunder kayak jalan-jalan, refreshing. Wah! Nikah itu mahal! Pernikahan itu buang-buang uang!” Kawanku itu, seperti nyari meledak kepalanya menjelaskan dengan berapi-api. Oke ini, baru yang disebut Wathonisme. Apa sih, yang gak makan duit? Jaman sekarang berharap murah?

“And then? Kamu kira dengan engga nikah, uang kita gak keluar gitu?” Aku menangkisnya dengan smash balasanku. Kali ini benar-benar minta didebat dia.

“Hm, gak juga. Tapi ya, Min. Aku pernah sampe nanya ibuku. ibu bahagia gak nikah?”

“Terus ibumu jawab apa?”

bertahan-mencintaimu-itu-melelahkan-baiknya-kusudahi-walau-perih

“Ibu bahagia sih. Gitu. Tapi aku tanya lagi. Ibu bahagia sama keluarga ibu? Sama keluarga yang ibu buat? Sama pernikahan ini? Ibu betul-betul bahagia secara individu? Personal?”

Tiba-tiba saja aku teringat dialog si Rana dengan Ibunya dalam film Dewi Lestari, Kestria, Putri dan Bintang Jatuh. “Akhirnya ibuku diem, Min. Ya, gak tahu deh, nak. Lho, kok gak tau, gak meyakinkan tho? Sama aja gak bahagia!” Begitulah ia menyimpulkan. Dasar.

“Ibu seneng gak, punya anak kayak aku? Bahagia? Aku ini jarang sekolah lo, Bu. Males. Sifatku gak kayak yang ibuk harapkan. Jadi seorang wanita. Tapi malah kecowok-cowokkan. Ibu perhatiin aku orangnya cuek abis, tomboy pula. Aku jadi ibu, mah, sebel,

“EH! Ibuku malah pergi ninggal aku tanpa kasih jawab.”

Iyalah! Siapa yang tidak bosan diberi pertanyaan konyol semacam itu. Minta digampar. Aku hanya menepuk punggung kawanku. Menasihati tanpa menggurui. “Coy, segala sesuatu di dunia ini sudah diatur seimbang. Perempuan dan laki-laki diciptakan berpasangan. Dan itu ada di Al-Qur’an. Kalau kamu merasa pernikahan kayak beli i-phone plus lagunya, coba tanya Allah, pantas gak dianalogikan begitu?”

tumblr_nu5lpwbqa21u5cr2do1_1280

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s