Ada Juga Montir Buku

SAM_1582Baiklah, mungkin kunjungan pertama benar-benar jauh dari berhasil. Kesan pertama sangat penting, sialnya kesan pertama, sial bagi kakekku itu kukira, sama-sekali jelek. Tak satupun pegawai yang berlalu lalang bertanya ada yang bisa saya bantu. Tapi yang ada kakek itu, dan dia bertanya, ada perlu apa, pertanyaan simple sebenarnya, tapi di situasi seperti tadi sulit sekali untuk menjawabnya.
Nabil bercerita, sejak mbah buyutnya itu meninggal dunia Pusat Dokumentasi Sastra menjadi—istilahnya—benar-benar terlupakan dan seolah tertinggal oleh pergerakan zaman.

Tidak ada generasi muda modern yang melirik tempat itu. Meskipun sudah disubsidi oleh pemerintah. Entahlah.., menyedihkan saja menurutku, mengingat banyak sekali jasa H.B. Jassin dalam bidang sastra. Walaupun banyak menuai kontroversi. Yaitu pada saat H.B. Jassin mengutarakan niatnya untuk membuat Al-Qur’an dalam bentuk puisi. Orang-orang dari Departemen Agama dan MUI melarang keras Al-Qur’an itu dipublikasikan.

Dengan berbagai alasan, alasan paling mendasarnya sebenarnya karena khawatir meresahkan masyarakat. Menurut sastrawann mesir, Taha Husein Al-Qur’an tidak boleh disamakan dengan puisi. Al-Qur’an dipisahkan dari puisi, bahasa Al-Qur’an terlalu tinggi bila ingin dipuitisasi. Padahal pembuatan Al-Qur’an Berwajah Puisi itu merupakan puncak pencarian batin H.B. Jassin seperti yang diuraikannya dalam buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi yang kini masih tersimpan dalam tas selempangku.

“Lo kenapa gak bilang aja sih turunan Bapu’?” protesku. Nabil sudah menduga aku akan sewot.

“Oma gue nyuruh gue jangan kasih tau kalau turunan Bapu’, dengan kata lain nyuruh gue tutup mulut,” jawabnya datar.

“yah.., seenggaknya kakek itu bisa lebih sopan sedikit,” Afi akhirnya buka suara.

“Gak bisa nyalahin kalau anak muda gak ada yang tertarik. Sekali ada yang tertarik mengunjungi sikap mereka kayak gitu.

“Yeah.., boro-boro deh kalau bukan karena butuh banget gak bakal bertahan lama di sana,” Saif menambahkan. Mendengar itu aku jadi teringat Ruang Arsip Rahasia di Vatikan yang kubaca di buku Angels and Demons. Terbukti aku kurang teguh dalam menghadapi kakek yang menerima kami serombongan.

***

“Sekarang ngapain nih?” Tanya Fira.

“Nonton,” jawab kami serentak.

“Nonton? Nonton?” Fira mengacungkan telunjuknya yang diarahkan pada kami satu-persatu. Tak jauh dari tempat mobil-mobil parker sebuah bangunan lebar nan panjang dengan tulisan besar XXI. Setelah memutuskan dan sempat voting sebentar, kami akhirnya menonton film 5 cm. delapan puluh persen karena katanya film ini bagus dank arena semua teman-teman kami kebanyakan sudah nonton, masa’ kami belum? Kira-kira begitulah.

***

Rasanya lebih baik kalau aku langsung ke bagian yang betul-betul hendak kubahas. Sebuah tempat yang tak sengaja menarik perhatian kami. Pada awalnya kami akan solat asar selesai makan siang dan segera pulang. Sebelum terlalu sore jalanan sudah ramai oleh mobil-mobil pkerja pulang kantor. Kami bisa terjebak macet. Akan tetapi yang terjadi sejurus kemudian adalah,

“Eh! Foto dulu yuk, foto!!” Panggil Afi meminta kami berpose. Afi membawa kamera polaroidnya. Kami berpura-pura meraih lampion. Aku, Nabil dan Saif. Selembar foto pun keluar dari atas, layar framenya masih berwarna hitam jika belum dikipas-kipas. Aku ikutan mengipas-ipas foto tersebut sampai terlihatlah gambarnya. Foto bergaya vintage, lembut sekali suasananya. Kami bertiga seolah sedang menggapai impian. Lampion itu benar-benar berguna.

SAM_1583“Yasmin.. Min..?” Fira menengok ke sana kemari. Rupanya yang dicari sedang berjalan tergesa menuju sebuah toko buku yang berada tepat di sebelah gedung bioskop. Ada sebuah kulkas yang berdiri di depan toko terbuka itu. Dan dua orang, sepertinya penjaga toko, tengah duduk malas-malasan di atas kursi plastic. Salah satunya malah tidur mendengkur. Aku dan teman-teman sempat berfoto bersama di depan toko tersebut. Karena penataan rak-rak bukunya sangat etnik dan.. terasa benar lembar-lembar sejarahnya. Indah sekali kalau difoto dengan gaya vintage. “Permisi, Pak.., boleh baca-baca gak pak?” Fira menghampiri salah seorang penjaga toko yang berambut gondrong (sebenarnya dua-duanya gondrong). Mengingat sambutan kurang mengenakkan di PDS tadi. Aku berbisik pada Fira, “Kayaknya boleh deh, Pir.., orang rak bukunya dipampang gini.., berarti sengaja dipamerin kan biar ada yang tertarik dateng,”

“Oh! Boleh, de’! boleh! Baca boleh.., beli.., juga boleh, ada vcd-vcd juga,” Kata si penjaga toko.

Aku bersorak dalam hati. Sedikit menahan napas karena kagum aku melangkah ragu. Rak buku kayu tinggi langsung menyambutku,Rak buku di Bengkel Buku TIM menggugah sifat kutubukuku. Aku memotretnya. Jarang-jarang sekali aku dapat mendatangi tempat seperti ini. Tumpukan buku di mana-mana. Ada yang masih dalam kardus, ada yang bertumpuk di luar rak. Aku berjalan semakin masuk ke dalam. Sebuah tempat yang.. kira-kira sedikit lebih lebar saja dari kamar tidurku. semua rak buku, hanya diberi sisa untuk tempat berjalan. Tapi tak masalah.., puas-puaskan dulu melihat sekeliling. Baru mulai mencomot satu buku. Ada selusin buku di rak dengan warna sama, tebal sama dan judul sama. Aku jadi teringat perpustakaan sekolah yang terlalu banyak buku refrensi dan buku stok buku pelajaran kalau-kalau ada murid yang ingin membeli lagi. Tapi judul buku itu lucu, APA ITU UUD? Itu sama saja anak pedalaman yang bertanya apa itu pancasila, kukira.

“Yasmiin! Yasmiiin! Lo ke mana sih?” Nabil berlari terengah-engah mencariku.

“Kita dapet gantinya, gak masuk PDS, tapi ketemu toko buku ini!” seruku kegirangan menongolkan kepala dari balik rak-rak buku. Aku banyak mendapati buku tentang sejarah G30SPKI, serta kejadian berdarah Pecinan dan membacanya bersama Nabil. Nabil yang terobsesi dengan urutan peristiwa G30SPKI sampai hafal bagaimana peristiwa pahlawan-pahlawan revolusi dibantai oleh PKI. Saif, karena tidak terlalu senang membaca, lebih leluasa dan tidak ragu untuk mengambil gambar. Aku mengalami dilema, waktu kami berkunjung tidak banyak, jadi pilih salah satu, potret sana-sini, atau, membaca beberapa buku .

“Min..,” Saif menghampiriku menunjukkan hasil potretnya di kamera sakunya.

JOSE RIZAL“Who is he?” Tanyaku penasaran. Mencari sumber tempat di mana Saif memotret.

“Tuh,” Saif menunjuk sebuah potret berukuran A4, hanya ada dua foto dalam satu pigura A4 itu. Dua orang yang sama. Berambut panjang dan janggut agak kusut, sudah beruban. “JOSE.. RIZAL?” saat mengucapkan kalimat itu ingatanku mencari-cari. Di mana pernah kudengar nama itu?

“Andrea Hirata!” Kataku kaget sendiri. Aku menepuk pundak Saif, tapi Nabil yang berjengit kaget. “tau novel Andrea Hirata yang Maryamah Karpov? Itu ada si detektif M.Nur yang punya burung namanya Jose Rizal..,” lanjutku bersemangat.

“Aduh Min.., buru-buru deh gue.. gue bisa lahap habis novel yang Bapak lo hadiahin ke gue aja udah kayak keajaiban!”

“Aduh, bener juga, lo tau gak Bil?” tanyaku beralih pada Nabil.

Nabil langsung memalingkan muka berpura-pura tidak dengar, asyik melihat-lihat buku.

“Mending lo liat ini Min,” Nabil menunjukkan cover buku seperti buku album foto yang besar.

“Foto-foto eksekusi Kartosuwiryo? TII?!” Aku nyaris menjerit senang. Tapi aku mengurungkan diri sehingga aku mendekati salah satu penjaga toko yang sudah terbangun. Nabil membiarkanku, ia menarik Saif untuk ikut melihat-lihat foto tadi. “Mas, yang di foto itu.., siapa ya?” tanyaku pada akhirnya. “Jose Rizal, yang punya toko ini.” Si mas yang baru bangun tidur mengucek matanya. Rupanya setelah bangun rambutnya terlihat lebih gondrong. “Toko ini? Udah berapa lama?”

“Dari tahun.., 1996. Baru pertama kali ke TIM de’?” Tanyanya nyengir. Mengamati aku dan teman-temanku.

“Hehehe, iya Mas,” aku tak kalah nyengir. Kuharap ada informasi yang lebih lanjut, aku menunggu si penjaga toko buka suara lagi dan menjelaskan sedikit sejarah toko ini. Rupanya tidak. Aku hanya ingat pernah mendengar Bengkel Buku Jose Rizal. Berarti ini tempatnya. Konsep second hand store book yang dibuat Jose Rizal karena terinspirasi toko-toko buku bekas yang sama-sekali jauh dari kesan kumuh dan membosankan di New York. Sebelum ada Bengkel Buku ini belum ada satupun penjual buku bekas yang apik dengan konsep toko. Akhirnya ia mengajukan konsep second hand store book tersebut kepada gubernur Jakarta pada masa itu, Suryadi Sudirja. Setelah disetujui beliau memilih tempat di Taman Ismail Marzuki ini. Diresmikan tanggal… aku berusaha mengingat-ingat, “Ah! Gue inget! Tanggal berapa toko ini diresmikan. Sebutannya juga bukan toko buku,”

“Terus apa?” pancing Saif.

“Kalau bukan toko buku, toko sepatu gitu?” sahut Afi dari belakang tiba-tiba. Rupanya ia asyik melihat-lihat buku berisi kumpulan fotoSAM_1588 karya seniman luar negri. Kebanyakan lukisan abstrak yang tidak bisa dipahami. Afi meminjam kameraku untuk memotret lembar demi lembar buku tersebut. Sementara itu Fira menghilang di balik rak-rak buku.

“Bukan! Bengkel Buku Jose Rizal! Tanggal 28 April 1996, kata mas-mas yang jaga toko toko ini berdiri tahun 96. Tanggal itu bertepatan sama hari mengenang wafatnya Chairil Anwar! Pas banget,” memoriku akhirnya berhasil terangkat kembali.

Toko ini berdiri sebagai bentuk ekspresi Jose Rizal terhadap kecintaannya dengan seni, budaya dan sastra. Makanya kebanyakan buku

SAM_1586 di sini adalah buku tentang karya seni. Aku jadi ingat guru Seni Rupa di sekolah kami. Karya-karya di buku itu mirip dengan gaya beliau. Saat toko ini diresmikan oleh Gubernur Jakarta. W.S Rendra, teman dekat Jose Rizal membacakan banyak puisi Chairil selama tiga hari berturut-turut. Hebatnya setelah berdirinya Galeri Bengkel Buku ini mulai bermunculan toko-toko buku bekas dengan konsep toko serupa di negeri ini. Aku kembali berkonsentrasi melihat foto eksekusi Kartosuwiryo. Dari mulai saat tentara yang mendatangi rumah Kartosuwiryo, Kartosuwiryo sempat makan bersama keluarganya dengan dikelilingi para tentara yang berjaga dengan senapan, kemudian saat proses persiapan eksekusi. Saat beliau diikat ke batang kayu yang terpancang, saat matanya ditutup dengan ikatan kain oleh pimpinan tentara. Saat dua tembakan. Kartosuwiryo yang tampak tua renta masih berdiri dalam keadaan terikat dengan kayu. Tentu saja itu karena tubuhnya sudah diikat menahan agar tidak jatuh setelah ditembak.

“Ya Allah…,” Lirihku tidak tega.

“Pemenang selalu membuat sejarahnya sendiri. Yang menang dalam perang akan mencatat sejarah tentang lawan perangnya dengan membuat kesan seburuk mungkin.” Kata Saif bernada suram.

“Maksud lo?” tanyaku bingung dan sedikit takjub.

“Lo inget pelajaran sejarah? Bab masa pemberontakan itu? DI selalu diikutin garis miring TII,” jelas Nabil. Kalau Nabil yang bicara aku tidak heran lagi. Tapi Saif..

“Darul Islam bentuk Negara sendiri. Orang-orang tentara islam itu gak mau ngakuin pemerintahan Sukarno. Mereka gak suka sama Sukarno. Karena.., menurut gue, Sukarno kebanyakan kompromi sama si Belanda,”

mimin copy“Bagus.. kenapa tiba-tiba jadi pada pinter sejarah?” komentarku direspon dengan tawa kedua temanku itu. Setelah berfoto beberapa kali, dan aku mendapat oleh-oleh satu lembar kertas Polaroid dari Afi. Aku bergaya duduk membungkuk pura-pura membaca khusyuk. Saif membeli VCD bekas, film Jackie Chan, sementara aku dan Nabil patungan untuk membeli VCD film G30SPKI. Ia berjanji akan menontonnya di rumahku besok bersama Saif. Akhirnya kami harus pergi karena panik melihat jam dinding yang menunjukkan pukul EMPAT SORE. Macet. Itu yang pertama kali terlintas di benak Fira. Ia masih harus les sebenarnya jam setengah enam. Makanya ia paling gusar sekarang. Tapi ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Toh, ia juga menikmati kunjungan ini.

Setelah solat Asar kami bergegas pulang. Bergabung dengan mobil-mobil lain yang maju sepuluh senti, sepuluh senti. Beye TIM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s