Report of Magangers Batch 8-Day One

13680584_10210198559385052_4187365995848027496_n

Me infront of the Kompas Building

Hari pertama: Pagi ini aku mengawali hari liburku dengan BERGEGAS. Sesuatu yang jarnag terjadi dalam sejarah dunia semenjak aku menginjak usia remaja tanggung. Memang, apalagi yang biasa dilakukan mereka setelah bangun di subuh hari? Selain tertidur kembali? Aku harus siap sebelum pukul 06:00 WIB. Untuk meluncur di atas motor revo terbaru milik Abiku. Kami berdua akan mengarungi kemacetan Jakarta. Yeah! Gotta work!

Sebelumnya aku jelaskan mengapa aku begitu bersemangat pagi ini? Ya aku akan bekerja full day. Seperti Abiku. Memang kamu kira hanya orang dewasa yang bisa bekerja seperti ini? Ya, lagi dan lagi. Kabar gembira, aku diterima lolos seleksi dua tahap untuk magang di salah satu media Nasional yang sangat bergengsi di Indonesia. Yaitu Kompas, di desk Anak, Muda dan Gaya. Aku tahu itu seperti hal yang mustahil, haha, karena sebelumnya aku tidak diterima kabarnya. Tidak ada namaku tercantum dalam Koran Kompas yang terbit kala itu, dan dibaca oleh guru Wali Kelasku di IPS 2 tercinta. Namun tak lama berselang

beberapa hari setelah aku bersedih, haha, Mas Joen yang sekarang telah kukenal cukup akrab, menelponku. Beliau merupakan orang Kompas yang paling pertama dikenal oleh teman-temanku. Karena ya, tugas beliaulah memang menelpon satu demi satu anak yang diterima magang.

Seleksi Penerimaan Wartawan Magang

Wawancara seleksi penerimaan wartawan magang bagi siswa SMA di Desk Muda Kompas di Redaksi Harian Kompas, Jakarta, Senin (20/6). Siswa yang diterima akan magang sebagai wartawan, pewarta foto, dan desain grafis di Harian Kompas pada 13-19 Juli mendatang. Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 20-06-2016

Magang ini akan berlangsung selama enam hari kedepan, itu sudah minus hari Minggu (libur). Dan aku akan berjibaku dengan desain Koran Kompas Muda. Bersama timku nantinya. Yap, aku berangkat bersama Abiku dan didrop di depan sebuah apartemen. Bersebrangan dengan gedung Kompas Gramedia yang kecil. Aku segera menuju apartemen tersebut demi menjemput teman/partner di Lembaga Pers Pelita Mu’allimaat. Ia adalah sumber dari semua ini, Monika Yudhesta, ketua Umum LPPM. ia yang mengajakku mendaftar dalam program Magang ini. Yap. aku sangat berterimakasih karenanya.

***

Kami melangkahkan kaki mantap dengan perasaan prasangka serta gairah bermacam-macam. Di loby telah berjejer belasan anak muda kece, duduk di anak tangga depan ruangan pengisian surat lamaran. Tetapi nampak di antara mereka lebih banyak perempuannya. Aku segera duduk di sebelah seorang kenalan saat interview. Ia memakai kacamata dan berambut lurus pendek. Tubuhnya mungil, wajah ottaku, ih sok tahu, iyap, tapi ia memang sangat keren dalam menggambar manga. Aku segera mengajaknya ngobrol. Masih ingat, namanya Hanami. Sekolah di SMAN 33 Jakarta. Ia diterima sebagai desainer graphic juga! Wah senang bukan bertemu dengan teman dengan minat serta passionnya yang sama. Di sebelahnya ada Tasya, ia juga anak desain. Manis, matanya sipit dan kami segera akrab. Aku melihat Monik langsung memimpin rombongan. Hm, kader Muhammadiyah yang membanggakan. Haha. di antara dari kami harus rela meninggalkan kartu pengenal di meja resepsionis untuk ditukarkan dengan kartu id akses pengunjung.

Kami ntah berapa belas anak jumlahnya, bersama menuju lift dan naik ke lantai 5 dan segera langsung ke ruangan Diklat Kompas. Didampingi oleh seorang…, hm, wanita berkacamata yang gaul, cara bicaranya lucu. Kenalkan, Mbak Angle. Hari pertama kami langsung diajak bermain air di lapangan belakang Kompas. Sebuah lapangan futsal kecil. Begitu tiba di ruang Diklat, woaah. Dimana-mana bantal besar bertebaran. Segera saja kami membentuk dua kubu. Kubu perempuan dan laki-laki. Tentunya dari perempuanlah yang menguasai, dasar minoritas sih, cowoknya.

Kami berkenalan dengan cara kami sendiri. Masing-masing menyebut nama, dan diadakan games, yah, itu inisiatif kami sendiri sih. Tapi cara itu sangat efektif untuk mengakrabkan kami. Ada sekitar 13 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Total memang 36 peserta magang. Kami langsung diminta berganti pakaian dengan kaos hijau yang dibagikan oleh fasilitator. Ada Mbak Susie dan Mas Jun. yey. Itu ternyata yang bernama Mas Jun. ada topi ala tukang mancing dengan tulisan bordir Kompas di depannya. Kami langsung digiring ke lapangan futsal. Di sana, seperti yang bisa kalian bayangkan.

untitled2

Kami berbaris dan hm, melakukan semacam pemanasan. Ada banyak sekali games dan rasanya mungkin kalau kuceritakan mendetail akan menghabiskan tiga-empat halaman sendiri. Ya, pertama kami hanya bermain konsentrasi, lalu membentuk kelompok untuk kemudian melakukan gerakan konyol. Lalu ada permainan mijat-memijat. Hujan rintik, berarti pijat punggung teman didepan dengan jari telunjuk, lalu hujan batu, dipukul, dan hujan deras diremat. Yayaya. Itu agak konyol. Lalu ada kasih-sayang, fasilitato bilang bahwa di sini tidak akan diberi punishment bila tidak mengikuti aturan atau kehilangan konsen. Namun akan diberi kasih-sayang.

Peserta Magang

Sebanyak 36 peserta Magang “Kompas” MuDA yang terpilih dari ratusan pelamar pelajar SMA, mulai mengikuti kegiatan, Rabu (13/7). Selama satu minggu, mereka akan mendapat banyak pengalaman baru di bidang jurnalistik. Perkenalan antarpeserta dimulai dengan team building yang seru dan asyik. Kompas/Susie Berindra (SIE) 13-07-2016

Kasih-sayang apanya. Kami disuruh memoleskan bedak bayi tebal-tebal ke wajah teman disebelah. Hahaha. Dan terakhir permainan paling menyusahkan seluruhnya. Kami gabungan dari empat kelompok harus bersatu demi melawan para fasilitator yang melemparkan kami dengan buntalan plastik berisi air mentah. Beberapa diantara kami harus berkeliling melindungi dua buah lilin yang menyala. Jangan sampai padam apinya! Ya begitulah. Para cowok menjadi tameng bagi perempuan untuk menghalau serbuan air yang tumpah-ruah. Dan kami merasa konyolll sekali. Karena sebelumnya kami sendirilah yang mengisi air sebanyak itu. Karena kami kira awalnya, itu untuk amunisi kami. Dasar fasilitator :p akhirnya kami membuat strategi.

Ya! Kami harus membuat sebuah kerumunan palsu yang berpura-pura melindungi lilin. Padahal tidak ada lilinnya. Ternyata cara ini berhasil mengecoh para fasilitator! Ya! Kami memenangkannya! Kami harus berjalan mengitari lapangan sampai ke ujung satunya. Dan lilin harus tetap menyala.

untitled

HIP HIP HURRAH!

***

Usainya kami berganti pakaian lagi, dan beberapa menyeduh kopi atau teh di meja prasmanan di dekat desk-desk para pegawai. Memang hari pertama cukup membuat kantuk. Karena lebih banyak materi. Dimulai dari Wakil Direktur Pelaksana. Beliau menjelaskan tentang apa itu KOMPAS.

Magang

Magang Kompas/Soelastri Soekirno (TRI) 14-07-2016

Kemudian materi dari seorang fotografer sekaligus wartawan senior Kompas. Ilham Chairi. (Sangat hoby mere-gram postingan kami nantinya) dilanjut ke materi tentang Litbang dari seorang lelaki flamboyan, sekilas aku teringat Dedy Corbuzier melihat potongan wajah dan rambut botaknya. Ia memang parlente hanya tidak kekar seperti Dedy. cukup banyak materi LITBANG yang menarik perhatianku. Lalu dilanjut ke Akurasi Kata. yapyap. Tidak mudah ternyata membuat sebuah berita tanpa cacat setitik pun. Kami jadi tahu bagaimana media berjibaku membuat sebuah infografis. Yang harus terbit jam 11 malam padahal sumber maupun data bersebaran dari mana-mana. Harus diolah menjadi grafis yang bagus dan yap, itu memakan biaya sangat banyak. Karena rupanya tidak semua media massa nasional telah menyediakan bagian Litbang. Untuk membuat kuesioner yang harus dijawab paling tidak 2000 warga jakarta untuk sekedar menjawab pertanyaan mengenai evaluasi pemerintahan Jokowi. Itu saja bisa mencapai milyaran!

Hari itu kami pulang tidak terlalu malam. Syukurlah. Pas saat azan magrib kamipun kembali. Meski masih ada yang kongkow dulu. Aku memutuskan mendatangi Abiku yang telah menjemput di depan kantor Kompas Gramedia. Aku dadah-dadah sebentar dengan rombongan penumpang kereta. Mereka menyebut diri mereka ROKER. NOT rocker musician of course. But, Rombongan Kereta. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bogor, Depok, Tangerang, Sunter dan berbagai tempat lainnya yang dekat dari stasiun Comutter Line. aku jadi penasaran bagaimana rasanya pulang-pergi dengan KRL.

Yah , belum waktunya saja, tapi semoga dalam program Magang ini aku semakin berpengalaman. Terutama dalam menggunakan transportasi umum. Hehe.

Sampai jumpa hari kedua magangers!!

untitled3

YEAY GAMESNYA MENANG!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s