An Email for God

Aku bosan. Dia bilang. Dia pikir aku tidak?

“Kita tiga tahun saling memanggil dengan panggilan kasih-sayang. Hubungan kita mengambang. Kita, begini-begini saja. Aku sungguh bosan,”

Oh, ya. Lalu maumu apa?

“Ayo, kita berhenti sejenak. Agar aku bisa lebih merasakan percakapan kita. Agar kita menikmati hubungan ini,”

Mungkin dalam kamus perempuan. Sejenak artinya SELAMANYA. Dan dengan tidak logis aku berasumsi. Kau tiak lagi menyukaiku. Aku membosankan. Bilang saja begitu.

Lalu dia memohon, Maaf. Katanya. “Tdi ada sedikit kesalahan teknis pada laptopku,”

Mungkin. Laptop cuma salah satu pemicu dia mengungkapkan Uneg-unegnya. Biarlah. Pikirku. Aku siap cari penggantinya. Meski rasanya seperti mencabut duri dalam daging–melepasnya sesakit itu.

Aku diam.

Berpikir.

Ia juga. Diam.

Biarkan, jangan tergoda memulai obrolan. Dia sengaja tidak membaca pesanku.  Tak ada balasan. Baiklah. Siap-siap sakit. Aku siap, dia pikir ini akan mengganggu hidupku? Rutinitasku?

Tuhan, Kau lebih tahu. Apa maksudnya? Apa yang ia pikirkan? Lagipula. Adakah kehidupan manusia selain itu?  Lahir. Makan dan tumbuh besar. Memamah biak. Menikah. Kawin. Melahirkan. Oya, Berkembang-biak. Dan mengasuk anak dengan pola serta siklus yang sama PERSIS!

Tuhan,. aku tidak mau itu. Aku bosan. Itu terkesan seperti melecehkan. Kau tau? Hewan Ternak? Apa bedanya manusia dengan mereka? Bahkan kata guru haditsku lebih mulia hewan ketimbang manusia tanpa agama. Jasad atau bagian daging mereka masih bisa dikonsumsi, atau dijual meski mereka mati. Manusia? Habis diulati dalam kubur.

Ya, mirip, bukan? Diberi nafsu untuk makan dan melakukan kegaitan seksual. Membuat mahluk yang sama. Sama hinanya! Lalu tinggal menunggu ajal dan tercampur dengan tanah. Tenggelam, dilupakan zaman.

Lantas Kau beri rasa itu. 

Tertarik–menyukai dan cinta.

Saling berkomitmen, yang sejatinya hanya untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah penduduk bumi. Tinggal tunggu waktu hingga mereka-anak cucu-berebut O2 dengan mahluk hidup lain.

Tapi ayahku selalu memperingatkanku. Kata beliau aku terdoktrin. Bukan, kok. Aku hanya, ya, mencoba melihat dari perspektif lain.”Ya, perspektif orang tak bertuhan. Tanpa prinsip.” Ayahku menyela.

Ya, mungkin saja. Tetapi aku bukan atheis. Belum, baru mau kukatakan, belum mengklaim agnostik. “Kalau kau percayua hidup itu–kita sebagai manusia sama dengan hewan ternak. That’s meant kita yakin hidup itu tidak memiliki arti. Apapun! Hidup tinggal hidup. Mungkin kamu bernapas, eksresi, berkembang biak. Tapi pikiranmu, ada gir di sanma yang karat. Kamu merasa kehidupan begitu hampanya hingga tak ada sesuatu yang nayta untuk kau nikmati. Kau renungkan, dan kau kagumi sebagai ciptaan-Nya. Tidak ada makna. Dan itulah yang ayah sayangkan dari konsep berpikirmu baru-baru ini,”

Ohya, sudah dengar, kan? Aku tunggu jawab-Mu.

2 thoughts on “An Email for God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s