Senang Mengenal Kalian :)

SAMSUNG DIGIMAX A503Nabil namanya. Tubuhnya tegap sekali kalau berjalan. Matanya sipit, alis matanya tebal mengerikan bila ekspresi wajahnya serius. Sorot matanya seperti elang. Tapi aslinya ia sangat jenaka bagiku. Hidungnya besar, penuh jerawat. Mungkin hormone remaja yang sedang jatuh cinta. Ia pandai olahraga, sangat menggemari permainan basket. Karena itulah ia ikut ekstrakulikuler basket. Keturunan seorang paus sastra di Indonesia, H.B. Jassin nama sastrawan itu. aku malah lebih dulu mengenal asistennya, W.S Rendra. Sayangnya Nabil samasekali tak memiliki bakat sastra sedikitpun.

Nabil maniak gadget. Gadget pendengar music terutama. Headset contohnya. Perkembangan model trendy headset selalu diikutinya. Baru-baru ini ia juga sedang galau karena putus asa soal cinta monyetnya. Karena itulah ia melampiaskannya dengan secuek mungkin, dengan bermain game. Nabil bukanlah anak genius di kelas. Biasa saja. Bahkan ia termasuk lemah dalam hal logika hitung-hitungan. Apalagi fisika. Dari tahun ke tahun aku mengenalnya, ia selalu langganan dipanggil guru ke depan kelas akibat tugasnya tak pernah kelar.

Semua teguran, omelan, sindirian ia telan saja sambil membayangkan betapa nikmat dipersilahkan oleh sang guru yang mengomeli untuk duduk kembali di bangkunya yang berada persis di depanku. Memang, selama tiga tahun berturut-turut ia sering sekali kedapatan bangku di dekatku. Entah di belakang, depan, samping kanan atau samping kiri.

Wawan namanya. Segalanya di dunia ini yang paling penting adalah tidak sekolah. ia pernah kabur dari sekolah saat jam istirahat meninggalkan barang-baranagnya berserakan di bangku dan mejanya. Kemudian sang ibu ke sekolah sore-sore untuk mengambilnya.

Setelah dua bulan tidak sekolah. ia mengumpuklan semangat dan keberaniannya, memasuki kelas. Di tahun kedua sekolah, pagi itu kudengar di kelas tangisan Nabil pecah merobek keheningan. Ayahnya Wawan meninggal dunia. Hebatnya saat kami berdua dan beberapa teman lama pergi melayat ke rumahnya, Wawan tidak tampak cukup berduka. Bahkan sisa air mata yang kami sangka akan kami lihat menetes dari matanya, tidak ada.

Wawan bertubuh gemuk (tahun ketiga ini, dulu belum) dan jalannya agak membungkuk. Rambutnya keriting kecil-kecil. hidungnya mutlak pesek dan lebar.ia sama-sekali tak bakat olahraga. Ia penggila game, jika saja Nabil masih bisa diseimbangkan dengan gerak fisiknya, Wawan tidak. Ia terlalu gila game. Baginya adalah suatu keajaiban bermain Counter Strike, (game tembak-tembakkan terrorist sejenis DOTA,  GTA, Point Blank) sepulang sekolah. meski begitu, Wawan sangat encer otaknya. Hanya saja ia sempat down setelah Ayahnya meninggal. (kata Nabil Ayahnya yang selama ini menjadi guru fisikanya di rumah).

Ia sering terpilih (bersamaku) mewakili sekolah mengikuti kejuaraan olimpiade MIPA. Walaupun jarang menangnya. Itu menunjukkan, perbedaan besar antara dirinya dengan sahabatnya, si Nabil. Satu hal yang sama di antara mereka adalah.. mereka gamer. Dan mereka adalah, sahabatku.

Maka siapa diriku?

Aku hanya seorang gadis yang tak memiliki pengalaman berteman dengan anak cowok. Tahun pertama di SMP aku dan salah seorang teman baruku, Arum namanya, duduk berdampingan. Persis di depan kamilah mereka duduk. Dimulai dari Arum, nama temanku, memberi pertanyaan tebak-tebakkan melalui gambar sketsa yang dibuatnya.

Rupanya dua orang itu menyenangi permainan tebak-tebakkan. Berlanjut menjadi merekalah yang memulai tebakan. “waktu itu aku lagi mainan sama temen TPAku terus….,”

“siapa? siapa?” tanya Wawan.
“temen TPA..,” belum aku selesai bicara.
“siapa cinta pada nabinya…,”   mereka memotong dengan nyanyian.

***
Wawan senang memamerkan trik-trik sulapnya padaku. Nabil senang bercerita tentang kakek buyutnya, paus sastra Indonesia, dan di tahun ketiga hubungan kami semakin akrab.

Banyak buku-buku sejarah karya buyutnya itu menumpuk di meja belajarku. Nabil tak bosan-bosannya mengajakku ke Pusat Dokumentasi Sastra, Jakarta. Meskipun ia tahu aku tak akan diizinkan oleh orangtuaku untuk jalan ke manapun bersama anak laki-laki, apalagi tempatnya jauh.

Sementara itu Wawan tak bosan-bosannya membujukku ikut menjadi gamer seperti mereka. Dari mereka aku tahu grup-grup gamer internasional. Meskipun aku dari mulanya menanggapi antusias, samapai mengalihkan obrolan, sampai cuek sama sekali.

***

Yang disayangkan adalah, aku yang bosan pada semua tingkah dan hal-hal tentang mereka. Aku menganggap semua topic bahasan dari mereka basi. Semua sudah terlalu biasa bagiku. Tidak seperti saat aku baru-baru mengenal mereka di tahun pertama. Aku bergairah betul mempunyai teman baru, laki-laki! Bayangkan, seorang aku yang pendiam, kutu buku, jutek dan agak kaku. Bisa berteman dengan dua orang petakilan. Bahkan bisa bersahabat. Di tahun ketiga SMP ini. Aku memilih focus belajar. Dan mempertahankan predikat baikku sebagai pengurus OSIS.
Setiap jam istirahat biasanya aku makan siang bersama kedua sahabatku. Dan berlama-lama ngobrol ngalor ngidul.

“Min…, makan bareng gak?” tanya Nabil melihatku bingung antara teman-teman perempuanku yang tampak bersemangat gossip, dan dua sahabatku itu.

“oke, ayo!” akhirnya aku memutuskan. Aku mengambil kotak makan catering yang sudah dijejer bertumpuk di sepanjang sisi koridor. Kami bertiga menuju kantin. Di meja panjang paling dekat penjual jajanannya. Tempat langganan kami.

“eh, liat tu, Bil!” Wawan menepuk pundak Nabil. Menuding kea rah kerumunan anak-anak yang mengerumuni bang Yana dan gerobaknya.
“dia ngelirikin lo dari tadi!” Nabil tersedak nasi goreng  yang sedang dikunyahnya.
“apaan?” tanya Nabil mendelik.

“itu lagi jajan somay!” Wawan menunjuk seorang gadis putih sipit, adik kelas. Sementara mereka ribet sendiri, pikiranku menerawang ke PR fisika yang hendak kuselesaikan.

“o… ya, si itu ya, Wan?” Nabil nyengir lebar. “eh.., lu udah tau belum, Min?” bisik Wawan.
“gue udah kasih tau dia lewat sms, tapi gak ditanggepin, tumben. Ya gak, Min?” Nabil enyela omongan Wawan. “wah.. si Yasmin sombong nih sekarang,” Wawan meledek. Aku yang masih bengong tak memerhatikan obrolan.

“hoyy! Yasminn!” Nabil menatap sebal. Mengibas-ibas tangannya di depanku. “eh.., kenapa?” tanyaku kaget. “lo kok gak bales sms gue?” tanyanya lagi.

“oh.. gue lagi asik ngerjain lks pkn. Emang lo pacaran ama dia?”

“si dianya noh, yang suka. Bukan nabilnya,” Wawan seperti biasa menyambar.

“Sotoy loh!” Nabil menjulaki sahabatnya itu. aku angkat bahu. Pikiranku sekarang terbang ke ensiklopedia sejarah tentang Turkey Seljuq. Aku mempercepat makanku. Ingin segera rasanya duduk di balik meja jaga perpustakaan. “gue minta PJ, ya, Bil!” Wawan mendongakkan kepalanya. Meletakkan tempe kripik ke dalam kotak makan Nabil. Nabil menyantapnya. “entar.., November pas ultah gue,”

“gimana sih lo, nanti ada PU juga lo! Bokek, bokek dah lo,”

“gak bakal ada yang gue kasih traktiran. Emangnya gue anak Tajir kayak si Dhani, Arsa,”

“ah, itu karena kita sirik aja gara-gara Arsa dapet uang perbulannya lima ratus,”
Kali ini aku baru menyimak. “lima ratus ribu?!” tanyaku takjub. “wah…, baru tau dia! lu belum tau rumahnya. Rumah tetangga dibeli! Jadi ada tetangga yang pindahan. Rumahnya langsung dibeli. Gara-gara kalau liburan saudaranya suka banyak yang dateng. Jadi tuh rumah satu buat cadangan kalau liburan. Yang ngurus Cuma pembantu. Tapi, ih, enak banget. Lahan bebasnya luas banget,” Nabil menyerocos panjang lebar.

“gue duluan ya,” aku menutup kotak makanku. Berjalan kembali ke koridor tempat tumpukan kotak catering dikembalikan. “lah…, tumben amat lu!” Wawan berseru. Kulihat Nabil tak begitu peduli. Baginya aku yang seperti ini sudah wajarlah. Anak penyendiri, itu aslinya diriku, dia tau itu.
***

Aku melahap buku sebanyak-banyaknya. Soal Try Out yang masing-masing ada dua paket, semuanya kukerjakan.  Matematika, IPA Terpadu, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Semakin cepat semakin baik. Aku jadi anak kebanggaan guru-guru kala jam pelajaran Pendalaman Materi. Akhirnya aku selalu menjadi tempat bertanya anak-anak. Pendalaman Materi MTK biasanya kami paling malas. Tapi entah karena apa ada sesuatu yang gaib membiusku. Membuat Wawan yang biasanya cara berpikir menghitungnya lebih cepat dariku, hanya karena ia agak malas, ia jelas terbalap.

“nah.., coba PR untuk soal Try Out yang akan kita bahas di pertemuan berikutnya… nih.. kerjain nomor 15 sampai… 23 aja dulu deh. itu.. Try Out 1 dan 2 lho, ya..,” Bu Nurul berpesan. Aku sangat mengidolakan guru yang satu ini. Ia sangat amat disiplin, teliti, tekun dan pembimbing nomor satu di sekolah. beliau juga sangat cantik di usianya ke empat puluh lebih. 

Bu Nurul selalu mempunyai kekhasan dan cara mengajar yang kugemari. Yang membuat murid-murid akan selalu ingat. Beliau tegas dan suka mengomel. Wajarlah, Matematik, guru Matematika mana yang tak suka mengomel? Tapi cara mengomel Bu Nurul juga berbeda. Aku tak tahu apa bedanya, tapi.., rasanya beda saja. “Bu Nurul selalu berpesan untuk mengerjakan nomor yang sama. Ngerti gak????” tanya Bu Nurul pada satu kelas.. kelas menyahut. “ngerti Bu..,”

“jadi.., kalau kamu misalnya ngerjain nomor 15 Try Out 1, lanjut ke nomor 15 Try Out 2, insya allah itu akan menambah efisiensi kamu, karena sesame lima belas ini soalnya sejenis.” Kemudian kami diajak melihat bersama-sama. Dan masing-masing memerhatikan, membaca dalam hati.

***

Aku mengurangi ngerumpi. Tanpa kusengaja sama-sekali (sungguh) aku menjauhi mereka. Karena bagiku mereka penyeru dalam cerita hidupku di sekolah. tapi untuk ujian Nasional kali ini. Penyeru itu kurasa tak perlu. Setiap mereka memulai topic pembicaraan yang sangat mungkin bakal panjang lebar. aku mengalihkan pembicaraan. Seperti misalnya,

“Yasmin, lo tahu Benji gak di Mission Impossible,” waduh, aku sedang asyik membaca buku IPA nih. Tapi diajak ngobrol soal film favorit. Siapa yang tak mau?
“tau..,” kataku sambil lalu membalik-balik halaman buku IPAku.
“dia baru lulus jadi agen lapangan kan?” Nabil melanjutkan. Kalau begini terkadang aku sering tidak enakkan. Akhirnya aku pura-pura kebelet pipis. Dan berlari keluar kelas. Ini saat jam istirahat. Huh, memang agak rada-rada si Yasmin. Jam istirahat kan jam yang lazim untuk berdiskusi hal-hal yang digemari—yang sedikit tidak pentinglah. Tapi memang aku sedang menggebu-gebu dan meningkatkan kehausan rasa ingin tahuku dalam pelajaran pengetahuan umum.

***

Akhirnya aku sadar aku menjauhi mereka. Aku sempat merasa bersalah. Dalam tidurku, aku bergelung di atas kasur empukku. Dan mulai mengevaluasi kelakuanku belakangan ini. Kesimpulannya—biar saja. Lagi pula keakrabanku dengan mereka itu sudah biasa. Bahkan agak sedikit bosan. sekali-kali bergaul dengan buku-buku usang. Sepanjang aku bergaul dengan mereka berdua, aku tetaplah pecinta buku. Biografi, sejarah, novel, kumcer. Semua kulahap. Tapi dengan frekuensi sangat minim. Nah, sekarang. Kembalilah pada habitatmu, Yasmin.
****

Suatu siang. Aku makan di kelas. Bersama sahabat perempuanku, Avisah. Ia asyik mengajak ngobrol sambil makan. Biasanya aku menanggapinya antusias, kali ini tidak. Aku menjadi orang normal yang terlalu mentaati jadwal bakuku. Aku meletakkan kotak catering seperti biasa. Melangkah seorang diri ke perpustakaan. Syukur-syukur bila ada pengunjung, kalau tidak, aku benar-benar sendiri. Berada di perpustakaan berdinding full kaca seperti ini siapa yang tidak nyaman? AC pula. apabila cuaca mendung, sebisa mungkin aku menyamankan posisi dudukku saat membaca di perpus itu.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya, aku merasa asing. Biasanya ada suara-suara berat khas mereka menyapaku. Mereka kadang iseng memanggilku Beb.. bukan Bebeb. Tapi Sembep. Entah istilah dari Sule OVJ katanya. Tapi aku yang biasanya benci dipanggil begitu. tiba-tiba ingin sekali rasanya telingaku mendengarkannya. Menyelingi bacaanku. “Bep…, eh.., si Sembep lagi sendirian,” aku mendongakkan wajahku. Ternyata kosong. Langit yang semakin mendung membuatku merindukan suasana kelas yang gelap karena posisinya yang terhalang kamar mandi (bangunan kamar mandi tepat di sebelah kelas, dan posisinya menghalangi sinar matahari masuk). Membuat kelas-kelas di lantai bawah gelap semua. Biasanya di saat begitu mereka berdua duduk di lantai. Menyelonjor sementara aku duduk di atas bangku. Menyerong untuk menghadap mereka. Kemudian kami mengobrol. Atau hanya saling diam. Tapi tetap berkumpul bersama.

Aku menghela napas. Sudah beberapa bulan mereka tak mencoba berdiskusi panjang denganku lagi.

***

Hari kelima aku merindukan mereka. Di kelas mereka juga bersikap lain. Kalau ada tugas membuat kajian dari guru Bahasa Sunda kita (lebih tepat guru pikiran). Beliau selalu memancing pikiran kita menjad ilebih kritis dan maju dari biasanya. Pak Deni namanya. Beliau juga mengajar Seni Rupa. Seni rupa selalu membiarkan anak-anaknya menggambar dengan tema bebas. Biasanya, Nabil dan Wawan akan datang padaku. Nabil sudah dengan gambar bergaya factornya menanyakan pendapatku. Wawan dengan kertas kosong di buku A3nya memintaku menggambar. Tanganku yang lentur segera menggores pensil dengan cepat.

Nabil juga biasanya selalu punya topic tentang H.B. Jassinnya. Aku sebenarnya tertarik. Tapi belakanagn aku bosan, dan setelah membaca bukunya, ternyata karena ejaan dan gaya bahasanya yang terlallu jadul, aku capai juga membaca. Aku pura-pura tetap tertarik. Namun, untuk sekarang kutarik semua pola pikirku itu. aku tak mensyukuri mereka. Aku tak mensyukuri perhatian yang mereka berikan. Aku malah sempat menganggapnya pengganggu dan penghambatku serius. Ah…., aku begitu naif. Segalanya harus ada hitam di atas putih atau sebaliknya. Padahal untuk kasus ini, aku ragu, apakah aku yang terlalu ambisius dan apatis terhadap lingkunganku?

***

Di kelas aku kembali sendiri. Teman-teman geng perempuanku sedang hijrah ke lantai atas untuk makan bersama. Aku memilih di kelas karena berniat membaca buku IPS, memperdalam soal sejarah uang, tak cukup aku mencari artikelnya di Wikipedia dengan netbook yang kubawa (di sekolah ada WiFi). Aku menunggu Wawan dan Nabil yang merengek meminjam netbookku untuk memakai internetnya. Biasanya mereka akan membuka youtube dan video game counter strike. Semacam cheatnya. Astaga. Mereka akhirnya menatapku lagi! Agak lama dari ambang pintu kelas yang terbuka lebar. mereka melangkah masuk duduk di bangku mereka. Menenggak air mineral banyak-banyak.

Aku sungguh berharap…

Tapi mereka kembali berjalan keluar kelas. Karena tau ada aku di sini—mungkin. Yeah..
Aku terpaksa bersikap apatis. Kalau tidak, bisa-bisa aku berlarut-larut dalam prasangka dan kekecewaanku.

***

November. Tanggal ulang tahunnya Nabil. Tentu saja aku ingat soal Pajak Jadian yang waktu itu dibicarakan Wawan di kantin saat kami makan siang bersama. Anak-anak, kebanyakan anak laki-laki dan anak perempuan yang suka JB-JB. You knowlah.. menodongkan tangan yang terbuka meminta barang seribu dua ribu rupiah. Aku sedang diam di tempatku. Memperhatikan masing-masing anak. Senang saja aku melakukannya kalau sudah bingung hendak berbuat apa.

Sampai tiba-tiba, “Yasmin! Sini! Mau gak?!” teriak Nabil. Aku terkejut.

“Woy, Bep! Sini!” Wawan ikut melambaikan tangan. Aku bangkit dari bangkuku. Menghampiri kerumunan yang sudah sepi. Karena sudah selesai mendapat jatah “sembako” mereka. “lo sombong ama kita sekarang, Min, kenapa lu..?” tanya Wawan cair. Nabil dengan gaya sok coolnya mengeluarkan berlembar-lembar uang kertas dari dompetnya. Memamerkannya dan memegangnya seperti memegang setumpuk kartu.

“hayoo.. mau yang 50.000, 20.000, 10.000, 2000, 1000?” tanya Nabil berkelakar. Wawan memonyongkan bibirnya. “tadi aja anak-anak Cuma ditongolin seribuan!” Wawan jelas jengkel tuh. “gue Cuma pengen kalian,” kataku tersenyum aneh.

“wah.., itu sih bermilyar-milyar, Min!” Nabil melotot, nyengir menyeringai.
“seribu aja deh..! gue yakin Nabil gak serius tuh yang enolnya ada empat,” kata Wawan masih mempersoalkan.
“gue ngeselin ya belakangan?” tanyaku enteng saja.

“banget! Lo kayak bikin tembok pembatas sama kita. Kayaknya kita udah gak penting gitu, dehhh!” Nabil mengedikkan bahu. Memasukkan uangnya kembali dan menyimpan dompetnya di saku celana birunya. “bukan…, gue tahu lo pasti kesel banget. Ya udah.., gue khilaf deh! gue terlalu serius belajar, kalian marah?” tanyaku.

“jelaslah Beeep!” Wawan meremas-remas rambut kriting kecil-kecilnya.
Aku tertawa juga. Tak bisa menahan jaim lagi. “gak kok, Min. gue tahu dari mana lo, gimana lo, siapa lo yang asli.” Nabil berkata datar. Aku menarik napas dan menghembuskannya panjang.

“lo tetep bisa belajar serius dan fokus, tapi bukan dengan ngebuang kita ke daftar 1100. Ngerti gak? Kalo bisa lo malah pengaruhi kita dong, buat bisa belajar kayak lo,”

Ya ampun, benarkan itu Nabil yang bicara. Kurasa tidak mungkin. Tapi itu memang betul. Nabil yang selama ini kukira acuh sekali terhadap pelajaran tapi sibuk pacaran?? Haha!

“lo pengen berubah tapi susah ya?” tanyaku pelan. “dalem banget, Min lo nyindir Nabil!” cetus Wawan tak sabar dengan dialog pendek-pendek tak berkesudahan ini. “ udah yok! Ke perpustakaan. Nemenin si librarian kutu buku enni, nih!” Wawan mengambil langkah lebar-lebar mendahului kami. Aku dan Nabil saling berpandangan. Lantas tertawa lebar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s