Day Three PPSN 2015- Let’s Move in Carnaval!

Day three (2 Juni 2015)

suasana upacara pembukaan

suasana upacara pembukaan

Pagi-pagi usai sarapan, kami berduyun-duyun menuju lapangan utama. Para cowok berkumpul di pinggir jalan aspal di depan lapangan tapak kemah perempuan. Mereka sedikit kebingungan mengenakan jarik parang garuda. Memang tidak sembarangan sih, cara memakainya harus ada aturannya. Gambar garudanya tidak boleh terbalik. Dan harus satu di tengah di bagian belakang pantat.

prajurit gendhewo

prajurit gendhewo

Setelah siap dan gagah menggenggam gendhewo, sementara yang peremp;uan mengenakan celana pramuka, lalu jarik dari pinggang sampai lutut, dan baju batik lengan panjang. Ditambah aksesoris di kepala berupa topi mahkota dari bulu-bulu ayam warna pink. (Sementara itu, aku dan Sembilan orang penari lainnya mengenakan seragam pramuka lengkap dan jarik. Simple kan? ) kamipun berbaris mengikuti upacara pembukaan. Yang ditandai dengan pasangan mascot dari setiap provinsi yang memakai baju adat masing-masing, berjalan memutari tiga tiang bendera.

Our mascot :3

Our mascot :3

Mascot dari D.I.Y ada Kak Hisyam dari M.A Muallimin dan Rahma dari Sunan Pandanaran. Kemudiamn ada penyenandung ternama 1000 senandung yang membawakan lagu-laguan. Liriknya berupa shalawat dan salam dari para santri. Banyak lirik bahasa Indonesia yang dikarang sendiri dan terdengar sangat unik.

Para penyair

Para penyair

Tidak ketinggalan upacara pengibaran bendera PPSN yang kemudian diusul nyanyian Indonesia Raya serta Mars Jayalah Pramuka. Kami juga menyanyikan Hymne Pramuka. Rasanya seluruh tubuhku merinding merasakan syahdunya hingga ke gemuruh dalam dada. Ya, semua syahdu menyimak. Tapi, tentu saja namanya juga remaja. Bagi sebagian besar yang mendapat barisan belakang tentu merasa jenuh sehingga mereka mulai mengeluarkan kamera camera pocket dan smartphone.  Semua tak terkecuali Kontingen D.I.Y berselfie.

Wulan memakai baju Lurik dan aku berseragam pramuka.

Wulan memakai baju Lurik dan aku berseragam pramuka.

Upacara malah menjadi ajang berburu teman baru dari kontingen lain untuk diajak foto bersama. Aku sendiri sangat antusias berfoto dengan penari Bali.

Aku diapit penari bali

Aku diapit penari bali

Ingin sekali rasanya aku berfoto dengan ondel-ondel dari Kontingen Jakarta. Sayang, si abang none lagi dikerubungi banyak orang. Aku jadi kurang pede mendekat, padahal aku pribadi masih sangat kental logat Jakarta. Memang, kontingen Jakarta tampak semarak dank has karena ondel-ondel dan hiasan dari rumbai-rumbai kertas kreb yang membungkus batang lidi. Mengingatkanku pada suasana karnaval Agustusan pada saat aku masih di Bekasi.

ondel-ondel

ondel-ondel

Akhrinya, seluruh kontingen bersiap dalam barisan rapih. Bayu berdiri di barisan cowok paling depan bersama Bagas. Mengenakan seragam pramuka lengkap dan jarik, memegang plang Yogyakarta. Sedangkan aku termasuk dalam 10 penari yang kini mengenakan seragam pramuka lengkap dan menggemblok carrier kopong (isinya terburai berantakan di dalam tenda). Edhan-edhan kami, Kak Sato dan Cahaya memakai kostum lengkap dan tidak beralas kaki. Mereka bertugas mendampingi di kanan-kirinya pemegang banner, Kak Tasya dan Kak Hanin.

Bayu dan Bagas

Bayu dan Bagas

Edhan-edhan memang tampak edhan. Karena sepanjang jalannya parade mereka harus menggerakkan tubuh mereka, menarikan tarian bebas. Di tengah-tengah barisan gendhewo dan barisan official berseragam pramuka lengkap, dua mascot kami, harus sabar melangkah. Gerakan mereka tentunya terbatas mengingat jarik mereka sampai ujung mata kaki. Mascot di sini mendapat posisi paling special. Selalu disediakan air putih dan tissue oleh Kakak Bindamping kami. Yang telaten mengikuti iringan. Jangan sampai mascot kami kehausan atau bedaknya luntur.

Fuad dan Ibi

Fuad dan Ibi

Yogyakarta mulai bergerak maju setelah iringan dari KonDa Jawa tengah. Muthia dan Prastowo, dua official kami bertugas menjadi operator yang menunggu aba-aba dari Kak Tasya untuk menyalakan lagu dari music box yang disambung ke pengeras suara (megaphone).

Setelah tiga kali tepuk yel-yel

“D.I.Y tetap istimewa!”
Prastowo segera menekan tombol ON.

Jogja Jogja tetap istimewa

Istimewa negerinya istimewa orangnya

Jogja Jogja tetap istimewa

Jogja istimewa untuk Indonesia
Rungokno iki GATRA seko
Ngayogyakarta

Negeri paling penak rasane koyo swargo

Ora peduli dunyo dadi neroko

Ning kene tansah edi peni lan mardiko
Tanah lahirkan tahta, TAHTA UNTUK RAKYAT

Di mana rajanya bersemi di Kalbu rakyat

Demikianlah singgasana bermartabat

Berdiri kokoh untuk mengayomi rakyat
Memayu hayuning bawono

Seko jaman perjuangan nganti merdeko

Jogja istimewa bukan hanya daerahnya

Tapi juga karena orang-orangnya
Tambur wis ditabuh, suling wis muni

Holopis kuntul baris ayo dadi siji

Bareng poro prajurit lan senopati

MUKTI utowo mati manunggal kawulo gusti
Menyerang tanpa pasukan

Menang tanpa merendahkan

Kesaktian tanpa ajian

Kekayaan tanpa kemewahan
Tenang bagai ombak gemuruh laksana merapi

Tradisi hidup di tengah modernisasi

Rakyatnya njajah deso milang kori

Nyebarake seni lan budhi pekerti
Elingo kabare Sri Sultan Hamengku Buwono Kaping IX

Sakduwur-duwure sinau kudune dhewe tetep wong jowo

Diumpamake kacang kang ora ninggalke lanjaran marang bumi sing nglairake dewe tansah kelingan
Ing ngarso sung tulodo

Ing madya mangun karso

Tut wuri handayani

Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Sepi ing pamrih rame ing nggawe

Sejarah ning kene wis mbuktikake Jogja istimewa bukan hanya tuk dirinya

Jogja istimewa untuk Indonesia

Yang unik dari D.I.Y ialah, hanya kami yang menyalakan lagu pengiring, dan kami berjalan sambil melakukan gerakan-gerakan tetap. Bagi para prajurit, mereka menggerakkan tangan mereka dengan posisi seolah siap membidik menggunakan gendewo. Ke atas, depan, bawah dan samping. Sementara bagi perempuannya cukup mengeerakan tangan—cuplikan dari tarian Rampak.

Ketika kami lewat, setiap pengendara mobil berhenti dan menurunkan kaca, dari yang sangat antusias merekam hingga sekedar tersenyum sumringah menatap kami.  Bahkan kontingen Jawa Barat ikut bangga menyanyikan lagu Hip-hop Jogja Istimewa kami. Ditambah lagi atribut kami yang lumayan lain dari yang lain. Mulai dari topi PPSN dengan logo Jogja Istimewa di sisi kanan. Serta slayer yang diikat di lengan kanan, slayer cokelat muda bergambar motif batik awan dan logo Jogja terbaru. Wuih, nyeni banget deh. Karnaval rupanya hanya memutari lapangan utama sekali dan berhenti di depan tapak kemah masing-masing. Sementara Konda D.I.Y sendiri mengarah ke aula. Dan di sana kami beristirahat sebelum foto bersama.

Bersama kakak2 dari Kalsel

Bersama kakak2 dari Kalsel

Bahkan saking menarik minat, kami yang sangga putri diminta oleh beberapa putera dari Kalimantan Selatan untuk foto bareng. “Kalian gak usah panas! Gak akan direbut, kok!” kelakar Kak Bahrozi yang melihat para putera heran karena ternyata cowok KalSel itu hanya minta foto bersama sangga puteri. Begitulah, banyak sekali selfie. Kemudian kami melepas kostum dan menyimpannya dalam koper keramat berwarna biru muda. Karnaval yang sangat meriah yang tidak mungkin kami lupakan bahkan dua sampai tiga tahun ke depan

SAM_0927

***

Apa yang membosankan dari PPSN? Ya, apalagi kalau bukan materi. Beruntung, kalau kalian mendapat pemateri yang asyik. Kalau monoton? Pasti tidak sampai setengah jam kalian tertidur. Untungnya aku mendapat materi asyik sore ini. Sebenerany materinya kali itu ialah Kerajinan Bambu, namun, entahlah, pematerinya mendadak tidak dating. Kami malah bermain, ice breaking dan permainan kekompakan. Seru bangetlah! Kak Sujarwo pembimbing kami juga sangat jenaka. Ia mengajarkan seruan “SIAPA KITA?”

Setiap Kak Jarwo berteriak, “SIAPA KITA?!”

Jawabnya, “Pramuka! Indonesia! NKRI! HARGA MATI! PRAMUKA, SIAP!!” kemudian kami duduk-sila-grak. Posisi duduk siap itu dada membusung, badan dan bahu harus ditarik ke belakang. Siang sekitar jam 2-3 memang langit Tambang Laut sangat ganas bersinar. Namun, jam 4, perlahan atmosfer berubah menjadi lebih ramah dan teduh. Rasanya di sini aku pasti menggosong dan wajahku akan tampak seperti memakai topeng cokelat tua, tangan seolah ada sarung tangannya.

Oh sudahlah, itu belum seberapa dibanding dengan pengalaman yang kuperoleh di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s