Bukan Perpisahan tanpa Pertemuan

strangersAku bahkan tak tahu namanya. Akan tetapi ini sudah lewat setahun. Sementara ia masih sering berkelebat. Mengajak anganku berkelana. Aku tidak mungkin yakin. Manakala perasaan ini nyata. Namun, ini sudah lewat setahun. Bagian mana yang luput dari jalinan benang yang menyusun rapat kain ini? Tidak. Tidak ada yang luput. Bahkan saat ia diam-diam menghapus wajahku, dari jejak yang ditinggalnya. Aku masih tak tahu namanya.

Aku berharap perahu ini karam. Menewaskan kami berdua. Agar dia, aku, tidak hidup dengan noda darah di sekujur tubuh. Yang membuatnya semakin terluka begitu melihatnya. Dan semakin menyadari, noda itu aku.

Bahkan ia tak mengizinkanku berdiri di sisinya. Ketika kameranya membidik kami. seharusnya aku tidak tertinggal rombongan. Seharusnya aku tidak bangun terlambat. Seharusnya aku tidak memaksanya, membuatnya, membiarkanku ikut bersamanya.

Ini sudah lewat setahun, setelah kami menghabiskan waktu beberapa hari bersama. Tanpa pernah tau apa-apa mengenainya. Kerana tidak ada kita. Tak pernah ada kata kita untuk kami. aku hanya nekad mengikutinya. Keputusan tanpa pikir panjang. Kurasa waktu itu lebih baik, ketimbang seorang diri di negri asing. Dan keputusanku menciptakan pertemuan kami, perjalanan singkat itu, serta perpisahan. Yang aku sendiri, hingga kini, masih tak percaya, bahwa perasaan itu nyata, bahwa ia nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s