Abstraksi Layang Untuk

Ini abstrak sekali.

Ketika samudera jiwamu terlihat implisit di mataku. Dan ketika dialog kita semakin mengerucut. Berfokus padaku. Ya memang benar juga, aku egois. Namun, kamu biarkan saja. Seolah menjadi korban keegoiskanku adalah kenikmatan bagimu. Siapa sangka, tidak juga kamu–ketika berjumpa pertama kali denganku–yang tenggelam dalam baju kebesaran. (baru terbersit olehku sekarang, apa dulu kamu menatapku satu mata?) sekarang justeru kamu memujaku layaknya manusia dengan kodrat membutuhkan idola, akulah dewimu. Aku, sosok yang kau banggakan, sekarang dan sampai kapanpun.

Maka alfabet itu meluncur bebas, membentuk sejarah–pemanis ingatan. Kau, aku. Ungkapan apa yang tepat selain waktu yang dapat menghentikannya?

Kamu dulu, kamu sekarang.

Aku dulu, aku sekarang.

 

“Setiap orang berubah,” katamu. Tidak, kamu. Masih sama. Kamu yang urakan, tinggi, pencemas. Memang ada yang berubah. Tapi itu kita. Bukan kamu. Kamu semakin dewasa, matang menghadapi kekanakan yang kubuat-buat.

Daftar riwayat “dewi-dewi”mu banyak. Pelarianmu katamu baru jujur sekarang. Banyak sekali sampai aku membenci mendengar kau dan teman-temanmu mengucapkannya, dan hidupku didominasi oleh kisahmu tentang “mereka”. Aku menghujatmu. Yang hanya tahu converse maupun Peter Says Denim. Kamu pecundang! Di otakmu hanya ada mereka dan “mereka”.

Bahkan prospek pekerjaanmu seabsurd kita. Cita-cita. Kau plin-plan. Ikuti yang terkenal. Hilang oleh zaman. Kamu ganti impianmu. Apa sih bakatmu? Semakin aku benci kekuranganmu, semakin hal itu merebut jatah dalam benakku. Kau tumbuh dewasa dengan porsi banyak disini. Jauh di alam bawah sadarku.

Usia kita melewati 18 tahun.

Kau bukan lagi bocah yang tertawa girang setelah menyembunyikan barangku. Bukan pula bocah yang marah, sok galakl dengan teman yang mengganggu ‘milikmu’. Kau pendiam, sekarang. Mengakui satu demi satu, hal. Membalik kartu-kartu di hadapanku.

Menatap tajam ke arahku.

Memaksaku memejam rapat. Mengingat aksara yang tertoreh pada buku harianku yang tua. Tinggal menunggu waktu hingga ia mengetahuinya. Hingga kita sama-sama menyadari.

Dan, inikah waktu yang dulu kumaksud?

Aku bahkan baru mau pindah dimensi.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s