Enjoy Bibimpop! Korean Café Magangers Batch 8 Day Three

Aku langsung saja ya guys, di hari ketiga yang super seru ini. Kami langsung melakukan kegiatan liputan di lokasi yang telah ditentukan. Yap, sekitar jam Sembilan atau menjelang jam sepuluh. Seluruh magangers berangkat. Aku dan ketiga teman setimku berangkat ke Kuliner Binus yang kami bahkan tidak tahu persis dimana dan bagaimana menuju kesana. Untunglah, ada pendamping (Cuma-Cuma) namanya Greg ia merupakan magangers angkatan tahun sebelumnya. Dari pasar Palmerah kami menaiki Mikrolet jalur 11, bersama kelompok lain yang arah lokasinya sama. Pasar ayam.

Hm, sebenarnya objek liputan kami sangat mudah. Dibanding teman-teman yang mendapat di perempatan slipi. Apa coba objeknya. Kalau pasar ayam kan ya, ayam. Pasar bunga, ya bunga. Kuliner ya makanan. So, setibanya disana, kami langsung berjalan menuju kampus Binus. Sayang sekali disana kantinnya sedang tutup.

13935028_10205214639845550_7645333542112430279_n

Akhirnya, Flo langsung menjalankan plan B. Kami akan mengunjungi kafe di sepanjang jalan. Flo akan mendatangi Kafe khas Thailand dengan Yobel, sementara aku dan Nayla pergi ke Bibimpop. Kafe khas Korea. Ternyata kafe itu ownernya merupakan kontraktor yang sekarang berhuni di dekat Mall Taman Anggrek. Dan beliau merupakan pria usia 41 tahun asli dari Korea Selatan. Bibimpop sendiri merupakan plesetan dari Bimbim Bop. Masakan khas Korea yang terdiri dari mie yang terbuat dari padi, lalu telur, wijen, daging dan japchae. Menu andalannya sendiri disini adalha Bibim Pop dan tobobki. Target konsumennya ya tentu saja mahasiswa. Tobobki merupakan semacam kue beras, biasanya kalau orang Indonesia mengonsumsinya selalu ditambah dengan nasi lagi. Yang keren lagi, disini ada take awaynya loh! Padahal kafe ini terbilang sangat mungil.

13769434_10205114952353425_7023361066124906781_n

Kami juga memesan the boricha, semacam teh ocha. Hanya saja yang ini sedikit lebih manis karena ditambah dengan jagung. Sebelum diberi tambahan jagung, sangat sedikit sekali peminatnya. Desain interior ruangan kafe bibimpop ini juga sangat imut. Di sepanjang dinding banyak terpajang foto pigura suasana Korea dan berbagai foto Oppa. Rata-rata sih actor kawakan atau senior, yang menakjubkan disini bahkan ada satu album EXO.

13718768_10205114952753435_4877862156643291677_n

Lengkap sekali! Katanya salah satu pelanggan menyumbangkan untuk kafe ini. Di meja kasir juga ditempeli berbagai sticknotes aneka warna. Isinya beragam. Mulai dari promote akun Instagram sampai kesan-pesan untuk kafe ini. Biasanya kafe ini paling ramai sekitar jam 13:00 sampai 15:00. Atau malah malam di atas jam tujuh. Karena orang-orang kantoran akan mampir disini. Sungguh sayang sedang tidak ada ownernya. So, kami hanya berbincang dengan Mas Romy, beliau merupakan karyawan lama disini. Telah berkerja disini semenjak toko ini baru berdiri, baru sekitar 6 bulan yang lalu. Ada total 4 pegawai disini.

13718554_10205114951913414_774125268411142553_n

Jadi, dari dulu si kontraktor ini sejak awal memang berniat membuka semacam restoran, mengikuti jejak orangtuanya di Korea sana, kebetulan ia menjadi kontraktor disini, ya, tinggal cari tempat atau lahan yang cocok. Dapatlah disini. Satu porsi bibimpop ini Cuma 32000 dan teh boricha 15000, setelah kenyang dan mendapat informasi yang cukup dari Mas Rio, aku dan Nayla menghampiri Yobel dan Flo di kafe sebelah. Rupanya Yobel memesan cukup banyak menu. Haha, kalau kami sih, menuduhnya, masih-masing menu dipesan satu.

13692618_10205114953433452_7641694380662894633_n

Sebenarnya kami pada mulanya berniat mewawancari pedagang makanan di pinggiran jalan, seperti tukang ketoprak disana, ataupun mie ayam disitu. Tetapi waktu tidak memungkinkan. Padahal kalau kami berhasil mewawancari pedagang pinggiran tersebut misi dan tema Kontras kami dapat tercapai. Yasudahlah. Manut saja sama jadwal.

Jam telah menunjukkan pukul tiga kurang. Dan kami harus bergegas kembali ke kantor. Yah, kami hanya diberi waktu sampai pukul tiga. Dan disana kami langsung mengolah berita dan mempresentasikannya.

Setibanya di ruang diklat, wow! Sungguh fantastik apa yang dibawa oleh kelompok lain. Mereka membawa berita yang tak kalah menarik dari kami. Ada yang malah membawa barang bukti. Hehe, ya, itu mereka yang pergi ke Rawa Belong, pasar bunga. Banyak sekali bunga. Dan si Sofi diberikan satu buket bunga secara Cuma-Cuma oleh seorang penjual.

“Penjualnya naksir sama Sofi kali!” celetukku. Foto-foto mereka juga kece. Wajar sih, mereka semua ada fotografernya. Sementara kelompok kami tidak. Walhasil foto yang kami dapat juga tidak sekeren mereka. Ada lagi yang dari pasar ayam. Mereka sampai menyemprot parfum dimana-mana. Karena jujur saja, wanginya lumayan sedap. Kami meledek mereka kenapa tidak membawa ayam seekorpun. Padahal kan yang dari pasar bunga bawa bunga.

SONY DSC

Mbak Tri dan Nayla sedang berbincang

Yap, usai semua mempresentasikan hasil liputan masing-masing kelompok. Kami pun diajak tour ke perpustakaan LITBANG. Sebuah tempat yang sangat terjaga dari banyak pihak, yang bahkan tidak semua orang Kompas memiliki akses untuk memasuki ruangan tersebut.

SONY DSC

Dua desainer kita yang cantik, Ola dan Tasya

Sebelumnya kami mengunjungi loby LITBANG, kemudian ada pengantar dari seorang mbak-mbak, hm, ntah apa jabatannya. Dan kemudian kami langsung diajak berkeliling melihat koleksi perpustakaan. Sebelumnya yang membuat kami terpana adalah koleksi bundelan koran KOMPAS yang lama. Kertasnya sudah sangat menguning. Di sisi sepanjang dinding, ada lemari seperti brankas yang isinya bundelan majalah. Macam-macam. Mulai dari femina, Hai!, sampai majalah sport, ataupun National Geographic. Aku tak sanggup menahan mulutku untuk tidak menganga.

SONY DSC

Mengamati cetakan jadoel

Baiklah, di perpustakan ini juga tidak main-main. Aku langsung terhenti di deretan buku software grafis dan buku filsafat dari Frederich Nietchze. Ugh, aku berpapasan dengan si Devy yang meminta dijuluki sebagai Juminten (hmmm). Yap kami langsung nyambung obrolan. Sebagai sesama penggemar filsafat barat. Buku-buku disini juga tidak boleh diletakkan ditempatnya semula, tetapi ditaruh di sebuah rak atau meja di tengah ruangan. Dari perpustakaan kami beralih ke ruangan yang lebih kece lagi! Coba tebak!

CnlHFg6UAAA15VH

Yap! Ruangan ini adalah kumpulan semua pegawai deadliners dengan kepala dan asap mengebul imajiner. Keren sekali! Aku langsung berfoto-foto dengan teman-teman. Dan yang paling lama kukunjungi tentunya, bersama desainer lainnya adalah desk tempat mas-mas gondring desainer lain berkumpul. Bahkan, softwarenya saja khusus.

2

Aku dan Rizki sedang mengamati proses kerja Desainr kawakan KOMPAS

Hanya KOMPAS yang mempunyai software itu. Yang langka adalah gaya mereka, komputer mereka diputar 90 derajat agar langsung membentuk portrait. Hm, ini pemandangan yang sangat langka. Di rak sebelah mas-masnya, berjejer buku pocket sampai novel tebal, dan embel-embel lain yang sungguh menarik perhatian. Seperti patung-patung miniature, maupun patung tiruan karakter. Yang lengkap disini apalagi kalau bukan manga atau anime. Dari Conan, Dragonball sampai Naruto. Dasar si Mas. maniak ternyata. Aku dan tasamuh sempat berfoto-foto di sofa di tengah ruangan Direksi Kompas. Pura-puranya kami sedang dalam wawancara seru. Dia yang mewawancaraiku. Monika sebagai fotografer. Itu saja sih. Rasanya kami lupa waktu. Mba susie sampai kewalahan menyuruh kami minggat. Salah siapa. Disini benar-benar cozy. Aku iseng melihat-lihat daftar absen karyawan direksi. Mungkin suatu saat nanti akan ada namaku disana. Amin.

CnfQE4zUMAA4sjy

Mas Diman lagi ngapain, ya?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s