Celengan Dosa

  Angin kemaru menyapaku

Hawa ramadan merayuku

Nafas beratku telah habis

Keringat dingin mengering

Terusik oleh mimpi buruk

aku beranjak dari hibernasiku

Mencoba megacuhkan gema takbir bersahut-sahutan membetuk tempo

catatan dosaku berdesak dalam celenganku

Hingga tutupnya bergoyang

Tidak mampu lagi menampung

Mengharap aku mengosongkannya

Nasi telah jadi bubur

Buburnya kadaluwarsa

Kau jentikkan jemarimu

Maka semua kembali jadi beras

Aku mati rasa

Hatiku mengeras bagai batu

Nuraniku berpendar-pendar sinarnya

Asa yang tertumbuk kini mengudara

Menyatu dengan abu

Serpihanya membisu

Menangis aku mengumpulkannya

Seperti menggapai udara

Hampa…

Kemaa lagi nalasku bicara?

Kapan lagi hatiku mencair

Membasuh seisi kota

Kenapa lagi, ini semua terjadi?

Untuk apa lagi aku berpuasa?

Untuk siapa kukorbankan segalanya?

Bila mataku buta dari seluruh hidayatNya

Bila telingaku tuli untuk mendengarkan ayat suciMu dibacakan

Seandungku merobek kalbu

Relung dadaku menggelembung pecah berantakan.

Aku tau akan begini’

Akibat nyanyiaku

Tetapi aku tak peduli

Aku yakin ini semua belum terlambat

Aku yang memilih

Tetapi takdir tak bisa kubalik

Aku hanya memilih

Dan Engkau yang bisa mewujudkannya

Bila saat itu terulang kembaliii

Aku bersumpah akan menyebut Namamu lebih sering

Maaf bila aku terlalu congkak terhadapMU

Tuhan.. Beri aku hidup satu kaliii saja lagi.

Demi apapun itu

Hanya engkau yang memiliku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s