Pertempuran di Tanah Warisan

Jangan rebut rumah kami. Aku mohon. Apakah harta akan merusak segalanya? Bukan memakmurkan kami? Aku mohon, kalian lebih tau dunia dan seisinya. Kalian lahir jauh sebelum diriku. Harusnya kalian bisa menyelesaikannya tanpa ada pertumpahan darah.

Knapa kusebut pertumpahan darah?

Karena kalian mempunyai kemungkinan tersebut.

Hei kau! Aku tak peduli berapa umurmu, tapi kurasa kedewasaanmu terlambat 20 tahun. Aku tahu.., ini semua milikmu. Yang membeli bukan orang-orang yang kini menghuni rumah menyedihkan ini. Mungkin sebentar lagi kau ambil pula potongan rumah ini untuk kau jual. kau mulai dululah dari perabotan-perabotan kecil, sedang/besar.

Mungkin kau nekad mencuri sertifikat rumah. Tapi ibuku yang berhati mulia selalu menahan diriku agar tidak berfikiran suuzon. Baiklah, akan kucoba untuk khusnuon padamu. Aku mungkin tampak keras dan kasar sama saja sih seperti kalian yang tak pernah dididik denga benar. tapi toh, aku masih muda. Waktuku masih panjang untuk berubah. Aku sedang berubah sedikit demi sedikit.

Dan engkau! Astaga, igin aku menangis melihatmu mencaci-maki saudara sendiri. Tuhan ada apa dengan dengan beliau yang selama ini kuanggap begitu anggun dan lembut. Ada apa dengan beliau yang smeula kukira murah hati dan senang memberiku jajanan (di masa kanak-kanakk) yang disimpannya di kulkas. Yang kini kau bawa pergi ke rumah barumu.  Kenapa kalian tidak saling mencaci saja sambil berhadap-hadapan? Dan menyelesaikannya saat itu juga. Seperti koboy. Sungguh lebih mengerikan mendengar orang baik yang jahat di belakag ketimbang orang jahat yang terang-terangan.

Tapi, aku tahu kok. Kalian sama sekali tidak jahat. Kalian begini hanya saat tuan kalian menunggangi kalian. Tuan sering lupa mandi, hingga tubuhnya begitu panas membara. Mungkin begitu selesai ditunggangi seperti hewan ternak, kalian masing-masing tersadar. Tuhan, ada apa dengan keluarga kami yang begitu bebal akan semua teguran dariMu dan nikmat yang telah Kau limpahkan pada kami? Kenapa kau biarkan orangtua kami meninggalkan tanah berhektar-hektar, kalau itu malah kelak menjadi tempat–medan pertempuran kami?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s