Seperti Membuka Kertas Papyrus

MSW10-Perpustakaan    TIM, singkatan dari Taman Ismail Marzuki menjadi tujuan kami kali ini. Aku dan ketiga temanku berangkat bersama dengan mobil salah seorang dari kami. Sebut sajalah, aku, sepupuku Saif, Nabil, Afi dan Fira. Fira yang mengajak kami. Dengan supirnya seorang supir prribadi yang biasa antar-jemput sekolah Fira. Aku duduk di tengah bersama Afi, di depan Fira bersama supirnya, di belakang Saif serta Nabil duduk berdua selonjoran. Selonjoran? Iya, mereka menolak saat Om Dodo membuka bangku lipat yang berada di sisi kanan-kiri.

“Jadi kita ke mana?” Tanya Om Dodo memakai sabuk penngaman.

“PDS, Om!” Sahut Nabil masih asyik dengan handphone Saif.

“Apaan tuh, PDS?” Tanya Om Dodo lagi.

“Pusat Dokumentasi Sastra, ya.. kalo gak salah, Bil?” Fira yang menjawab.

“Emang itu, coy..,”

Om Dodo memainkan ipadnya, membuka google map dan mencari lokasi PDS itu.

“Lo gak lupa bawa bukunya, kan, Min?” Tanya Nabil menjulurkan kepalanya.

“Nih!” aku mengeluarkan buku bercover hijau dengan judul besar-besar, Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi H.B. Jassin.

***

Di perjalanan Om Dodo banyak berdiskusi bersama kami, Om Dodo juga pintar bercerita, cerita horror pula, jadi perjalanan tidak terasa membosankan. Aku terkesan sekali saat mobil kami berjalan di sepanjang pasar rumput, toko-toko kecil memamerkan sepatu kulit dengan berbagai model. Juga sepeda, yang menjadi cirri khas pasar rumput.

“Nih.., kalau kehilangan sepeda carinya di sini, sehari setelah kecurian langsung ke sini pasti ada,” Om Dodo member sekilas informasi. Aku jadi teringat sepeda Polygon adikku yang hilang.

“Om, kalo udah berbulan-bulan yang lalu gimana?” tanyaku retoris.

“udah dibeli lagi kali itu mah..,”

Obrolan kami lebih seputar agama, waduh.., agak bahaya. Tapi sudah terlanjur, awalnya aku dan Afi saja yang panas berdiskusi tiba-tiba beliau menggabungkan diri. Celetukan spontannya yang sambil lalu menyetir. Illuminati, itu yang jadi topic obrolan aku dan Afi. Akibat dari tweetku yang bersemangat tentang Dan Brown. Ujung-ujungnya kami malah membahas tentang malaikat yang dijadikan manusia oleh Allah dan hingga kini masih dihukum gantung di tengah lautan. Kata guru agama kami, kalau sampai permukaan air laut menyentuh ujung rambut malaikat itu, terjadilah kiamat. Tapi cerita tentang itu kurang jelas. Akhirnya kami seperti orang ngobrol ngalor-ngidul saja, toh memang tidak diniatin kan? Jadi tanpa refrensi akurat tak masalah.

***

Taman Ismail Marzuki, dikenal sebagai pusat kesenian Jakarta yang diresmikan pada tanggal 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Didirikan untuk menghormati Ismail Marzuki, seorang komponis lagu terhebat di Indoesia. Kami segera melompat keluar dari mobil. Semangat sekali tampaknya. “Ayoah! Nabil yang mimpin, tempat tujuan kita kan didedikasikan untuk kakek buyutnya,”

“sst!” Nabil menempelkan jari telunjuknya menyuruh kami tutup mulut soal itu.
“Kenapa sih, Bil?” tanyaku terheran-heran. Ia tak menjawab. Kami langsung melangkah kea rah plang putih besar bertuliskan PUSAT DOKUMENTASI SASTRA H.B JASSIN lengkap dengan nomor telpon faxnya. Kami melintas di dekat tenda-tenda berlogo Panda, WWF, salah satu stand 1001 Buku. Ada juga lampion-lampion putih bergambar panda yang bergantungan.

Kami juga disetop oleh seorang fotografer. Ada sekerumunan orang dengan perlengkapan fotografer, sewallpapernya juga panggung untuk foto modelnya. Seorang gadis tinggi jenjang memakai celana pendek sepaha dan baju kropti, membawa gitar memakai topi koboy berpose memainkan gitarnya. “Tunggu de’! Misi dulu! Maaf ya.., sebentar aja kok,” setelah beberapa kali sinar blitz menerangi area itu kami dipersilahkan berjalan lagi oleh mas-mas yang sibuk dengan tripod.

SAM_1580 PDS, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi H.B. Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia. Mbah buyut Nabil ini menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930an , ketika usianya belum lagi 30 tahun. Diresmikan pada tanggal 30 Mei 1977.

Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.

PDS, bangunan serba biru dengan kanopi panjang yang meneduhi sepanjang tangga sempit untuk mencapai pintu masuk depan. Beberapa bapak-bapak dengan penampilan kuli bangunan duduk-duduk sekedar ngaso. Matahari memang terasa mulai terik. “Permisi bapak-bapak..,” Ucap Fira sopan. Ternyata ruangan depan PDS betul-betul dingin. Kami disambut oleh meja—bukan resepsionis yang pasti. Tapi entahlah, semacam meja registrasi atau menerima pengunjung.

“Gue ngeri nih Min, PDS udah lama terlupakan, gak ada yang dateng ke sini, jadi..,” kata-kata Nabil terpotong oleh sapaan seorang kakek yang sudah ompong. Bicaranya juga sudah tidak jelas.

“Ada perlu apa?” tanyanya.

Kami, rombongan anak remaja gak jelas langsung kikuk ditanya begitu. Tentu saja mau liat-liat. Apalagi? “Kami.. mau..,” Nabil gerogi selangit. Bantu aku Bapu’… lirihnya sambil mengamati foto besar yang menggantung di dinding, potret seorang kakek berwajah lembut, menatap ramah melalui kacamatanya. Sipit dan gemuk. Itulah H.B Jassin, kakek buyut kawanku yang satu ini. “Kami mau melihat-lihat koleksi buku-buku H.B Jassin,” sahutku lancar.

“Wah.. jadi tujuannya apa?” tanyanya lagi.

SAM_1573Tujuannya mau lihat-lihat! Apa lagi?? Kok masih bertanya. “Yeah.., Cuma mau lihat-lihat,” jawab aku dan Fira nyaris berbarengan.“Gak bisa kalau begitu. Tapi kalau mau lihat-lihat sedikit ada di situ buku-bukunya H.B Jassin, tapi dikunci gak bisa dipegang,” Kakek itu menunjuk dengan telunjuknya mengarah ke pojok ruangan. Sebuah lemari kecil dengan kaca geser yang tersegel berisi buku-buku lapuk.

“Dikunci Pak?” tanyaku lagi.

“Ck. Dikunci!” jawabnya mulai terdengar ketus. Aku cuek saja berjalan mengikuti teman-teman melihat-lihat. Mataku berhenti di sebuah kotak besar yang dari samping kami bisa melihat AL-Qur’an besar dan ekstra tebal terbuka dan diletakkan di atas lekar kayu.

“Al-Qur’an H.B Jassin!” pekikku girang. Melangkah mendekat.

“Jangan dipegang lo, de’!” Si kakek memperingatkan. Afi yang dari tadi tampak bête melipat tangan berdiri di sisiku. Menghalangi pandangan si kakek mengawasiku. Tanganku bergerak menyentuk lembaran kaku, menguning dan kusam.

“Kenapa gak dikasih kaca kalau gak boleh dipegang?” bisik Saif. Aku manggut-manggut saja.

“Gak boleh dipegang juga gak papa, saya punya yang asli cetakan pertama di rumah,” Kata Nabil bersungut-sungut dengan volume suara sangat kecil.

“Kalau kalian mau liat-liat harusnya tadi sama bapak yang lewat.” Si Kakek menuding seorang bapak berpakaian hitam-hitam sekilas seperti seragam satpam yang menghilang ke balik pintu.

“Nanti dia yang mandu kalian, jadi tujuan kalian harusnya jelas, oya, tasnya ditaro dulu di sini,” baiklah, kami meletakkan tas-tas bawaan kami di atas meja, si kakek segera bergerak menyimpankan tas-tas kami.

“Nah.., mending sekarang kita tentuin tujuan kita! Kita ke sini cari apa,” Fira tampak menggesa kami agar berpikir cepat. Akhirnya…

#bersambung ke https://yasminshabrina.wordpress.com/2012/12/25/ada-juga-montir-buku/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s