Day Two PPSN 2015-When The Tent Got Ready

lets build the tent!

ayo dirikan gapura!

Aku sibuk mengantri kamar mandi.

Bisa kalian bayangkan?

Sekitar dua puluhan toilet darurat untuk 3000 lebih peserta puteri! Dan biar kujelaskan kondisi toiletnya. Yang kita sebut darurat karena hanya dibuat lubang-saluran air di tanah becek, kemudian dipasangi wc porselen. Rasanya kombinasinya sangat aneh ada WC porselen di atas tanah belok. Kemudian dindingnya dari terpal biru dan untuk mengunci pintu kita harus mengaitkan karet ban tipis yang dipasang dan berfungsi sebagai pengganti gagang pintu.

tenda dome

tenda dome

Dan kalian harus sangat berhati-hati dalam menapakkan kaki di tanah oranye berlumpur itu. Pagi pertama pun kami terpaksa menggunakan kanebo untuk mempersingkat waktu. Hari pertama kami subuk mendirikan tenda dapur serta gapura. Setiap daerah memasang gapura sesuai kekhasan daerah masing-masing. Kami memang telah menyiapkan spanduk baliho bergambar foto plengkung gadhing, gerbang Kauman dan Keraton sebagai kekhasan D.I.Y. pagi pertama kami sarapan nasi bungkus di tenda dapur.

Kak Destry dan Kak Eka memasak makan siang

Kak Destry dan Kak Eka memasak makan siang

Akhirnya pada siang hari kami menyantap masakan sendiri yang porsinya kami lebihkan untuk para cowok yang telah membantu kami mendidirkan gapura. Bahkan mereka minta dibuatkan susu jahe. Yang membuatku terpaksa mengenakan mantel untuk menggotong-gotong ember mengambil air untuk dimasak. Memang, siang itu langit Pelaihari sangat mendung, gerimispun turun. Anak-anak laki-laki hujan-hujanan mendirikan gapura. Setelah gapura berhasil didirikan, aku dan Kak Eka teman sesanggaku menggali parit dan selokan kecil karena teras tenda kami kebanjiran. Silmi dan lainnya mendirikan pagar tapi hujan kembali turun.

Destry dan nasi yang baru jadi :p

Destry dan nasi yang baru jadi :p

Ohya, mengambil air atau segala urusan yang beruhubungan dengan WC dan toilet merupakan perjuangan juga di sini, kami harus jalan sekitar tujuh meter untuk mengambil air di tandon dan kembali ke tenda sambil menenteng ember berat penuh air.

Malamnya kami dikumpulkan di lapangan utama. Sebagai simbol malam pembukaan. Malam itu, sebelum kembali ke tenda masing-masing kami diingatkan oleh Kak Miska, pendamping kami untuk menyiapkan jarik serta kostum untuk yang putera yang bertugas menjadi prajurit pemegang gendhewo.

Malam pembukaan berlangsung sangat istimewa, dan meriah, setiap provinsi atau kontingen diabsen namanya, semua bangga menyemarakkan dengan yel-yel tiap daerah. Daerah Istimewa Yogyakarta sungguh gempita mengumandangkan yel-yel. Malam itu sementara kontingen lain telah pulang ke tenda, D.I.Y masih berkumpul di lapangan. Pimkonda kami mengingatkan kami agar jangan memaksakan diri. Bila ada yang tidak enak badan, harus segera lapor, jangan sok kuat.

Ya allah, jagalah kesehatan kami selama mengikuti Kemah Nusantara ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Agar kami dapat dengan lancar mengikuti segudang aktivitas.

Foto-foto #Daytwo:

suasana tapak kemah.. haha berhasil bikin rak sepatu dari tongkat

suasana tapak kemah.. haha berhasil bikin rak sepatu dari tongkat

telur mata sapi.. hmm

telur mata sapi.. hmm

SAM_0872

SAM_0870

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s