The Real Reportation! Magangers Batch 8 Day Four

Hari ini murni hanya wawancara dan presentasi dengan narasumber yang telah kami kontak dihari sebelumnya. Pukul sembilan kami berkumpul di ruang rapat kantor Redaksi Kompas. Baiklah, pagi ini kami mendapat sarapan kedua. Aku memutuskan mem buat kopi kali ini. Sambil mecoreti buku sketsaku mencoba merancang konsep untuk logo Koran kelompokku. Semalam terjadi obrolan panjang di grup karena kami memang telah memutuskan melakukan survey kecil-kecilan untuk konten koran kami. Akan ada prosentase berapa banyak konsumen yang senang melakukan pembelian melalui media online.

CnlFRVgVYAInbqf

Aku menyebar ke beberapa grup whatsappku. Dan setelah digabung dengan koresponden dari teman-teman Nayla, Yobel dan Flo kami hanya mendapat sekitar 45 responden yang menurut kami valid untuk dientry datanya. Option yang kami buat sederhana saja.

Apakah anda menyukai berbelanja online?

Barang apa yang biasanya anda beli?

Barulah range usia dan lokasi tempat tinggal. Dan rupanya kami mendapatkan responden yang meliputi seluruh pulau Jawa. Kebanyakan tentu saja anak Mu’allimaat dan Mu’allimin yang kutanyai. Beruntungnya sekolah disini memang temannya bisa seIndonesia. Flo agak kebingungan setiap kudiktekan nama-nama dari teman sekolahku. Pertama banyak menggunakan bahasa arab dan biasanya panjang banget. Karena bingung, Flo menyerahkan padaku untuk mengetik karena takut salah ejaan.

Sekitar jam 10 kami berangkat ke stasiun Palmerah untuk hunting pokeman, nope, gak lucu. Ya kami akan pergi ke tempat narasumber kami. Owner dari White Curate Shoppe. Sebelumnya kami telah melakukan riset di perpustakaan Litbang.  Mengenai perkembangan ekonomi di Indonesia berkaitan dengan adanya online shop.

Ya, I was really excited. Itu pengalaman pertamaku menaiki commuter line. Ya kami menaiki kereta jurusan BSD. Setibanya di BSD kami segera memesan taxi uber menggunakan apps di handphone Yobel. Kami sempat pusing mencari tower A, ruko tempat kediaman Mbak Delly si owner. Ditambah lagi hujan yang cukup deras.

Setelah ketemu, kami berdiri agak lama di depan toko mematut-matut wajah pada pantulan kaca etalase. Ini merupakan request dari Florense agar kami menggunakan penampilan formal tetapi tetap casual dan yang penting sopan. Karena itulah, semua memakai baju putih, hem putih atau kemeja putih. Yang penting formal–dan berkerah. Aku hari itu memakai hijab (yang bahannya mengingatkanku pada taplak meja di ruang makan saat lebaran) warna ungu muda, baju tunik putih Umi dan celana joger ramping hitam. Di dalam kami segera meletakkan bawaan kami di fitting room. Agak lama kami melihat-lihat menunggu sang owner tiba. Beliau wanita yang tak bisa terbilang anak muda lagi. Usia 29 tahun bernama Delly Andriani. Pertama mlihatnya mengingatkan kami pada sadako. Sosok cewek hantu di cerita Jepang.

Beliau meminta pegawainya mengambilkan dua bangku lagi untuk kami. Flo langsung mengeluarkan laptopnya. Dan terjadilah wawancara.

CnlF4ciUIAAgqEX

Mbak Delly rupanya kuliah di Singapura bagian Nanyang Academy of Fine Arts. Jurusan Bachelor of Arts Fashion and Marketing setelah lulus memang mahasiswa disana dijamin pekerjaannya, contoh saja Mbak Delly yang magang di toko butik di bagian kasir. Dua kali pindah magang sampai akhirnya tiba di posisi sebagai Assistant Manager di Christiant Dior. kemudian saat kembali sebentar ke Indonesia, ia mengikuti berbagai pameran butik dari brand-brand terkenal. Disanalah ia mulai mendapat kenalan baru. Dan iseng menonton acara catwalk. Akhirnya Mbak Delly mengikuti lomba di Majalah Femina mendesain fashion. Dan untunglah, ia mendapat 10 finalis terbaik. Lantas ketika di ajang catwalk ia tak memenangkannya. Dan memutuskan berhenti serta kembali ke Christian Dior. akan tetapi panggilan hati dan passionnya mengajaknya kembali ke Indonesia untuk mengembangkan local brand. Akhirnya dibukalah “We Curate Shoppe” dengan tema awal dari desainnya sendiri yaitu “White Collar Concept”. Tetapi ia juga menjaring kenalan-kenalannya yang berbisnis butik dan pakaian-pakaian dengan brand yang telah teruji profesionalitasnya.

CnlGIfTUsAEGk-F

Jadi ia menjual kembali berbagai brand lokal tersebut.

Sempat terpikir membuat pakaian batik dan hijab. Karena mengingat mayoritas warga Indonesia merupakan hijabers tulen. Tetapi karena merasa belum waktunya, dan masih ingin tetap pada target konsumen awal, ia menundanya. Ya, target konsumen  We Curate Shoppe adalah usia 19 tahun hingga 45 tahun. Memang sasarannya adalah para pekerja, wanita karir. Bukan anak muda atau remaja tanggung seperti grup Juvenile ini. Hahah.

Pesan Mbak Delly untuk anak muda sekarang adalah Jangan impulsiv pada satu pekerjaan. Temukan passionmu. Dan kembangkan bakat disitu. Serta love what you do. And also do what you love. Ballance. Jangan takut gagal. Jangan takut mencoba.

***

Sekarang saatnya sesi foto bersama Mbak Delly Andriyani. Aku dn Flo berdiri di kanan kirinya, dibelakang kami ada jejeran tas seharga 3 jutaan dan sepatu hak stiletto 5 cm. Keglamouran ini sejujurnya membuat mataku agak silau. Kemudian Flo diminta jadi model dan diberi kesempatan fitting salah satu prodak andalan Mbak Delly. Ada satu. Yap, baju spandex cokelat muda yang bagian atas dada dan bahunya transparan. Bahannya begitu jatuh menututupi sebagian lutut Flo. Flo juga diminta memakai sepatu stiletto tadi. Wahhh.., anggun sekali.

Sayang sih, gaya Flo yang sangat tomboy tidak bisa disembunyikan.

Kami memesan uber lagi dan segera meluncur ke stasiun untuk mengejar kereta ke Palmerah.

***

Jam menunjukkan pukul setengah empat. Di ruang Redaksi Kompas aku bergegas solat ashar. Sambil menunggu antrian presentasi.

1

Ternyata, lagi-lagi yang lain sangat keren. Flo sampai merasa minder dan mendesah berulang kali. Aku bolak-balik menenangkannya. Kita keren juga kok. Oke, jadi ada yang mewawancara pasukan oranye (tukang sapu PemDa) ada juga pemadam kebakaran. Kemudian street artist. Seorang yang tersembunyi dari liputan media massa, senang mencoreti tembok dengan gambar yang bermutu. Dan membuka semacam sanggar. Yang miris dari sanggar ini yaitu, kapasitasnya. Ruangan 3×4 meter itu harus mampu menampung 14 orang lebih yang mau belajar menggambar dengan Mas Street Artist-nya. Aku lupa namanya siapa. Sebenarnya itu bukan sanggar resmi, jadi pada siang hari ruangan itu berwujud warung kelontong. Tapi sore sampai malamnya adalah tempat kursus menggambar.

Biayanya juga suka-suka. Karena sepertinya Masnya ini iseng saja melakukan ini. Namun lama-lama dia menyeriusinya dengan mencoba memasukkan karyanya ke Pameran. Dan yang membuatku terpekik tertahan adalah kelompok yang liputan disana pergi ke Teater Salihara dan mewawancarai salah satu kurator museum sekaligus seorang seniman kawakan. Seorang kakek. Aku lupa juga namanya.

23

Ada juga yang pergi ke kafe atau restoran kusus vegan. Vegetarian. Yap, disana ada yang namanya burgreen. Waw. burger yang food combining. Sayang sih mahal.

Setelah vegan ada yang meliput restoran kusus mie instant (kontras). Jadi disana yang dipromotkan adalah betapa kafe itu bisa memasak indomie sasetan menjadi sangat enak dan tidak gaya anak kosan. Dibuat persis seperti di iklan. Misalnya mie Iga Penyet ya ada iganya.

4

**

Mungkin sekian saja liputan kami hari ini beserta presentasi dan kritikan dari orang-orang redaksi KOMPAS. Sebentar giliran aku dan teman-temanku dari divisi design graphic yang akan berjibaku merilis alias membuat KORAN dalam fisik nyata. Doakan kami🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s