Puzzle Guru

Suatu hari nanti, aku akan duduk di kursi kayu keras itu. Hanya untuk membunuh waktu. Mengamati ruang kelas kosong. Mendengar tak seorangpun guru yang berceloteh memainkan spidol marker di tangan. Menyapa bangku-bangku kosong, duduk berdiskusi di antara teman-temanku. Mengerjakan soal di papan tulis.. mencium tangan guru. Membantu mereka merasa lebih baik, saat kami patuh dan hening. Mempersembahkan dinamika rasa saat, dengan teganya kami membuat keributan.

Suatu hari nanti, aku akan berdiri terpaku di bawah bingkai pintu kelas. Takzim menyapu pandang ruangan kosong. Merasakan senioritas setiap memandang adik-adik kelas. Mencoba memberangus waktu, dengan mengenang, kebersamaan itu. Maka, wajah-wajah itu bergantian mengisi benakku. Wajah bahagia ketika melihat ekspresi kami menerima tugas rumah bertumpuk. Serta bahagia ketika melihat kami sukses. Sedih saat kami mengecewakan mereka. Namun, alangkah indahnya, mereka tetap kembali ke kelas. Mengumpulkan segenap kebaikan yang tersisa. Mengajar kami, seolah lupa, betapa kami pernah membenci.

Suatu hari nanti, aku akan datang, dengan membawa setumpuk kebaikan mereka. Bagi bu Guru yang ikhlas meninggalkan anaknya di rumah. Bagi Pak Guru yang meninggalkan keluarga di rumah. Untuk berangkat mengajar kami di sekolah. serta rela membimbing kami, murid-murid mitra sekolah, yang tetap membutuhkan bantuan mereka dalam setiap acara. Semandiri apapun kami. kami tetap membutuhkan mereka…

Aku ingat ketika…, di malam yang tenang, saat harusnya beristirahat, mereka tulus semalam suntuk di sekolah. tulus menjadi guru kami, berbekapan kanak-kanak dalam pangkuan. Mereka tak mengeluh. Berusaha tetap menolong kami tanpa meninggalkan kewajiban mengurus keluarga.

Tawa mereka, senyuman mereka, bentakan mereka, kemarahan mereka. Kami terima penuh penghargaan.
Aku menghela nafas panjang… di penghujung kunjunganku. Aku tak lupa mengucapkan salam. Kembali mencium punggung tangan mereka. Laksana bintang jatuh yang melintas menggores langit malam. Semua perasaan itu, rindu, benci, bangga, penghormatan.. semua bersatu padu melesat menggores hati.

Kupejamkan mata dalam telapak tanganku yang mendekap erat tangan guru kami, hingga… aku tau, aku harus pergi. Tak peduli kesan-pesan kami. jejak yang kami tandai, dalam putih biru kehidupan kami. kami harus pergi.
Untuk kembali lagi, mengabarkan keberhasilan kami pada mereka, wahai guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s