Ringkasan TELUR RAKSASA

Ada seekot burung puyuh, mempunyai kaki berwarna merah. Ia dijuluki, puyuh merah kaki. ia menemukan sebuah telur raksasa. Kemudian ia mengeraminya. Namun, karena telur itu terlalu besar untuk ia erami, ia selalu tergelincir dari atas telur. Iapun mengajak saudara-saudaranya, puyuh biru kaki, puyuh hijau kaki, puyuh coklat kaki, puyuh hitam kaki, dan puruh kuning kaki untuk mengerami telur besar itu bersama-sama.

Akhirnya semuanya mengerami dengan sukacita. Setelah telur itu menetas, keluarlah seekor anak burung yang menurut mereka, begitu bessar! Keenam burung puyuh mulai melatih anak burung itu untuk memanggil mereka: Ibu! Tak lama, anak burung itupun berteriak, “Ibuu!”

“Hore! Anak kita sudah bisa memanggil kita sebagai ibunya!” seru salah satu puyuh. “kita?! Tak mungkin ada seekor anak yang punya enam ekor ibu!”  celetuk puyuh merah kaki. “harus ada salah satu dari kita yang benar-benar jadi ibunya! Dan itu yang pantas adalah aku! Karena aku yang menemukan telurnya!” mendengar itu saudar-saudaranya kesal dan komplain. “kalau bukan karena bantuan kami! Telur itu tak mungkin menetas!” merekapun bertengkar mulut. Hingga adu fisik! Sang anak angkat hanya menonton dengan bingung dan terbengong-bengong.

Tiba-tiba, melintaslah seekor induk ayam kalkun di depan tempat mereka. Induk ayam itu sedang berjalan-jalan bersama anaknya. Anak burung raksasa berteriak,

“Ibuuuu!!” seraya berlari dan memeluk induk ayam kalkun. Melihat itu, keenam burung puyuh berhenti bertengkar. Mereka mengejar dan menarik kaki anak burung raksasa yang masih memeluk induk ayam kalkun. “kamilah ibumu!!” seru burung-burung puyuh itu. Tetapi, induk ayam kalkun menghalau mereka! “waah, sepertinya kau memang anakku! Soalnya, aku kehilang satu telur dan kulihati menggelinding ke tengah hutan. Rupanya telur itu telah menetas!” kata si induk kalkun. Kemudian anak burung raksasa yang ternyata anak kalkun itu, dibawa pulang oleh induk kalkun.

Burung-burung puyuh itu terpana, “sudahlah, biarkan ia kembali pada ibunya yang asli. Dan hidup bahagia di tempat asalnya.” Kata puyuh hitam kaki menyadarkan kelima saudaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s