Forget The Past, Get Something Today

A Real Traveller :')

A Real Traveller :’)

Yogyakarta, dengan segala keunikannya. Aku masih kadang terfikir kenapa aku bisa sampai terdampar di kota pelajar dan 1001 kost-kosan ini. Seiring waktu berlalu aku tidak lagi terlalu memikirkannya. Siapa yang menyangka aku yang dulu anak rumahan kini harus bisa pergi ke jauh kemana-mana sendiri tanpa orangtua. Boleh dibilang frekuensi “melancong”ku meningkat di Yogya ketimbang di Bekasi. Di Bekasi Abiku pasti melarangku. Kalaupun beliau mengizinkan itupun dengan berbagai syarat, yang masuk di akal sebenarnya demi keselamatan diriku. Tapi ketika ada waktu-waktu aku sendiri, aku gunakan untuk merenung. Kebiasaan lamaku yang hampir tak bisa kulakukan semenjak tinggal di asrama yang tak pernah sepi. Dan selalu ramai bersama teman-teman. Aku juga penasaran maksud Tuhan merubah haluan hidupku seperti ini apa? Dulu kan aku berharap sekolah home schooling selama 3 tahun dan tidak akan terpisah dari laptop+software grafis serta jaringan internet di rumah. Lhoh kenapa tiba-tiba terpental jauh ke sini? dengan orang-orang yang tak kukenal sama-sekali.

****

Iya aku lelah bertanya sampai akhirnya aku memutuskan menjalaninya. Tapi pikiran kritisku terus mendesak, ditambah lagi dengan berbagai kendala yang tak memungkinkan aku berkembang bersama gadget-gadget yang sudah menjadi bagian hidup, contoh spesifik saja. Aku sangat senang bermain corel draw sampai pernah memenangkan lomba karena passionku yang satu ini. Dan aku mau continue, akan tetapi di asrama ini mana bisa aku bebas. Kapanpun aku mau aku bisa langsung men-tracing hasil karyaku. Banyak sekali gagasan yang cuma menumpuk basi di otak. Karena kendala yang ada.

Dan itu membuatku frustasi. Sampai semalam aku tidak tahan lagi. Dengan emosi labil maksimal aku terduduk diam di ranjangku. Masih mengenakan mukena usai sholat. Frustasiku sudah mencapai puncaknya. Buku-buku bacaanku tak banyak membantuku mengusir semua itu. Apalagi aku teringat dialogku dengan Abiku tentang buku Paul Coelho “The Pilgrimage”. Abi tidak menyarankan agar aku membacanya.

Ya, kalau tidak salah isinya tentang seorang dalam pencarian pedangnya. Sampai di satu titik orang itu berhenti mencari pedangnya, untuk merenungkan “Sebenarnya mengapa aku harus memiliki pedang itu?” Mungkin bagi kalian yang sudah pernah membaca buku Paul Coelho pasti lebih paham dariku. Aku duduk terdiam memandangi foto-foto teman-temanku. Fotoku saat perpisahan bersama teman-teman SMP, foto ketika wisuda bersama 4 tim Anonymus, foto saat snorkling di pantai Tidung, foto di kelas, foto ketika masih mengenakan jas OSIS.

Air mataku tak tertahankan lagi. Astaga, apakah mereka bertanya-tanya ke mana perginya aku? Kemanakah ketua bidang Pendidikan di OSIS, kemankah si ketua kelas jutek itu? Kemanakah si kutubuku yang sering ikut perlombaan di sekolah? Ke manakah si rangking satu di sekolah? Mengapa dengan begitu banyak prestasi yang ditinggalkan untuk sekolah, anak itu malah tak pernah muncul ketika reuni? Pernahkah mereka bertanya? YA.

Aku masih ada mata-mata di SMPku. Adikku penerus di sana, ia sama-sama berprestasi bahkan menjadi ketua OSIS periode 2014-2015. Kapankah aku bisa bertemu mereka, tanpa dirundungi rasa takut akan pertanyaan yang mungkin dilontarkan? nanti ketika sudah lulus sekolah. Dan itu lama sekali. Aku ingin mengusir kesan melarikan diri. Enak saja aku sekolah di Jogja ini karena melarikan diri. Bibirku bergemetaran karena menahan tangis dan sesak. Sambil sesenggukan seperti orang keserupan aku menggerung-gerung dan tanganku bergerak perlahan, mencopoti semua foto-foto yang kupasang.

Aku ingat ketika aku membeli kertas kado untuk menghias tembokku dengan foto-foto kenangan ini. Di salah satu foto, ya foto bersama di kelas setelah memenangkan lomba Mading, aku merematnya sekeras mungkin sampai lecak dan robek. Semula aku masih berhati-hati tapi tanganku tergerak untuk mencabik-cabik semua foto. Teman-temanku yang tadinya sibuk sendiri menghampiriku. Syifa bahkan ikut menangis, tapi yang paling menggetarkan adalah petuah dari Mia. Temanku dari Nusa Tenggara Barat.

Lupakan saja mereka, Min! Akhirnya kamu selalu menengok ke belakang. Kamu lupa, kamu tinggal di sini, bareng kita! Di asrama ini, lebih baik saranku kamu copot semua fotonya, buang! Bakar kalau perlu. Kalau itu malah membuatmu mundur. Jangan pernah memendam sesuatu. Kamu bisa berbagi ke kami. Itu gunanya teman! Teman-temanmu itu mungkin cuma tau senangnya aja!”

Astaga, benar foto inilah yang selalu memicu frustasiku. Foto inilah yang selalu meresahkanku. Aku lebih baik membuangnya. Aku tidak peduli lagi. Ya, memangnya teman-temanku itu dulu peduli? Mereka mungkin hanya tau gengsi. Walau aku tidak boleh suuzon, untuk antisipasi. Ya, anugerah terbesar bukanlah kebebasan menggunakan fasilitas gadget, namun teman sejatilah yang tidak pernah lekang oleh waktu. Yang bahkan mungkin punya nasihat yang lebih bijak ketimbang orangtuaku. Syukurlah usai momen dramatis tadi telfon berdering dan itu dari Abi. Aku nyaris menangis lagi mendengar suara Abi. Astaga aku rindu sekali diskusi-diskusi kami di pagi hari. Aku rindu sekali mendengar dendang lagu Ebiet, Fariz RM, Phil Collins yang disetel di laptop setiap pagi di hari minggu. Aku rindu sekali ya allah…

***

Esoknya mataku bengkak dan aku mendempulnya habis-habisan sebelum berangkat sekolah <:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s