Inauguration Magangers Batch 8 Kompas MuDA, 30 Juli 2016, Rumah Sarwono, Jakarta Selatan

Ini merupakan last minute preparation untuk semua anggota magangers batch VIII.

yey

Ketika kami akhirnya meluncur menuju Rumah Sarwono di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kami baru hebring menyiapkan pementasan nanti. Aku saja baru tahu bahwa aku akan menjadi narator bersama Hanami dan Tasya. Tasya membroadcast keseluruhan narasi sekaligus dialog teatre kita. Berjudul Sigarlaki dan Simbad. Mengisahkan tentang dua pemuda. Yang satu adalah seorang bangsawan yang hobi berburu dan dimanja. Sementara Simbad karena semasa kecilnya telah tinggal sebatang kara langsung menerima ajakan Sigarlaki sebagai ajudan atau asisten rumah tangganya.

Simbad tidak pernah kesulitan menangani urusan kerumah-tanggaan seperti memasak dan lain sebagainya. Sampai suatu ketika setelah tuannya mengamanahkan untuk memasak daging buruannya dan menjual sisanya ke pasar, Simbad lalai dan meninggalkannya di ruang makan. Dan masuklah seorang maling. Malingnya adalah Hanami pemerannya. Ia harus cekatan keluar dari balik panggung, menitipkan handphone-nya yang berfungsi sebagai alat bantu teks narasi, dan keluar mengenakan sarung berjinjit selayaknya maling. Sedangkan, Simbad si Yobel harus berlagak lugu. Ia beracting mandi di atas panggung sambil meliuk-liukkan tubuh gendutnya. Dan tuannya marah besar. Meminta bukti bahwa bukan Yobel—eh, Simbad pelakunya. Akhirnya mereka pergi ke sungai.

Ardra yang berperan sebagai tuan Sigarlaki menancapkan tongkatnya di atas dasar sungai. Bila yang mengapung adalah tongkat itu duluan artinya memang Simbadlah yang bersalah. Sementara bila sebaliknya, Simbad tidak bersalah. Aku tidak paham filosofinya. Namun mungkin kalian mau iseng mengoogling kisah ini yang berasal dari Sulawesi Utara.

13901493_10205174567723772_2424678551633172167_n

Kami hanya memakai kostum seadanya. Untunglah Ardra telah menyiapkan baju lorengnya dan membawa tas karung sebagai wadah daging. Selesainya kami akan menyanyikan lagu daerah Sulawesi Utara yang berjudul Sayang-sayang Sipatokaan

Sayang sayang si patokaan
Matego tego gorokan sayang
Sayang sayang si patokaan
Matego tego gorokan sayang
Sako mangemo tanah man jauh

Mangemo milei leklako sayang
Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei leklako sayang

Ya begitulah lirik selengkapnya yang harus kami nyanyikan sebagai penutup sambil bergaya. Kami berkumpul di ruang rest room perempuan. aku dan teman-teman maganegrs yang cewek. disana kami ngaso sebentar dan membongkar bawaan dari dalam ransel. kebanyakan telah siap dengan kostum yang sederhana. aku sih no. lalu aku, Yobel, Ardra, Tasya dan Hanami segera berkumpul di tanah lapang berumput di depan pendopo tempat pementasan nantinya. Ada Mas Davi tentor kami yang akan membimbing kami. dan memberi semangat. Latihannya tidak sulit. lagipula ternyata Yobel dan Ardra punya bakat akting yang sangat bagus. Yobel dengan tingkah konyolnya selalu membuat kami terbahak-bahak. yang kami butuhkan tinggal satu.

13907209_10205174804169683_44758304953336742_n

13880310_10205170816109984_2802915118143817548_n

Me with ma t-shirt of Infilism!

Nabil! Si gitaris anak band itu tidak kunjung datang. Dia masih tanda-tanya. tetapi katanya, kabar terakhir Ardra bilang dia akan datang. Bawa gitar listriknya. Katanya sih hari ini dia ada tur manggung entahlah. Dia memang sudah sering manggung di berbagai kampus. Keren ya gengs.

 

Di sana kami dibagikan kaos angkatan. Aku tidak bisa tidak terpesona. Dan bersikap norak ketika menerimanya di tanganku dari Mbak Angel. Keren benar bikinan Hanami! Warna hitam tampak kontras dengan dua garis putih di lengan pendek di kanan-kiri. Untungnya aku pakai blouse polos putih. tambah kece kan. Kamipun mengenakannya untuk pementasan nanti.

“MANTEGOO TEGO GOROKAN SAYANG!”

 

Kami cekatan membentuk satu banjar dan saling bergandengan tangan kemudian menundukkan kepala tanda hormat. Dan mengangkat kedua lengan kami yang saling bergandengan tersebut. Menutup pertunjukan kami.

13680673_10205174803089656_6354093355300372004_n

Foto bareng tentor kami, Mas Davi Magangers Batch 7.

Ketika kami berdebar menanti girilan kami. sekonyong datanglah Nabil dengan rambut botak kanan-kiri, memakai kupluk hitam, jaket kulit hitam, jeans hitam dan menenteng gitar listrik seperti dugaanku. Ia setia memakai kaos Hijau lumut kami waktu itu. Bahkan dia saja belum tahu jalan ceritanya. Langsung mencari pinjaman gitar akustik. Dan menanyakan intro narasi kami. Aku sebagai pembuka segera menyontohkan. Dan, yap, Nabil buru-buru mencari nada yang pas. Lalu tibalah giliran kami maju ke panggung. Sungguhan lho! Ini last minute preparation!

 

***

Hasil tidak mengecewakan kawan! Nabil memainkan gitarnya dengan piawai. sementara Ardra dan Yobel telah berubah menjadi aktor drama kawakan. Aku, Hanami dan Tasya harus pandai memainkan intonasi dan volume suara kami agar mampu membawa para hadirin terhanyut dalam suasan drama kami. Setelah kami tampil masih banyak penampilan dari kelompok pulau lain. Aku paling terkesan jujur saja, oleh kelompok Papua. Lucu sekali dramanya.

al

Alief Brahmarizky dan Ukulelenya. Ngakunya orang PAPUA.

Yang terekam di memori adalah Alief yang muncul sambil berteriak “ULU-LU-LU-LU!!!” sambil menggenjreng dan berlari dengan ukulelenya. Mereka menyanyikan Apuse bersama. Pura-puranya di pantai. Pantas saja si Ola dan Afa menggulung jeansnya sedikit. Kami tiba di penampilan terakhir dan ditutup dengan acara Ishoma. Solat maghrib dan makan-makan tentunya. Aku memilih ikan tuna yang diberi bumbu cair kental asam padeh. wuih! Minumannya juga bukan sembarangan. Tetapi wedang hangat.

Sepanjang kami santap malam, aku mengobrol dengan Tasamu. Ia makan di sebelahku. Sambil memangku kertas mungil berupa stick note. Maganges tahun lalu yang membagikannya. katanya kami harus menuliskan kesan-pesan dan harapan kami. Rata-rata sih, menulis berharap bisa ikut magang lagi tahun depan. Yang benar saja!😄

Aku menulis, pesan agar ditambah kuota magangers tahun 2017 besok. Supaya adikku yang masih kelas 2 SMA sekarang bisa diterima (heh apa sih). Lalu datanglah si Krisnanta. Panggil saja Nanta. Kami mengobrol banyak gara-gara ia penasaran pertama kali mendengar aku bicara bahasa jawa kental di loby tadi pagi. “Heh, kowe cah nengdi tho?” aku segera terpingkal. Aku Jakarta tulen. Meski orangtua dari Magelang dan Padang. Namun aku tidak merasa diriku tampak mewakili keduanya. Malahan betawi banget. Jadi ya kujelaskan, aku bisa bahasa jawa karena sekolah di Jogjakarta. Ia mengaku berasal dari Solo dan Jogjakarta. Wah, pastilah jawanya halus. Bukan gaya Jawa Timur. Nanta bercerita banyak tentang masa kecilnya saat di Jogjakarta. Ia masih hafal sedikit daerah-daerah disana. Dan paham soal bedanya kabupaten dan kota. Ia sangat antusias saat kubilang asramaku dekat dari Malioboro. Lalu kami mulai merembet ke soal pengalaman magang kemarin.

Dan sharing soal kesan-pesan kami. Sekonyong datang si Rifki dari divisi fotografer yang memegangi sepiring puding. Ia bercerita tentang akurasi kata yang kami pelajari waktu materi. Aku ingat saat membahas tentang perbedaan kata Villa dan Vila. Malah di daerah puncak, yang aman adalah Villa dengan L dobel. Bukan yang tulisannya sesuai KBBI.

Justeru yang Vila dengan L satu artinya tempatnya menyediakan selimut tambahan. Rifki yang hobi benar travelling sekaligus hiking mendapat tawaran selimut tambahan permalam. Ya itu bahasa lain dari wanita teman tidur. Aku tidak begitu kaget mendengarnya. “Lo terima tawarannya?” Rifki malah tersedak. “Kagaklah! Gila aja kali. Gue muslim taat!” lalu kami tertawa bersama. Setelah santap malam. kami duduk di barisan penonton. VIP untuk para magangers 2016 batch 8. Sementara di sisi lain ada alumni dan paling depan tentu saja jajaran petinggi Kompas Gramedia.

Untitled

CIVIL WAR! Yobel dan Tassamu!

Seperti biasa sebelum masuk acara inti. Banyak basa-basi dari kakak Mc kita yang berkacamata dan style flamboyan. Dengan cara bicara yang cukup melambai ia meminta disampaikan kesan-pesan oleh ketua kelas angkatan Infilism. Akhirnya Tassamu lagi-lagi maju ke panggung. Semua bersorak seolah tidak bisa memaafkan kejadian pasca kemenangan tiket konser Revival Tour kemarin. “Yak, Tassamu, bisa gak lo sebut temen yang paling berkesan disini siapa. Sebut aja namanya terus kasih tau alasan kenapa. Yang cowok dulu deh,” Ia menunjuk Ardra. Ardra berdiri dan mengacungkan tinju.

“Ardra..Ardra.., lo sendiri gimana?” Si Mc menyorongkan mic.

“Ogah gue jadi temen dia. Dia curang Om!” Semua membully ketua kelas tersayang kami. Memang dasar anak remaja. Itulah ungkapan kasih-sayang kami. Bukanya bercerita tentang kesan-pesan malah curhat soal tiket konser Selena Gomez. Dan yang paling menyebalkan dari semuanya ialah, Tassamu ngupload di Instagram foto tangannya yang memakai penanda atau gelang penonton konser. Menyebalkan gengs. Semua yang merupakan fans berat Selena disini pasti panas.

kemudian perwakilan dari yang lainnya. Yobely Juniarta dari SMAN 2 Jakarta maju ke depan. Kelompok delapan patut banggalah. Yobel menceritakan perasaannya. Sekaligus kekecewaannya. Waduh, apa nih gengs?

“Makanannya besok ditambah. Terutama cemilan sore hari. Kemarin lumayan tuh sempet ada jusnya. Terus kenapa hari-hari ketiga dan seterusnya diganti sama bangku? Gak ada bantal-bantal besarnya lagi?’ Aduhhh my fat pandaa! Dia cuma nyengir dan mata sipitnya makin sipit dan tenggelam dalam pipi gemuknya. Sontak semua terpingkal-pingkal.

“Kalo selain soal bantal dan konsumsi ada gak, Bell?” Kata Mc masih tergeli-geli.

“Yah, intinya gue dapet temen-temen. Dan ilmu yang eksklusif abis. Ga bakal lo nemu materi dan kelas seasyik di magang ini. Temen-temennya juga gila. Ya, lebih gila dari gue. Dan thanks banget buat kegilaan kita sepanjang enam hari kemarin!” Tepuk tangan bergemuruh. Tasamu dan Yobel turun. Kemudian memasuki sesi paling sakral. Momen yang dinanti. Prosesi seperti di acara wisuda. Ketika semua calon alumnus dipanggil namanya untuk menerima penghargaan dari kepala sekolah.

nemteg

Jajaran direksi Kompas Muda telah berdiri di atas panggung. Paling ujung ada Mbak Susie dan Mas Budi Suwarna. Kepala Desk Anak, Muda dan Gaya. Ketika tiba girilanku ke depan, aku segera salim dengan Mbak Susie yang mengalungkan padaku nametag yang kami kembalikan di hari terakhir kemarin. Sekarang nametag ini resmi milikku. Aku telah resmi menjadi magangers tetap! Anggota keluarga besar Harian KOMPAS! Ada yang meletup-letup di dalam. Perasan bangga dan bahagia. Aku pun menerima cindera mata yang tidak main-main. Mulai dari selembar kertas berharga, penghargaan, piagam, ya sertifikat peserta Magang KOMPAS MUDA 13-19 Juli 2016. Alhamdulillah.

13912665_10205183742433134_1984756498181525647_n

Penyerahan sertifikat oleh Pak Budi Suwarna, Kepala Desk Anak, Muda, dan Gaya

Lalu ada jaket ala-ala pemain baseball berwarna biru dongker dengan bordiran KOMPAS di bagian atas kiri. Serta tulisan sambung Infilism. Kurang baik apa Allah?

Kami juga diberi foto atau lukisan karikatur di dalam pigura ukuran A5. Ya ampun! Aku jadi teringat obrolanku dengan Devy. Berapa ratus juta yang habis untuk magangers tahun ini? Kompas memang keren. Lalu yang hampir terlupakan olehku. Yang membuat semua desainer mau berjuang. Penasaran setengah mati.

 

Pengumuman JUARA!

Walau aku sendiri tidak terlalu berharap. Mengingat dari para cowok desainernya sangatlah dahsyat. Aku jadi cukup minder.

“Juara ketigaa… untuk desain dan konten Koran magangers 2016! Dengan skor sekian sekian… adalah…………..,”

Deg

 

Deg

 

Deg

 

“The Juvenile Kelompok kedelapan!!!!”

Aku sontak berdiri kaget. Flo menjerit senang. Nayla cuma diam melongo dan berlari ke arahku. Kami berpelukan. Lalu Yobel bergabung. “Bagi pemenang harap maju kedepan!”

14088635_10205318126352648_5520226734313671667_n

Yobel my fat panda, Flo, Aku, dan Nayla.

Kami menerima sebuah amplop coklat dengan tulisan Juara Terbaik ke-III Koran Magangers 2016. Langsung dari Mas Budi Suwarna! Hatiku semakin meletup. Senang dan puas rasanya. Tidak percuma aku begadang memikirkan konsep koran kami!

grr

Muka melongo melihat pemutaran video kegiatan magang kami.

Lalu juara ketiga dari kelompok Aufa. Aufa si Abang Dongeng. Yang awalnya paling ngaco desainnya ternyata juara. Setelah dikritik habis saat presentasi! Lalu juara satu.

Kelompok Perspicere! Itu desainer Tasya punya! Madeline Tasya dari SMA Santa Ursula BSD memang handal program grafis. Sudah mahir di Adobe Illustratror sementara aku cuma main Corel Draw. Flo yang merupakan schoolmate nya segera menghambur ke Tasya. Mereka berpelukan. Wajarlah. Aku dan Monika juga cepat minta difoto berdua sebagai bukti delegasi Mu’allimaat yang baru dilantik oleh Kompas. Kak Greg Aldy yang mengambil foto. Kemudian ternyata di belakang kami telah berdiri Farhan. Temanku dari desainer pula. Ia sudah memasang wajah isengnya. “WAA! Ada penampakan di belakang!” Monik teriak kaget. “Heheh. Ayolah atuh, foto bertiga!”

Sayang aku lupa bawa kacamata, jadi tidak kompak. Padahal mereka berdua pakai. Kalau aku pakai kan bisa kelihatan trio nerd.  “Ntar kirim-

Kirim whatsapp ya Kak Greg!” Kataku mengingatkan. Soalnya, si Greg ini sering lambat mengirim hasil fotonya. Bisa seabad kemudian baru dikirim. Hmmm.

Sebelum semua bubar bangkit dari tempat duduk, panitia menyuguhkan sebuah pemutaran video kegiatan sepanjang magang enam hari kemarin. Wuah, kece abis! Ada video profile kami yang sudah diupload di Youtube, ada juga kesan-pesan yang salah-satunya ada aku ketika hari terakhir dipanggil syuting.

Baiklah, ajang selfie dimulai. Banyak diantara kami yang berlari ke photobooth. Namun yap, kami ada prosesi melepas balon harapan. Jadi kertas stick note tadi ditempel atau diikatkan ke tali balon gas nitrogen yang akan diterbangkan ke udara. Balon-balon berwarna perak itu kemudian beterbangan membawa pergi tulisan harapan serta kesan-pesan kami.

balun

Menerbangkan Balon Harapan

Aku, Flo, Yobel dan Nayla, kami tim The Juvenlie, Voices of The Youth segera foto bersama sebelum bernafsu merobek bungkus hadiahnya. Apa itu?

“BUKU!” Ada empat buku kompilasi dari terbitan Kompas. Yang dimuat di judul depan adalah karya Ahmad Tohari. Gila, Men! Judulnya adalah “Anak Ini Ingin Mengencingi Jakarta” judul yang sangat bermakna. Tapi kami lebih berfokus pada voucher gramedia yang bernilai 100.000 pernilai. Lumayan aku bisa beli lima komik Conan. Hahaha. Kami langsung mengenakan jaket kece kami dan berfoto-foto. Aku dan kelompok Sigarlaki dan Limbat dari Sulawesi berfoto di photobooth. Kemudian Hanami mengusulkan supaya kami para desainer berfoto diatas panggung photobooth. Ada Aufa, Rizki (yang kupanggil Bernard karena mirip Bernard Bear) Ahan alias Farhan, Alief, aku, Hanami, Ola dan Tasya. Kami bergenap delapan orang. Yeay! Semoga jadi nambah pengetahuan sekaligus relasi ya!

13895033_10205174567643770_9028742905644726932_n

PARA DEADLINERS! Desainer Graphics Magangers Batch 8!

Malam itu sungguh menyenangkan. Walau tubuh terasa lelah, gerah, penat. Tapi namanya anak muda, kalau tidak benar-benar drop ya tetap saja beraktivitas mau itu sampai jam dua dini hari kek. Setelah menununggu hasil fotonya dicetak dengan printer portable. Kami bergegas pulang. Ada yang mengejar kereta, ada yang menunggu gojek maupun gocar. sedangakn aku, Monika dan Afa karena arah pulangnya sejalur akhirnya memesan Uber Taxi. Aku dan Ahan banyak mengobrol soal desain, sekolah dan magang kemarin. Rasanya belum siap berpisah dengan semua gempita ini. Dan kesibukan metropolis seperti ini. Ada Bernard alumni FOR 7 atau ISYF (Indonesia Student Youth Forum) 2015. Ia ternyata kenalannya Gisel teman dekatku di Muallimaat. Dulu rumahnya sempat di Jogja tapi bukan di Kotanya.

13907170_10205174564523692_839741913839470294_n

Diapit Yobel dan Ardra! Simbad dan Sigarlaki.

Dan ternyata, ia berniat masuk Sastra Jawa UGM. Waw! Aku aminin ya Riz. Senang deh, punya teman yang cinta budaya sendiri. Tak heran ia gemar berbincang dengan aku dan Monik. Mungkin menurutnya bisa melatih bahasa jawanya. Yang untuk ukuran bocah Jekerdah ia lumayan medhok lho!

13886238_10205174569043805_7503471450736859260_n

Foto bersama Magangers Batch 8,Kompas MuDA! Semoga genap 36 orang ya!

Menanti Uber Taxi di pinggi jalan raya, kedinginan dan ngantuk. Aku nyaris bobok di trotoar. Ketika Taxi datang yang ternyata sempat terjebak macet di daerah Kalibata. Kamipun pulang dan tidur selama perjalanan. Sampai juma Magangers Batch 8, Infilism! Semoga tahun depan kita bertemu dengan membawa nama universitas masing-masing dan siap menjadi alumni panutan untuk magangers berikutnya! Cheers! Selamat bersekolah kembali!.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s