Every Thing is Music for US

Aku berharap keajaiban itu ada. Aku menipu mentah-mentah diriku yang bilang, aku tak butuh hal semacam itu. namun, alangkah tidak logisnya. Seseorang bisa bertahan tanpanya. Lagu yang baru beberapi hari lalu mengalur tenang melewati gendang telingaku. Berhasil merasuk ke hati.

Dengan mual rasanya ingin kubakar rangkaian kata omong kosong itu. kata-kata dalam lirik itu. setengah jijik menatap teman-teman menyenandungkannya.

Aku jelas jauh dari petunjukNya. Buktinya ialah rapuhnya diriku sekedar sekali-dua mendengar—menyimak lagu tersebut. aku buru-buru mengganti lagu. Aku putar lagu rock. Aku merasa hancur, terlebih lagi, lagu ini berisi tentang kehancuran manusia yang berubah menjadi monster, habis karena saling memakan. Aku merasa sebagai manusia yang tak tau diri—melupakan sejarah nenek moyang kami—bagaimana mereka bertahan hidup.

Aku cepat mengganti lagu tersebut.
Aku pun memutar music instrumentalia.

Johan Sebastian Bach—Pachelbel’s Canon D Major. Celaka, meski tanpa lirik, kekuatannya lebih dahsyat. Tanpa kata yang memungkinkan pendengarnya lebih mengerti maknanya, aku terombang-ambing. Gesekan biola orchestra, terompet dan lentingan nada piano. Dadaku sesak. Aku pernah mendengar instrument ini.

Pertemuan kedua itu.
Pertemuan dengan orang yang tak mengenalku. Aku mendengarkan instrument tersebut sampai habis. Lega rasanya begitu gesekan biola yang dibawakan penuh kobaran perasaan yang campur aduk selesai. Marah, kecewa, bahagia, bangga, tenang, sepi, dendam. Semua emosi yang naik turun begitu labil. Beberapa instrument suling dan harpa, walaupun kebanyakan ialah biola. Kuputar, semua lagu dalam daftar playlist selesai. Aku memutuskan, ikut menikmati lagu yang menjadi kegemarannya (dia).

Astaga, lagi-lagi ini instrument! Full gitar listrik bervolume tinggi. Telingaku panas. Pengak. Karena baru saja aku mendengarkan Bethoven dan Bach, tiba-tiba gendang telingaku dientak gelombang suara dari gitar listrik Jason Becker. Hampir lima menit, instrumennya baru usai. Lalu lagu dari band baru. Hanya berlatar oleh dua gitar akustik. Perempuan. Nama bandnya Say I’m Insane. I hate to say it. But.. I’m disappointed of your music genre.

Aku tidak mengenalnya, ia juga tidak. Tapi seenaknya aku merasa dikecewakan oleh selera musiknya. Hanya yang satu itu. Jason Becker kupikir cukup keren. Ditambah Michael Jackson. Lucu sekali ya selera music dia. konyol ya diriku? (ya, dia juga sangat menggemari lagu-lagu Michael Jackson).

***

Aku kembali mendengarkan lagu country kesukaanku. Peduli setan dia suka lagu apa. Persetan lagu berkelas itu seperti apa. Dengarkan saja, lagu yang cocok/music yang nyaman—tak hanya di pendengaran. Tapi juga di dasar lubuk hati terdalam.

Kalau kalian tak suka genre laguku?

Apa kalian mau kupaksakan mendengar music yang kudengarkan? Lantas kalian tersiksa?

***

Karena aku berharap keajaiban itu ada. Aku pun berdoa. Tuhan pun.. mengabulkannya.

Aku duduk di sini. Kami semua berada dalam satu ruangan untuk seminar. Sekaligus pelatihan Brain Storming. Rasanya aku masik dimabuk sisa kesenangan dalam acara perpisahan sepekan lalu. Anak-anak peserta pelatihan digiring keluar ruangan. Kami akan mengadakan permainan out door. Kami diperintahkan membuat kelompok. Misalnya, tiga orang! Masing-masing kelompok harus terdiri dari tiga orang. Yang tidak kebagian kelompok. Harus mau menjalankan hukuman. Paling-paling bernyanyi potong bebek angsa dengan huruf vocal O semua. Itu sih, mudah. Seperti permainan kebanyakan. Syukurlah, aku selalu mendapat kelompok. Dan.. selalu mayoritas anak perempuan.

Kemudian, hal konyollah yang terjadi. Kakak pelatih mentitah kami membuat kelompok dua orang, harus laki-laki dan perempuan. Peserta di sini memang genap jumlahnya. Tapi tidak akan pas kalau harus berpasangan laki-laki perempuan begitu. aku yang modelnya segan hanya berdiam di tempatku berdiri. Berharap akhirnya mendapat pasangan perempuan yang juga memiliki perasaan segan. Pasti tidak bisa semuanya pas laki-laki perempuan. Karena jumlah masing-masing tidak sama.

Tiba-tiba kakak pelatih melambaikan tangan padaku. Aku menghampiri beliau.

“kak! Maksud kakak nyuruh sepasangan gini tuh.., apa hikmahnya?” tanyaku sedikit ketus. Kakak itu hanya tertawa. Melambaikan tangannya, memanggil seseorang. Aku tak tahu jelas arah lambaiannya. Apalagi anak-anak peserta lain ramai dan berisik riuh rendah khas anak-anak. Memang, hanya sedikit peserta berusia remaja. Aku termasuk remaja.

Di tengah keramaian aku tak berhasil menangkap siapa yang dipanggil oleh kakak pelatih. Tak lama. Orang yang dipanggil menghampiri. Ia yang akan menjadi pasanganku dalam permainan entah apa ini. Ia yang akan menjadi pasanganku.

“kalian saling mewawancarai. Nanti kita buat reportasenya mengenai biodata lawan bicara. Baru nanti kita ubah ke dalam bentuk narasi, kita buat Koran sendiri. Oke, asyik kan?” papar kakak pelatih sambil berlalu. Kemudian beliau meninggalkan kami. Mengurusi peserta lain yang sedang bertengkar (ah, anak kecil). aku dengan kaku beridiri di samping orang itu. laki-laki kurus tinggi, tapi tidak jangkung. Rambutnya ikal acak-acakan. Kemeja kotak-kotak abu-abu putih. Celana jeans longgar. Mata sipit, sedikit sembap. Sama persis saat……

Aku menoleh, tapi tidak berani melihat wajahnya. Aku takut salah. Aku takut kecewa. Barangkali penampilannya tampak sama persis seklias, namun ternyata wajahnya—bukan dia?

Ia yang duduk bersebrangan denganku. Tubuhnya membungkuk. Tidak antusias mengikuti acara. Wajah lesu mengantuk.

Ia yang duduk di balik dinding kaca, membuatku geram karena harus ada pembatas antara kami. Ia duduk di sana di balik dinding kaca bening tembus pandang. Di atas bangku, di depannya meja bundar kaca. Di sekelilingnya rak-rak buku berjejer. Perpustakaan.
Membaca sesuatu dengan khidmat.
Ia yang…

Aku menoleh. Mendongak sedikit. Memberanikan diri.

“Karena kayaknya kita bakal ngobrol panjang lebar. kenalan dulu–,”
Astaga, ia yang memulai.
Senyum kecilnya tampak ditahan agar tidak melebar—terkembang.

…..berdiri di sampingku.

Aku membalas senyumnya.
Sedikit gugup.

“eh.., ya,”

Kami sama-sama gugup mengeluarkan notes kecil dan pulpen. Setelah mendapat tempat yang pas di seantero halaman gedung pelatihan. Kami memulai wawancara kami.

Aku tau namanya.
Akhirnya ia tau namaku.

Namun ia tak perlu tau. Nyaris dua tahun, aku menyimpan namanya hanya sebagai khayalan. Khayalan tak terjangkau. Setelah biodata standart (kabanyakan biodata dirinya, sudah kuketahui) terisi semua.
Ia memulai..

“mau bahas apa duli nih?” suaranya. Suara yang selama ini juga hanya ada dalam anganku. Membayangkan dapat mendengar suaranya. Kini aku mendengarnya. Nyata sekali! Aku semakin yakin. Allah memang pandai mengatur scenario.

“duluan aja deh kamu, eh.. elo, eh.. ehm?” aku bingung harus memanggilnya apa.

“lo aja,” katanya rileks.

“lo duluan,” tukasku.

“hm… musik atau lagu? Remaja kan identik sama lagu. Gimana?”
Kudengar jeritan keras dari dalam kepalaku. Merespon.

#SIAPA SANGKA????

One thought on “Every Thing is Music for US

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s