Eksperimen Bikin Roti Papabunz

SAM_1962SAM_1967Oke , sudah pagi, jam setengah tujuh! Tidak terlalu pagi dan belum siang untuk memulai rencana kami. Lebih tepatnya rencana adikku. Satu-satunya laki-laki remaja di rumahku. Karena adik laki-laki yang satunya masih tiga tahun usianya. Fatan namanya. Ia memang senang memasak, dari kesenangan itulah ia menjadi paling jago memasak, bahkan dibanding kedua saudara perempuannya. Dan dari kesenangan itu kami juga yang merasakan dampak positifnya. Tugas kami tinggal menyantap hasil masakannya. Walaupun sering juga membantu masak. Fatan yang jadi kepala chefnya.

Fatan dan Azka, Azka itu adik perempuanku. Selalu setia menemani dan mendukung kegiatan-kegiatan fun cooking abangnya di rumah tercinta kami. Setelah search resepnya, Fatan menyerahkan daftar bahannya pada Umi. Supaya Umi yang membeli di Superindo. Supermarket dekat rumah. Berikut daftarnya, membuat Roti Boy! Atau roti papabunz, yah.., semacam itulah.

1. 500 gr tepung terigu protein tinggi
2. 220 ml air putih hangat suam-suam kuku
3. 11 gr ragi instan
4. 2 butir telur
5. 25 gr susu bubuk

Baiklah, semua bahannya sudah dicampur. Lantas diapakan? “Diuleni!” kata Fatan. “Azka? Kakak? Bisa kan?” tanya Fatan sambil menyiapkan bahan untuk membuat topping. Aku dan Azka saling menatap. Ragu-ragu memasukkan tangan kami dalam baskom. “Pake adukan mixer dulu kali!” tanpa babibu Azka mengambil adukan pengocok tanpa mesin mixernya. Kemudian ia mengaduk adonan yang telah tercampur secara manual. aku yang tidak tahan melihat kebimbangan Azka berseru,

“Sikat dulu! Urusan belakangan!” Aku segera beraksi (backsound film superman, wkwk).

SAM_1874Akhrinya kami mengaduk adonan bersama-sama. Tangan kami terasa lengkeeet sekali. Semua adonannya menempel, membungkus nyaris seluruh tangan kami.

“Halo? Sudah pada mulai?” Abi muncul di bingkai pintu dapur.

Sejurus kemudian beliau ikut membantu menguleni adonan. Karena merasa area beraksi kami semakin sempit (ditambah Abi yang badannya endut), kami pindah ke ruang makan. Meja ruang makan menjadi tempat Abi menggiling adonan. Dibanting-banting, diuyek-uyek, semua jurus dipakai. Abi tampak berkeringat di seluruh dahi dan pipi. Aku jadi khawatir adonannya kecampur keringetnya. Lebih parah lagi, tidak boleh menyalakan kipas karena takut adonan yang mengalami fermentasi. Kasian Abi, gerahnya nauzubilee, ada kipas gak bisa dimanfaatkan. Hihi. Setelah kalis, adonan masih ditambahkan satu sendok the garam dan seratus gram mentega. Kemudian Abi kembali menguleni. Sambil menunggu adonannya rata dan elastis, kami, tiga bersaudara asyik saja menonton aksi Abi. Sembari melontarkan celetukan penyemangat. “Ayo Bi! Inget jurus koki Jackie Chan di Shaolin!” celetuk Azka.

“Kokinya namanya bukan Jackie Chan. Jackie Chan itu yang meranin!” Fatan bergumam melarat. Jam setengah Sembilan adonannyaSAM_1891 sudah kalis. Adonan didiamkan dalam baskom kuning (keramat, karena selalu dipakai setiap mengadon kue)SAM_1900 yang ditutupi serbet basah selama tiga puluh menit.

 

***

 

Karena waktunya menunggunya lumayan lama, kami pun bergiliran mandi. Gak usah kaget ya! namanya juga lagi liburan. Jujur saja, kalian juga kan? Hehehe. “Jam Sembilan!” seru Abi bersemangat. Abi memang selalu menyemangati kami dalam setiap aktifitas keluarga kami selama liburan ini. “Eh! Buka! Buka serbetnya!” Titah Fatan. Azka segera membuka serbet yang menutupi baskom. Adonan yang sudah dibulatkan tampak jauh lebih besar dari tiga puluh menit sebelumnya. Sebelum mulai membagi-bagi adonan, meja makan tentunya harus dilap kinclong dulu karena bekas adonan roti diuleni membuat kerak di atas kaca meja.

SAM_1910SAM_1912SAM_1914“Siapin timbangan!” Fatan mulai lagi jadi mandor. Aku membawa timbangan oranye kami ke ruang makan. “Mau mulai bikin bulet-bulet kecil ya?” Umi mengamati Fatan dan Azka yang mulai mencuil adonan serta memasukkan ke mangkok di atas timbangan. “Kok repot amat?” tanya Umi.

“Di sini perintahnya tiap roti 60 gram.”

“Udah…, gak usah. Langsung dibagi enam belas aja,” Kata Umi menarik baskom. Sekarang Umi yang beraksi. Tadi kan, Abi. Aku dan adik-adik juga ikut membantu. Tak lupa mengisi adonannya dengan filling yang sudah disiapkan Fatan. Mentega beku. Di catatan resep yang kami dapat dari internet, tertulis 160 gram salted butter, bagi menjadi 16 bagian per 10 gram, lalu dibekukan. Fatan mengeluarkan piring nampan lebar yang berisi 16 cuilan mentega beku.

“Kamu ini pas sepuluh gram-sepuluh gram?” tanya Umi.

“enggaklah! Keliatan juga besarnya gak sama,” Fatan menimpali.

“Nah! Iya kan? Jadi adonan rotinya juga gak mesti per enam puluh gram,”

Setelah adonannya rapih terbagi-bagi, adonan dipipihkan untuk kemudian diisi mentega beku tadi. setelah semua bulatan adonannya diisi, masih didiamkan lagi selama empat puluh lima menit. Nah! Sambil menunggu ini kami membuat adonan topping rotinya. Bagian paliiing maniss. Ini dia daftar bahannya!

1. 75 gr unsalted butter (kami menggantinya dengan 100 gram mentega biasa)SAM_1968
2. 100 gr tepung gula (gula halus maksdunya)
3. 2 sdm kopi instan atau 1 sdt pasta mocha tergantung selera
4. 1 butir telur
5. 75 gr tepung protein rendah
6. 20 gr susu bubuk

Karena kami tidak ada kopi instan, jadi kami cukup memakai pasta moccha, toh sesuai selera kan? Pertama-tama, mentega, gula halus, satu sendok teh pasta mocha, dan satu butir telur dikocok hingga lembut dan merata. Bagian mixer paling jago si Fatan. Lantas tepung terigu dan susu bubuk dimasukkan secara diayak, lagi-lagi Umi yang beraksi. Umi sangat berhati-hati dalam mengayak sehingga tidak ada yang tercecer di luar baskom. Setelah topping mulai terbentuk seperti krim-krim isi roti rasa mocha yang sering kudapati saat menyantap roti . Umi memasukkan toppingnya ke dalam satu kantung plastik. Karena kami tidak punya SAM_1927SAM_1929SAM_1931plastik segitiga seperti yang biasanya dipakai chef-chef di Champion Stage untuk menyemprot di atas roti atau cake, kami mengakali dengan mengikat ujung atas plastik yang telah diisi semua topping, sampai tidak menyisakan di baskom. Sedikit sih ada, terus kita jilatin—salah satu kebiasaan entah buruk atau tidak yang diajarkan Abi. (nyummy!) bagian bawah plastik dilubangi kecil. bisa juga kan untuk menyemprot? “Semprot bentuk melingkar seperti obat nyamuk bakar dari puncak roti sampai ¾ ke bawahnya,” Aku membacakan isi resep.

“Okelah kalo gitu!” Umi mulai menyemprot. Bergantian aku, Fatan dan Azka. Bulatan-bulatan adonan roti yang semula polos tampakSAM_1942 manis dan cantik setelah disemprot topping.  sayangnya tidak akan begitu terus setelah nanti dipanggang dengan suhu 160 derajat celcius selama 15 menit. Toppingnya akan lumer ke bawah dan membungkus seluruh permukaan atas roti. Bisa bleber lho! Bisa jadi roti uvo, nama roti di Bread Talk. (kalau kalian tahu).

 

***

 

Lima buah pertama dipanggang. Taraaa! Oven yang telah lama sekali tak terpakai dan Cuma teronggok di sudut ruang makan akhirnya hijrah ke dapur. “TING!” oven berbunyi. Rotinya sudah matang! Kami berbondong-bondong ke dapur. Tak sabaran melihat. “Pas nih lima! Masing-masing satuu!” seru Fatan riang gembira karena ekspreimen pertamanya berhasil. Begitu roti memenuhi rongga mulut dan mentega lumernya mencair hangat, nikmat sekali. Fatan pun berkomentar. “Kok ada yang kurang, ya?”

SAM_1948“Apanya yang kurang?! Udah enak gini!” bagi seorang yang tak mengerti dunia masak-memasak seperti aku, bagiku ini sudah sangat lezat. Aku merasa perlu protes.

“Iya, ada yang kurang,” Sekarang Umi menyahut. “Rotinya kurang cokelat. Toppingnya kurang terasa mochanya. Apa manggangnya kurang lama ya?”

“Iya mungkin,” Azka sok-sokan tahu menangkat bahu.

Walhasil empat roti berikutnya, (empat karena lima terlalu berdesak-desakkan sehingga topping yang lumer bergabung dari setiap roti) dipanggang 17 menit.

SAM_1951

Salam dari Chef Fatan, satu2nya koki di rumah kami

Setelah sebelas roti berikutnya jadi. Sekitar pukul dua belas, jam-jam makan siang. (wuih lama juga ya?). Empat roti terakhir sedikit SAM_1945terlalu gosong karena toppingnya kebanyakan. Kami membagi-bagikan ke semuanya. Dua saudara yang tengah menginap di rumah kami, Mbak Nur, Bang Basir dan Nickey. Keluarga tetangga depan rumah yang biasa momong adik bungsu kami. Uti-Akung, nenek-kakek kami yang tinggal bersama kami. Dan tentu saja adik bungsu kami yang rupanya lebih memilih makan rambutan yang diborongnya dari pohon tetangga. Mbak Nur yang metikkin. Fatih namanya. Ia lebih suka rambutan dari pada roti eksperimen kami.

Yaa!! Jadilah kami mengupload foto-fotonya, bukan kami, tapi Fatan mengupload di facebooknya dan memberinya judul BIKIN ROTI BOY. Makanya di sini aku lebih suka menyebutnya roti Papabunz. Kenapa enggak Papafatan saja sekalian ya?😀

One thought on “Eksperimen Bikin Roti Papabunz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s