Sekilas Khayalanku ttg Dieng

Halo semua, aku tinggal di pegunugan Dieng. namku Mimi. tak perlu tahu siapa nama panjangku. bagi orangtuaku, nama panjang itu tak penting. yang penting, aku punya nama untuk dipanggil. sedang ada konflik di rumahku. antara Ayah dan Ibu. ibu menuntut supaya Ayah mau ke Jakarta. katanya Ibu malu sama saudara tirinya. yang penghasilan suaminya saangat mencukupi. rumahnya mewah. ada kolam renang ada maacem-macem. saudara tirinya tinggal di Serang.
“di Serang kan? bukan di Jakarta?!” bentak Ayahku.

“kenapa musti ke kota siih?” kata beliau lagi.
“tapi kan deket sama Jarkata!! yang jelas, ibu mau sodara ibu itu, enggak mancang ibu sebelah mata! biar lebih gaya lagi, kita sekalian ke Jakarta! biar gantian dia yang ngiri!”
“haduuuh. ibu! kenapa kalau tinggal di Jakarta harus dicemburuin?”
“gak harus! tapi.. euh, tapi kaan!!?#&@($%*” Ibu frustasi. beliau heran juga, hasrat apa yang membuatnya sangat ingin pindah ke Jakarta.
“siapa yang nanti ngurus kebun kubis dan ketela Ayah?? masa’ Mimi? dia masih keciil. dan.. dan, dia bukan laki-laki.!”
“si Doli bisa tuuH! dia kan lanang.”
“tapii, dia kan masih 9 tahun,”
“ah, tauk ah! yang jelas, tu kebun bisa dijual. uangnya buat beli rumah di Jakarta!”
“hhhh..!” Ayah tak peduli lagi. ia sembunyi di loteng dan tidur masih dengan rokok di mulut. “AYAH LEBIH SUKA KITA TINGGAL DI SINI! APA BERARTI PINDAH KE JAKARTA NGUBAH RUMAH KITA?”
“suami gak bener!” Ibu mencak-mencak.
aku hanya dapat mengurut-urut dada. hmmm.
***************

Musim panen, musim paneen!! Sorakku dalam hati. Setelah mandi, langsung kukenakan baju, lalu solat shubuh, lalu memakai caping dan jas hujan plastikku. Aku mengikuti ibuku di belakangnya dengan pacul di pundak. Di sawah, selesai memanen. Kami makan siang di tengah-tengah sawah bersama petani-petani lain. Lauk yang paling kusuka adalah jagung. Nyami banget! Esok kami ingin menandur sawah ini. aku telah melupakan pertengkaran kemarin. yaah, sekali-kali tak usah ngumpet di kamar. kan aku juga butuh aktivitas menyegarkan. biasanya, tiga pekan ini aku sangat jarang keluar. karena Ayah-Ibu bertengkar di ruang tamu, menghalangi keberanianku untuk menuju pintu keluar rumah.

Aku bermain ke dekat jurang bersama teman-temanku. Di dasar jurang itu adalah sungai lebar yang arusnya deras. Sungai itu berasal dari air terjun yang ada di tebing jurang. Kami sering ke bawah untuk berenang. Di tebing sisi samping-sampingnya sungai itu, kami turun dengan tali tambang yang diikatkan ke batu besar di puncak tebingnya. Lalu kami turun satu-perasatu. Wah seru sekali deh bermain di situ! Di sungai itu kami membuat sampan untuk main arung jeram dengan menyatukan batangan dahan pohon yang sudah copot dari pohonnya. Kalau bukan dahan, kami menggunakan bambu-bambu dari atas puncak tebing. Lalu untuk menyatukannya kami menggunakan tali yang terbuat dari serat-serat pohon atau akar-akarnya. Untuk membuatnya, butuh waktu yang suaangat lama. Karena itu kami menyimpan sampan di tempat-tempat aman yang diperkirakan tak bakal menghilangkan sampannya.

Kalau sudah lelah bermain, kami beristirahat di bawah pohon pinus sambil memakan jagung yang sebelumnya telah kami petik dari kebun orang. Wakaka! Dasar, kami si pencuri cilik! Dedaunan pinus sering kami petiki untuk dipakai sebagai bahan pembuat mahkota. Daun-daun pinus itu kami kaitkan dengan ranting tanaman yang menjalar. Untuk menghias mahkotanya, kami memasangkan buah cerry di tengah-tengah mahkota. Jadi deh! Tapi kalau si putri/putra mahkota lapar, cerry itu akan hilang. Tau kenapa? Yap, karena buahnya dimakan mereka.

insya Allah, bersambung deh! hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s