Murid itu Guru, Guru itu Murid

“AH KUNO! Apa yang salah dengan bicara seperti dengan teman sendiri. Bukankah malah mempererat tali silaturahmi antara guru dan murid? Jadi tidak seperti jaman dulu yang kuno dan katrok. Murid jadi lebih nyaman belajar kan?”

***

Aku punya cerita, tentang seorang remaja usia 14 tahun. Ia baru saja terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya yang sangat ia sayangi. Ia juga tampan, tinggi, digemari banyak perempuan dan pandai hampir dalam segala hal. Olahraga maupun akademik. Kecuali mungkin kesenian. Ia sangat lemah dalam menggambar, membuat prakarya dan sebagainya. Namun ia cukup handal dalam jurnalistik. Karena itulah ia masuk ke ekskul jurnalistik. WALAUPUN sebenarnya pada awalnya ia memilih computer skill, hanya saja ia tidak lolos maka dilemparlah ia ke Jurnalistik. Kalau sering kita sebut juga pers.

Sejak sebelum menjadi ketua OSIS pun ia sudah menjadi anggota Pers. Begitu naik ke kelas 2, ia menjadi ketua. Mulai dari ketua di ekskul Per situ sendiri, sampai setiap acara, ketua sie. Dokumentasi adalah dia, dia lagi, dia lagi. Walaupun banyak kejadian kurang mengenakkan karena si guru atau penanggung jawab ekskul tersebut masih amatir, anak muda ini masih bertahan. Karena ia mulai mencintai pers. Ia membeli kamera Canon DSLR untuk mendalami teknik fotografi. Dan memang, sejak lama ia bercita-cita menjadi fotografer, entah kenapa dulu memilih computer skill, mungkin karena ia melongok ke atas—dari si ayah yang sangat jago komputasi plus menjabat sebagai ketua TI di sebuah rumah sakit ternama.

Maka, suatu ketika terjadi ketidak adilan, itu biasa bukan? Dunia memang tidak adil, kan? Bahkan seorang remaja harus berlatih ditidak-adili untuk dunia kerja nanti dimulai dari organisasi remeh di sekolah, SMP! BAHKAN, anak kecil di taman kanak-kanak harus sudah merasakannya. Dan sering kali tidak jauh-jauh dari dunia yang mendominasi mereka, sekolah-guru-teman.

Singkat cerita anak muda ini telah mengusahakan segalanya semaksimal mungkin untuk kepentingan pers. Ia diminta sang guru membuat konten majalah sekolah yang rencanya akan diterbitkan sesegera mungkin (untuk pertama kalinya sekolah tersebut akhirnya menerbitkan majalah. Yah kira-kira setelah 5 angkatan lulus). Dibuatnyalah sambil memeras otak. Semacam proposal tipis ia buat. Diserahkan pada sang guru. Tanpa ia sadari, tau-tau itu majalah sudah beredar ke seantero sekolah, dan kontennya tidak diggunakn sama-sekali. Ia buka dan baca-baca itu majalah, rupanya sang guru menggunakan konsepnya sendiri. Lantas ke mana proposal yang sudah ia buat—lagi pula, hei, yang minta awalnya kan si guru? bocah ini mengira nanti ia dan teman-teman anggota yang akan bersama-sama menyusunnya. Rupanya guru ini lebih percaya bila dikerjakan sendiri. Its okaylah.. mungkin dianggap masih SMP. Tapi tersusup rasa kecewa, ia sedikit berharap seettidaknya sang guru koordinasii dulu ke dia. iia merasa tak dilibatkan sama-sekali.

Okey, untungnya, foto-foto hasil jepretannya yang dari hari ke hari terus ia tingkatkan kualitasnya—selalu dimiinta data/ file foto berupa format JPEG oleh sang guru. Rasa percaya dirinya bangkit kembali. Ternyata guru itu masih punya rasa penghargaan kepadanya. Suatu ketika, ia tidak bisa membawa net-book untuk ekskul. Karena selama ini ia meminjam net-book kakaknya, (ia belum punya netbook). Netbook si kakak keyboardnya rusak, maka otomatis ia tidak bisa memakainya. Mau memohon-mohon kayak apa juga, kakaknya gak ngerti, “Bukan gue gak bolehinn.. tapi emang rusak..! arrgh!” okesip, lanjut.

Belakangan ini bocah laki-laki ini selalu meminjam net-book seorang teman anggota pers, namanya ****, gak penting lahya. Pokoknya adik kelas satu SMP. (dia kelas 2 smp), apa –apa selalu dikerjakan di netbook adik kelas itu, mereka berdiskusi bersama di ruangan tempat eekskul pers berrlangsung, di satu-satunyar ruang auditorium sekolah. selain mereka berdua hanya ada dua anak cowok lain. Sisanya hampir mencapai 14 anak perempuan. Belakangan juga guru itu akhirnya protes.

“Kamu enak banget ngerjain di netbook adek kelas. Emang kamu gak punya? Netbook kamu yang dulu kamu bawa-bawa itu mana sekarang?”

“Mau saya bawa atau enggak yang penting saya ngerjain kan? Selama ini saya minjem punya kakak saya. Dan sekarang lagi rusak keyboardnya. Jadi ya gak bisa dipake. Dibawa juga percuma,”

Sang guru Cuma terdiam. Dan ekskul berlanjut… yah guru yang satu ini memang agak brekele. Selain jadi guru ekskul PERS beliau juga guru agama islam di sekolah. waktu itu tim asesor dari diknas datang berkunjung. Dari bagian penyidik. Tahun lalu mereka juga sudah datang lengkap dengan seragam PNS menempel di badan, mengecek satu demi satu pintu ruangan yang sedang digunakan untuk kegiatan KBM. Dan OWOW.., mereka masuk tanpa ketuk pintu, mungkin sengaja kalian biar menemukan kelemahan dari carra ajar sekolah tersebut. memang begitu kan tugas tim semacam itu? mencari-cari kesalahan—toh tidak negative lo kalimat tadi, kan, tim penyidik, harus menyelidiki tidak boleh ada yang luput.

Nah suatu ketika dibukalaha itu pintu ruang auditorium dan kelas ekskul Pers sedang agak kacau. Gurunya asyik sendiri surfing Internet menggunakan laptop yang sellau dijenjengnya, nyetel lagu, dan memang sejak awal kelas dimulai belum meneerangkan pelajaran apapun. Toh, PERS memang tidak banyak materi barangkali. Yang banyak mah proyek, jadinya seringkali yang tampak murid-murid asyik seendirir dengan laptop masing-masing untuk mengerjakan tugas laporan kegiatan OSIS, wawancara dengan guru berkaitan program baru sekolah, update konten web-site sekolah, dan menyicil untuk penyusunan majalah. Keren ya dengernya? Sayangnya kenyataannya tidak begitu. karena si guru sekenanya dan lebih percaya mengerjakan semua sendiri. Anak-anak banyak waktu bebas, dan anak-anak bosan karena merasa membuang waktu, kecuali yang tau cara memanfaatkan waktu satu jam terakhir sekolah itu, ada wifi, laptop ruangan berAC. Sering disalah-gunakan oleh anak-anak remaja yang lagi usil-usilnya. Entah main game online atau sekedar buka socmed.

Piintu diketuk, pak guru langsung melompat dari singgasananya dan berlagak menjelaskan sesuatu di papan tulis kosong. Dengan posisi membelakangi pintu masuk, ia berhasil menutupi sebagian papan tulis itu. toh si tim asesor Cuma melongok, gak masuk ke dalem. Penyidikan selesai. Pintu ditutup. Si guru kembali main internet.

***

Lama…. Berselang. Lama sekali lumayan lama sampai-sampai bocah itu mulai lupa kejadian konyol sang guru. Sebenernya guru itu cukup jenaka kalau dari cerita anak-anak dari cara ia mengajar. Dan paling kebelet eksis di antara guru lain. Ngobrol sama murid udah kayak sama temen sendiri. Iyap itu sih berdasarkan cerita kakaknya yang baru saja jadi alumni sekolah tersebut. tapi kakaknya yang agak kritis itu rupanya kurang menyukai guru semacam itu. “GURU UNTUK MENDIDIK MURID, MENGAJARKAN SOPAN SANTUN. Bagaimana bisa mendidik dan mengajarkan kalau ia sendiri tidak tahu batasan-batasan. Guru semacam dia mengubah konsep guru dari pendidik menjadi penghibur. Semacam industry komersil dan bila anak murid tidak puas, bisa menuntut ke atasan guru tersebut. kalau gurunya tegas, galak, bilang saja ke ortu. Ortu yang memanjakan anaknya pasti mau repot-repot menuntut. Guru semacam itu tak pantas mengajar, apalagi AGAMA ISLAM. Toh dia tidak disegani murid-muridnya, tidak dihormati. Lihat cara bicaranya dengan murid-murid, kalau sebatas gaul sih gak papa. Tapi masih punya wibawa. Sayangnya, ia malah senang nampaknya jadi bahan guyonan murid-murid karena tingkahnya yang culun dibuat-buat.”

“AH KAKAK KUNO! Apa yang salah dengan bicara seperti dengan teman sendiri. Bukankah malah mempererat tali silaturahmi antara guru dan murid? Jadi tidak seperti jaman dulu yang kuno dan katrok. Murid jadi lebih nyaman belajar kan?”

“kau tidak ingat si guru itu selalu mempromosikan dirinya sebagai anak pramuka. AKU JIWA PRAMUKA SEJATI. Ternyata waktu ada outbond di Curug waktu kita jalan-jalan dulu. Dia tidak ikut flying fox karena takut. Dan ingat waktu perpisahan angkatan kakak?! Dia satu-satunya guru cowok yang gak bisa berenang! Dan ingat anak-anak cowok yang celele’an mengejeknya? Menjadikan dia sebagai bahan bulan-bulanan. Whooy.. katanya anak pramuka?! Gaya doang lu.., paak!” ELU? ELU?! Sejak kapan seorang murid berani ngomong elu ke guru tanpa kena tampar habis itu? budaya Indonesia lain dengan budaya amrik yang manggil orang lebih tua bisa Cuma pake nama.

Lama berselang, akhirnya terbukalah kedok itu guru. Suatu pagi bocah itu baru datang ke ruang ekskul, dan tanpa tedeng aling-aling guru agama itu dengan frontal berkata. Sambil menyodorkan layar laptopnya dan muncul slide foto-foto hasil jepretan si bocah selama acara bazaar sekolah yang diadakan beberapa minggu lalu.

“(memanggil nama si bocah)!! Bagaimana kamu ini?? Kenapa hasil fotonya jelek-jelek semua? Gak ada yang bagus?” bocah itu kaget bukan kepalang. Ia pikir mungkin guru Cuma bercanda. Rupanya tidak. “ini lagi pake dibikin hitam-putih! Ngapainnn dibikin item-putih?” kenapa bisa guru itu menyebut jelek. Setau bocah itu, nih guru gak punya keahlian apa-apa di fotografi. Bisa nilai dari mana dia?

“Hha? Jelek dari mana sih, pak? Coba mana saya liat!” bocah itu jadi songongnya keluar juga, disambarnya laptop. “Alah, bapak gak mau pake foto kamu lagi. Jelek semua. Cuma sedikit yang bagus. udah (menyebut nama bocah), lain kali bapak gak pake kamu lagi buat acara apapun. Buat dokumentasi bapak gak merluin kamu lagi,” wajah guru yang biasanya selalu terlihat cupu dan jenaka itu berubah seratus depalan puluh derajat jadi menyebalkan, jutek, dan serius. harapan si bocah itu bahwa si bapak lagi bercanda—pupus sudah. Tidak ini serius. ‘Yaudah saya keluar dari ekskul!!” ia pun bangkit dan melangkah tegap keluar ruang auditorium, dan lari ke lapangan basket untuk bergabung dengan anak-anak ekskul basket. Ia frustasi bukan kepalang.

Astaga apa yang selama ini ia perjuangkan ternyata sia-sia?! Kenapa?! Apa salahnya selama ini? Dendam pribadi apa? Tidak.. seingat ia terakhir ia punya maslaah dengan seorang guru perempuan. Yang selalu menganggap ia menyebalkan. Sampai-sampai kakaknya ikut campur karena gemas. “GURU-GURU ITU TERLALU SUBYEKTIF MENILAI ANAK!” Bahkan sampai berderai-derai air mata pula—bocah itu mewajarkan mungkin karena si kakak perempuan, perasaan lebih sensitive. Sementara bocah itu bagai besi dingin yang terus ditempa. Ia memang sempat bikin kesalahan sama guru perempuan tsb, biasalah… ia sering membantah, lebih sering karena wawasan guru itu sempit. Tentang peta misalnya, guru itu yakin betul tidak ada atlas satu dunia yang dimuat dalam satu lembar penuh. Dasar ketinggalan jaman. Gerundel bocah itu. ia buru-buru membatah dan mengatakan ia punya satu buku atlas dunia di rumahnya, dan di salah satu lembarnya ada satu penuh sudah merangkup satu dunia. Seperti globe yang telah dikuliti—dari bentuk elips menjadi rata di atas selembar kertas A3. Namun guru itu tidak percaya, keki juga kali.

Walhasil…, si guru Cuma bilang “Mana coba ibu liat atlas kamu itu?”

“Yah.. saya lagi gak bawa bu. Ada di rumah,”

“Yah kayak gitu sih gak usah ngomong! Kamu ini kebiasaan, sok tahu.”

Kakaknya jadi geram betul. Anehnya yang nangis malah si kakak padahal tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya pribadi. Sekarang sudahlah, lupakan semua. Semua sudah dimaafkan. Kata kakaknya yang kini lebih bijak setelah lulus. Aku sadar setiap guru pasti telah memperjuangkan yang mereka miliki. Termasuk pengetahuannya. Sayangnya mungkin tidak diiringi kerendahan hati. Ego yang tinggi. Itu dia. ditambah lagi di usia kita memang sedang bangkit nafsu memberontak, menentang, membantah. Dan segala hal semacam itu yang dianggap keren. Tapi bukan berarti guru itu buruk semua perangainya. Pasti ada sisi baik dari diri mereka. Hanya saja saat kita mengalaminya, emosi meletup-letup menciptakan dendam. “NGAPAIN KAKAK NGELARANG MENDENDAM?! Kakak sendiri masih sering ngungkit kan kesalahan-kesalahan guru kakak dulu. Lagipula guru itu sendiri juga dendam. Setelah kejadian atlas itu ada saja salahku di matanya,”

“hush! Kakak kan juga masih remaja, terkadang ikut terpancing emosi dari ceritamu. Jadi yah.., makanya jangan bosan mengingatkan. Istighfar aja.. toh dari mereka juga kita dapet ilmu kan?’

“Rasanya aku mau bilang ke guru ekskul itu, kak! SAYA BAYAR DISINI YA! INI BUKAN SEKOLAH GRATIS! ORANGTUA SAYA BAYAR BUKAN UNTUK SAYA DIBEGINIKAN!”

“Siapa tau nanti guru itu minta maaf, nanti pasti sadar sendiri.. atau kamu konsultasi aja ke kepala sekolah aduin aja. TAPI SATU HAL YANG PASTI, dari itu kamu harus semakin bulatkan tekadmu! Buktikan sama guru itu, NANTI SUATU SAAT KAMU AKAN JADI FOTOGRAFER PROFESIONAL. YAKINLAH! Ada hikmah dari semua peristiwa hidup. Asal jangan jadikan itu dendam sebagai fondasi kamu meraih impian. Nanti saat kamu ternyata sulit meraihnya, kamu frustasi lagi dan lagi, karena merasa belum membuktikan pada guru itu.”

BOCAH itu tampak merenung. Kemudian mata berbinar-binar. Semangatnya telah kembali. Kakaknya tersenyum (sok) bijak, dan menghela napas lega.“Kak…,”

“Ya?”

“aku tahu, tinggal kubuat saja setiap acara OSIS aku langsung yang mengkoordinir anggota pers. Gak usah lewat dia. atau! BIAR GAK RIBET SEKALIAN PERS GAK USAH DIPAKE SAMA-SEKALI WHUAHAHAHAHH!!! TOH ANAK YANG MASUK PERS INI ANAK BUANGAN! HAHAHAHAH”

“Haduhh…,” kakaknya menepok jidat sambil misuh-misuh. Meskipun diam-diam ia setuju juga gagasan liar adiknya. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s