Hukum Kekekalan Energi

Merapi

Merapi

Hari Minggu, 13 Maret 2016 memang merupakan tanggal penting bagi sosok karismatik dan romantis yang kini tengah berjalan terengah di sampingku. Ayah dan anak yang tengah melakukan pendakian tak terencana di hari Minggu yang cerah, terik dan cukup membuat tubuh berkeringat. Pendakian di kawasan Tlogo Puteri lembah yang indah di kawasan Kali Urang.   Sang Ayah memiliki perawakan yang sama-sekali tidak meyakinkan untuk mendaki, sementara anaknya, aku bisa melihat diriku bersemangat tanpa sempat terpikir untuk duduk. Bukan hanya perawakan, baju yang kami kenakan juga tidak mendukung. Si Ayah memakai sandal yang sangat modis dengan kaos distronya. Dan anaknya apalagi, kerudung merah berbahan licin, serta baju batik hitam dan rok jeans, menghambat langkahnya. Sepatu flatshoes yang akan tampak anggun dan cocok bila ia mengenakannya untuk pergi nonton bioskop.

Seharusnya pendakian ini dilakukan berempat, tapi seorang gadis lagi dan Ibu (yan kupanggil dengan sebutan Umi) dari kedua gadis tersebut memilih  berhenti di ketinggian 350 meter dan menunggu di bawah, melambaikan tangan pada aku dan Ayah (tentu aku memanggil beliau Abi) yang terus melanjutkan pendakian.

Kami juga tidak membawa cemilan apapun. “Biasanya kalau mendaki begini Umi selalu siap cokelat,” kenang beliau akan masa kuliahnya. Tidak cokelat tidak juga air putih. Pendakian nekad yang cukup beresiko untuk sang Ayah. Pekerja kantoran yang dua pertiga hidupnya dihabiskan di depan komputer atau duduk di atas motor menikmati kemacetan.  Untunglah tenaga kami telah diisi saat makan siang tadi. Ya, makan siang!

***

Pemandangan Tlogo Putri

Pemandangan Tlogo Putri

Sebelum melakukan pendakian kami makan  siang di warung tenda yang berposisi di tepi tebing. Disekitar warung tenda itu berjejer pula wartung tenda penjaja wajik dan jadah-tempe. Umi memintaku untuk membelinya sambil mengambil beberapa gambar.  Naluri beliau sebagai wisatawan kuliner tidak bisa dielakkan lagi. Bahkan sebelumnya, beliau telah melakukan riset dengan membaca buku Beni & Mice yang edisi Jalan-Jalan Keliling Daerah Istimewa Yogyakarta.

13087577_10204659247721094_5810797675331625605_n

Kemudian Umi menumpuk tempe tersebut di antara dua bulatan jadah. Persis seperti hamburger tradisional😀

Kamipun makan sambil diiringi musik campur sari dari kejauhan, dan pemandangan lepas hutan-pinus yang beberapa pohonnya tampak botak karena erupsi Merapi.  Musik campur-sari berganti dengan lagu Iwan  Fals yang Abi request dari tiga orang pengamen yang berkeliling dari satu warung tenda ke warung lainnya. Kami berdiskusi dan mengomentari banyak hal, mulai dari riwayat ibu pemilik warung ini, tempo suara yang dipilih vokalis—yang menurut kami terlalu dipaksakan—dari  grup kecil pengamen tersebut  hingga gerombolan anak laki-laki yang makan di warung tenda tak jauh dari kami yang penampilannya mengingatkanku pada Fatan dan teman-temannya.

Pengamen pergi dengan perasaan puas (tampaknya) karena berhasil membuat Abi ikut menyenandungkan lagu tersebut dan tersenyum sumringah.

“Suara duanya bagus,” komentarku meledek beliau. Abi Cuma terkekeh.

Lalu datanglah si pelukis. Bukan, lebih tepatnya teman si pelukis yang menawarkan layanan lukis.

“20 menit jadi, lho!” Abi melirikku penuh arti mendengar tawaran tersebut. Maksudnya, melukis lho! Itu kan kesukaanmu. Mulanya aku tidak ingin mengiyakan, aku bisa melukiskan untuk Abi,gratis tanpa bayaran dan akan lebih bermakna karena konteksnya dari ayah untuk anak. Bukannya senang, sesaat aku menjadi sentimen.  Abi seperti bisa membaca pikiranku.

“Kan sekalian belajar dari yang ahlinya,” Abi menyikutku yang diam tidak bereaksi. Aku tersenyum datar.  akhirnya Umi-Abi sepakat mengiyakan tawaran tersebut.  Kemudian datanglah si pelukis mengenakan Beany-Hat dan blus hitam serta celana levis hitam ketat. Ia mengambil foto Abi dengan kamera pocketnya dan langsung menggambar di bangku di luar warung.

“Asli mana Bang?” tanya Ibuku sambil memperhatikan ia terus melukis. Mulai dari kerangka wajah hingga detailnya. Bagian paling asyik adalah saat si pelukis melakukan tehnik drussel –menggosok untuk menciptakan efek bayangan.

“Asli Sumatera, Bu, ”

“Kok bisa ke sini?” maksud Umi kok bisa ke Jogja.

“Ya, isteri saya orang jogja,”

“Wah sama dong sama saya,” timpal Abiku. “Saya Sumatera, isteri saya orang Pekalongan,” si pelukis akhirnya mendongakkan kepala, menyeringai seperti bilang “Oh ya?” ia jadi lebih antusias untuk mengobrol dengan kami. Terlebih saat mengetahui hari ini hari ulang tahun Abi.

Aku memilih diam saja, kalau aku jadi dia, aku mungkin tidak terlalu suka diajak bicara sambil melukis. Ia hebat. Bukan saja talentanya tetapi kepekaannya terhadap sekeliling.  Fokusnya bisa terbagi jadi dua.  Sambil lalu ia menjelaskan teknik-teknik yang sebenarnya aku sudah praktekkan—Cuma gak tau namanya.  Astaga Yasmin, jadilah bijak, seharusnya kamu memanfaatkan momen ini untuk belajar lebih banyak, bukanya tersinggung. Salahmu tidak membuat lukisan itu lebih dulu.

seniman anonim

seniman anonim

Akhirnya aku membuka diri dengan ikut menginterview. Menanyakan lulusan mana si Abang. “ISI, dek,” kekagumanku bertambah. Akhirnya aku melupakan rasa kesalku dengan bertanya mengenai kampus idamanku tersebut. Mungkin boleh dicoba, jalan-jalan sambil cari kerja, dua puluh menit gambar dapat 40.000. haha itu pun kalau kualitas gambarku sudah teruji. Sayangnya aku kalah jauh dibanding si abang.

***

Itulah yang kami lakukan, berdiskusi di warung tenda, mengobrol dengan ibu penjaga warung, bertemu pengamen dan untuk aku, khusus untukku berguru dengan seorang pelukis tak dikenal. (Sayang, lupa menanyakan nama. )

masih semangat

masih semangat

Sebelum kami tertantang untuk mendaki menuju Menara Pandang yang berada di ketinggian 700 meter. Namun di ketinggian 350 meter, dua diantara kami, seperti yang aku sebut tadi—Azka dan Umi—memutuskan tinggal. Tidak ikut naik.

13043675_10204659249801146_1083676104031842621_n

Sedangkan aku dan Abi dengan semangat 45 meneruskan pendakian. Sepanjang perjalanan tadi banyak yang kami temui, dari awal pendakian saja ada sedikit materi biologi tentang menghitung usia pohon dari lingkarannya, memang tadi ada bekas tebangan pohon, seperti sengaja ditebang untuk dudukan. Abi seperti mencoba membangkitkan kenangan Umi semasa kuliah. Di ketinggian 350 meter itu kami dibuat termangu sebentar melihat papan peringatan dengan bahasa Jawa soal pendakian ini, papan tersebut terpancang di samping seorang bapak tua yang menunggui dagangan minuman fresh-drinknya.

Sungguh aku salut dengan beliau, kami yang mendaki tanpa membawa barang saja sudah kelelahan begini, apalagi beliau? Seperti tahu wajah kelelahan kami, beliau melempar pandangan persuasif untuk ikut duduk bersamanya dan tentunya membeli minuman dagangannya.

Tapi kami memutuskan lanjut. Sebotol mizone cukup.

***

take a breath for a while

take a breath for a while

“Abi gak papa?” tanyaku berulang-kali. Aku tahu dulu beliau pernah mendaki lebih jauh dari ini. Jangan kira ayahku yang hampir 24 jam duduk menongkrongi laptop tidak berpengalaman sama-sekali. Tapi pengalaman itu setidaknya sudah terjadi belasan tahun yang lalu. Sekarang sosok kurus jangkung itu telah bertransformasi menjadi–aku tidak mau bilang gemuk—yah pokoknya sangat berisi. (disbanding beberapa bapak lain yang kukenal, Abi tidak terlalu gendut, hehe)  Dan dengan pola hidup sekarang aku tentu cemas beliau tau-tau ambruk.

“Kamu belum ngos-ngosan ya?” Beliau malah balik bertanya. “Sedikit sih,” aku memutuskan duduk di gelondongan kayu. Pasti tumbang karena erupsi merapi. Pemandangannya agak menyedihkan melihat banyak pohon yang meranggas. Terik matahari yang membuat kami kuyub diimbangi dengan hembusan angina dataran tinggi.

“Rasanya sayang, Min kalau berhenti. Tadi sempat mau ikut berenti, tapi.. ah, sayang udah jauh-jauh ke sini. Dulu abi seneng banget dauroh sama temen-temen. Ada kepuasan tersendiri kalau sudah sampai puncak,” aku mengulum senyum capek menyimak penjelasannya. sebenarnya dari tadi ingin mengeluh capek gengsi saja, pikirku, ‘dulu waktu pendakian di Kalimantan yang berkali-lipat lebih jauh aku bisa, masa’ iya di sini  baru sejauh ini saja aku give-up?’

Beberapa kali bapak-bapak lain yang melintas di dekat kami melempar senyum pada Abi dan seperti menyemangati; “Ayo, Pak! Dikit lagi!” abi membalasnya dengan tertawa lebar, “Wah iya, Pak? Ayo lanjut, Min!” padahal kalau dilihat lagi Abi tampak sangat ngos-ngosan, tapi dari tadi tiap ada kesempatan duduk, yang duduk malah aku. Malah sempat moto segala.

“Kalau duduk, pas bangun kerasa capeknya, jadi mending gak usah duduk,”  aku Cuma manggut-manggut.

Kami diam cukup lama, hanya berfokus pada jalan dan mengatur napas. Iseng aku mencari batangan kayu untuk dijadikan tongkat. Tapi begitu Abi yang menggunakannya, langsung saja batang tersebut bergemeretak dan patah.

20160313_134558

“Umi kamu hebat,ya,” Abi asal comot bahan obrolan. “Gak butuh waktu lama lho tadi bisa kenalan sama Nenek yang jualan di warung pas kita makan siang tadi, langsung tahu keluarganya, asal-mula warungnya ada, sampai ke cerita tentang tetangganya yang manfaatin bekas bencana erupsi lalu buat diriin warung makan di tempat rawan begini. Katanya justru setelah itu turis banyak banget yang berdatangan,” Abi menarik napas menggerakkan alis, “Kalau Abi sih, gak bisa tuh, Min, langsung akrab gitu,” aku tidak tahu harus menimpali bagaimana. Cuma berpikir mungkin Abi mirip aku. Aku juga gak bisa langsung akrab—tahu informasi sampai sekecil-kecilnya dari orang baru. Sekedar akrab sih iya, tapi gak hitungan menit juga.

“Aku juga gak bisa, Bi,”

“Loh, abi mikirnya kamu termasuk cepet deket lho,” gak tahu juga, sih. Aku membatin. Untuk beberapa saat aku teringat dengan perkenalanku dengan beberapa teman yang sekarang sangat dekat denganku. kebanyakan mereka yang memulai.

Tak terasa, menara pandang itu mulai tampak pucuknya. Aku tersenyum lega. yang agak mengecewakan onggokan sampah di dekat salah-satu pohonnya. Yahh, beginilah potret orang Indonesia. apalagi pendaki disini, rata-rata sama dengan kami, mereka mungkin tidak merencakan pendakian ini sebelumnya, bahkan ada yang mengenakan kemeja batik licin persis bapak-bapak kondangan.

Menara Pandang

Menara Pandang

Dan anak mudanya, setelah menaiki menara pandang yang terdiri dari dua lantai, mereka malah senderan, merokok seperti tidak menyadari ruangan lantai dua disitu sudah cukup sesak tanpa asap rokok mereka.

tapi lupakanlah anak muda yang tidak tahu tempat itu, hiruplah udara Kali-Urang yang dingin ini, aku tidak tahu apa yang Abi pikirkan tentang dua anak muda tersebut, namun beliau tampaknya sama-sekali tidak terganggu

My Dad enjoy the panorama

My Dad enjoy the panorama

Melihat begiitu banyak pendaki yang rata-rata warga penduduk asli, dengan wajah sawo matang agak kemerah-merahan karena terlalu lama di luar, berdesakan ingin naik. Abi buru-buru menginstruksikan mereka agar gantian dan bersabar.

“Bu.., tempatnya sempit gak bisa naik semua!” Seru Abi dengan wajah bersahabat. aku dengan hati-hati menuruni tangga yang begitu curam dan tampak rapuh untuk kembali ke bawah. Seperti menyadari kekonyolan mereka akhirnya pengunjung Menara Pandang di lantai pertama turun teratur memberi jalan bagi kami dan yang lain untuk turun. Kuprediksi kalau dinaiki lima orang lagi saja, tempat ini mungkin sudah ambruk.

My tiring face

My tiring face

Ketika kami mulai berjalan turun, meninggalkan menara pandang, Abi sempat berkomentar “Tahu gak yang paling menyebalkan dari semua perjalanan ini apa?” Aku diam. menduga Abi akan bicara tentang karakter orang Indonesia–sampah, antrian, tidak sabaran, pendaki sok pecinta alam tapi seringnya meninggalkan jejak sampah plastik–ujungnya mungkin pendidikan karakter. Berbagai hal negatif sudah muncul duluan, namun ternyata bukan itu,

“Abi gak beli power bank, jadinya hasil fotonya kurang bagus. Bagusan kan kalau pake handphone Abi,”

Tiba-tiba saja aku malu sendiri. Bahkan seorang Abi tidak serumit itu. haha. “Kalau aku, sebel sama dua cowok yang senderan deket Abi, aku agak sesek tadi..” ucapku bersungut-sungut.

Abi hanya tertawa, “kamu masih reaktif banget ya. Abi sih udah biasa, mungkin karena dulu abi besar di pasar, lagian mereka terbilangnya masih sopan, kok. Masih manggut tadi,” Lalu diam. Aku baru mau buka mulut saat Abi mulai petuahnya lagi.

“Kamu inget Hukum Kekelan Energi?”

Duh jadi fisika gini.

“Ehm.. inget. Energi tidak bisa hilang atau diciptakan,”

“Ya kira-kira gitu, tapi di semua buku dibalik, Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, dia sudah ada tanpa kita diciptakan, dan tidak bisa kita hilangkan begitu saja, namun bisa kita salurkan,” Abi tersenyum menerawang. masih sambil tertatih memilih pijakan yang tepat. “By the way, turun lebih capek daripada naik,” itu bukan nada mengeluh, lebih seperti menikmati rasa lelah.

“Iya ya, kenapa ya?” aku bergumam.

“Soalnya dengkulnya harus nahan biar badan kita gak bablas guling-guling ke bawah,”

“Ohh.. hahaha,”

Memang, aku merasa salah pijak sedikit saja, atau goyah sedikit dengkulnya pasti kita jatuh tersuruk-suruk. dan, itu lebih melelahkan. Kecuali jalur pendakiannya semulus papan seluncur.

“Kamu tahu apa yang paling bermakna dari pendakian semacam ini?”

Aku diam. tidak terpikir, dari tadi aku yang aku pikirkan rumus hukum kekekalan energi. setengah kali m.. alisku bertaut mencari-cari halaman materi SMP.

“Apa ya..,”

“Kebersamaan, Min. kita gak bisa bersikap mind your own bussiness dengan orang-orang tadi. Pasti kita butuh mereka, saling menyemangati.”

“Kayak bapak yang tadi senyum ke Abi?”

20160313_131325

“Yang mana? Banyak yang senyum,” Abi menyeringai jenaka. Iya, wajah beliau mengundang orang lain untuk melempar senyum padanya. Wajah yang seperti selalu tersenyum. Kalau pinjam istilah Tere-Liye, pria dengan wajah menyenangkan.

“Ketika Abi tersenyum pada orang lain, Abi menyalurkan energi kepada mereka. Mungkin Abi tidak akan mendapat timbal-baliknya secara langsung, namun nanti suatu waktu akan datang kembali ke Abi dengan cara yang gak disangka-sangka, ilustrasinya begini, setelah Abi melempar senyum pada si bapak untuk memberi semangat, Bapak itu akan tersenyum pada orang lain lagi dan begitu seterusnya. Energi itu tersalurkan. Tidak akan musnah,”

Abi menarik napas panjang dan menghembuskannya. Dapat kulihat kepuasan luar-biasa yang terpancar dari wajah beliau. Ya, itulah Abiku. sudah cukup segitu materi hari ini, sebelum kami berjumpa kembali dengan Umi dan Azka yang menanti sambil menikmati eskrim.

Semoga kata-kata itu tidak cuma menyihirku sebentar, namun merasuk ke jiwaku. Dan kalian yang membaca tulisan ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s