Story in History

Suatu hari di tanggal eh, tahun 1596, seorang gadis manis dari Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman, SumBar. Ia mendengar kedatangan Belanda di Banten, kawan lamanya tinggal di sana. Masih dalam umur 11 tahun ia rajin mengikuti isu-isudan berita/informasi tentnag Belanda. Tak ada yang tau, sama sekali satupun rakyat Indonesia bahwa mereka dalam keadaan bahaya.

Jauh dari situ, di Banten seorang pimpinan kapal-kapal ekspedisi Belanda bernama Cornelis De Houtman. Tertawa-tawa beringas melihat seorang anak buahnya menggebuki  seorang waga di sebuah dusun. “jangan berani-berani memprotes lagi! Kau hanya melihat tampilan lurnya saja!” bentak anak buah itu pada warga. Lalu menendang seseorang. “eh….tapi kita bisa bikin perjanjian! Kami ke sini bermaksud membeli rempah-rempah!. Pokoknya hasil kerja kalian supaya gak sia-sia, kalian jual ke kami!” rakyat kebingungan. Apa sih yang nie orang omongin?

“kalo mau beri saya rempah-rempah, kalian semua akan saya bayar dengan barang tak ternilai harganya!!” iming cornelis
“harta?” tanya para warga. Mereka terlihat seperti anjing yang diming-imingi tulang-belulang bila sudah melakukan apa saja sesuai perintah sang majikan. Dan rencana para Belanda itu berhasil. Untuk berminggu-minggu lamanya rakyat banten rajin membawa berkarung-karung rempah-rempah kepada Belanda. Setelah itu biasanay meraka akan dilemparkan sekeping perak uang Belanda. Dengan o-onnya orang yang membawakan rempah-rempah berkali-kali mengucapkan terimakasih sambil menggenggam erat keping perak itu. Coba bayangkan! Berpuluh-puluh kilo rempah-rempah, dibayar dengan sekeping gulden!

“ya… tapi lumayanlah ! buat koleksi..” komentar seorang warga saat ditanya oleh anaknya yang dalam akademik, otaknya cukup pintar untuk masa itu.
“kayaknya kagak ada gunanya deh tu duit! Kan belum berlaku di sini!” begitulah pertanyaan si anak. Suatu hari akhirnya sang anak mencoba giliran mengantarkan rempah-rempah. Ia melihat si Belanda melemparkan sekeping perak ke muka si anak. Lalu meludah di depan kaki dia. “kurang ajar!!!!” desisnya tak tahan marah. “beginikah anda biasanya memperlakukan ayah saya setelah mengantarkan pesanan ini?!” kemudian ditendangnya sekarung rempah-rempah. “berani-beraninya kau?!!” gertak seorang kapten kapal. Nak itu kehilangan kendali emosi, lalu menerjang di kapten tanpa pikir panjang.

“JDOR!” otomatis si kapten menarik pelatuk senapan laras panjang yang mengarah tepat di kepala samping kirinya anak itu. Sebutir timah panas menenbus kepala kepala si anak dan menabrak otaknya.
“apa kata bos kita nanti?!” sahut temannya si kapten.

“jangan adukan!!”

“rakyat bisa ngamuk dan misi kita gagal hanya dalam beberapa Pekan?” temannya menatap geram.
***
Benar saja, 3 hari berlalu, bapaknya si anak itu berharp-harap cemas.
Kok gak pulang-pulang dia?” bapak menutup mata dan bersiap menangis. Sang kakak kembali memanjat tiang pemantau sekitar. –berharap melihat adiknya di salah satu titi ktempat. Tapi nihil. Duah tiga hari selalu begini. Kembali merosot turun dari tiang lalu berlai memerintahkan keempat adiknya yang tersisa untuk melacak keberadaan salah kakak mereka ke empat desa yang berbeda.

3 jam berlalu, keempat adiknya datang dengan putus asa. “mungkin sudah terlambat…” sahut seorang tetangga. Tapi tiba-tiba pak kepdes  menyongsong keenam orang yang berkumpul itu. “KABAR BURUK!!” semua berduyun-duyun keluar rumah dan mendatangi kepala desa.

“kawanku, pulang dari melaut, malah membawa mayat busuk tapi syukurlah bentuk wajahnya masih diketahui. Saat itu dia melaut sampai ke dekat dermaga kapal-kapal Belanda. ‘di bawah kapal, di dasar laut, kutemukan mayat. Kebetulan waktu itu aku hendak menyelam untuk mengambil jaring perangkap ikanku yang kecemplung ke laut pantai teluk’ begitu katanya!”
“di mana nelayan dan mayat itu sekarang?” tanya bapak yang kehilangan anaknya secara antusias.

“di rumah saya!”jaawab KepDes tak kalah antusias. Maka semua warga dusun itu berjalan rmai-ramai menuju rumah kepdes. Ssesampainya di teras rumah pak kepdes, seorang nelayan berwajah lesu tengah duduk di dipa nreyot. Ia masih shock menemukan mayat busuk di dasar laut. Istirnya menghampiri tergopoh-gopoh. “maaf dik, aku ndak dapet iwak seng akeh! Soalnya keburu musti ngeterke mayat teng kene”

“ndak pa-pa mas, dapet pahala kook..”

***

Raungan lelaki itu tak henti-henti. Yang paling mengagetkan beliau adalah lubang tembusan peluru senapan laras panjang di kepala samping kiri sang mayat. Air matannya membanjiri kaus yang dikenakannya. “ANAKKU!! KENAPA KAMU BISA JADI GINI?!” ia berteriak-teriak sampai suaranya nyaris habis. Semua turut berduka. Si mayatpun dikain kafan. Kemudian dikubur di sebelah rumah Bapak itu.

Rapatpun diadakan di rumah KepDes. “saya curiga itu perbuatan si Belanda..” lirih si Bapak berkata.

“kenapa anda bisa menuduh Belanda?” kepdes bertanya dengan nada kurang agree. “soalnya apa ada warga di sini yang punya senjata semodern itu?” si bapak memperkuat alasannya.

“iya pak! Bener kok, saya aja sebenarnya ditembak sama Belanda dari atas kapal! Untunglah saya berhasil menghindar walaupun perahu saya sempat oleng” si nelayan memberi keterangan. Semua wargaa akhrinya diajak oleh kepdes untuk menyerang Belanda. Salah satu warga ditugaskan untuk memprovokasi warga lain.

“sebenarnya kita telah dibodohi! Masa’ diperlakukan kasar begitu kita tak bertindak?! Apa kalian tak berperasaan peka? Kalo gka mau ikut nyerang, berbarti kalian BODOH! Mau saja dimanfaatkan oleh di Belanda bengis itu?!”
Semua warga panas hatinya. Dan tekadnya makin bulat untuk menghabisi Belanda. Mereka berdemo menuju dermaga. Akhrinya tujuan utama dimulai: BAKAR! Seseorang berlari membawa obor api raksasa. Ia sempat dihadang seorang Belanda bersenjata pistol. Tapi orang gila itu melemparkan orbornya ke belanda. Semua rakyat Banten melempari batu dan obor menyala ke geladak., kabin tiang-tiang layar smeua kapal. Cornelis marha besar pada anak-anak buahnya. Wah, pokoknya rakyat mengamuk sepuasnya hari itu.
Beberapa kapal selamat berlayar pulang ke Belanda, yang lain hangus berangus, porak-peranda………
****
Tahun 1598, ya… 2 tahun kemudian Belanda datang lagi dengan pimpinan kapal yang berbeda, dia adlah Jacab can Neck dan Warwijk. Mereka dengan cepat mengambil hati rakyat Banten. Dan bertahun-tahun berlalu, mereka sukses mendapatkan rempah-rempah dnegan harga murah untuk dijual di Belanda. Tahun 1619 31v Mei. Jacab van Neck memutuskan memindah kantor VOC yang dibangun tahun 1602 20 Maret itu ke Batavia. “apa alasan anda memindahkannya ke situ?!” tanya Warwijk gusar karena tidak setuju dengan keputusan itu. Dengan santai, Neck melambaikan kertas rincian Pro dan Kontra itu untuk membuat keputusan tersebut. Dan ternyata keputusan yang diambilnya ialah positive memindahkan pusat kantor. Tulisan-tulisan alasan setuju (Pro) yang dibesarkan adalah:
•    Letaknya lebih strategis untuk dijadikan dermaga, pelabuhan kapal-kapal dagang.
•    Lebih dekat dengan Tanjung Harapan
“baikalah, terserah kamu saja!” lalu masa lalu itupun teringat kembali.

Sebelu mdibuat VOC, antara tahun (tepatnya selama) 1596-1601 kapl-kapal daganhg Belanda datang lagi ke Banten. JUMLAH KAPAL ITU SEKITAR 65 KAPAL! Untuk kedua kali ini, Belanda datang degan sikap ramah dan lemah-lembut selalu. Itulah trik mereka mengambil kembali hati rakyat Banten.

Seperti dua tahun yang lalu. Waktupun berlalu dengan cepat, ternyata akibat persedianan rempah-rempah yang berlebih membuat harga rempah-rempah di Belanda turun drasti! Akibatnya perdagangan di Belanda kacau balau! Semua petinggi belanda merasa cemas, saling bertukar pikiran.. akhirnya.. salah satu anggota parlemen bernama Jacab van Oldabarnevelt mengeluarkan gagasan tentnag menyatukan seluruh perusahaan ke dalam satu perusahaan besar. Maka setelah melewati berbagai sidang musyawarah untuk mengambil kesimpulan persetujuan membuat VOC dan membuat pendapat yang memperkuat alasan membangun VOC bersama .

“Verenidge Oost Indische Compagnie, diresmikan untuk BERDIRI!” seru ketua sidang rapat musyawarah itu.

Seorang pemodal memberi uang sebesar 6,5 juta gulden unutk jadi modal pertama VOC. “apa tugas utama VOC pak?” tanya orang bawahan kepada Johanes van de Bosch. Orang bawahan itu adalah ornag asal ambon.

“memonopoli perdagangan rempah-rempah Indonesia-Belanda. Mau bergabung?” jawab De Bosch santai karena sudah tau: Ambon itu tololnya minta ampun! Si ambon mengangguk blo-on. De Bosch menyembunyikan kertas rincian tak-tik menguasai Indonesia perlahan-lahan. “tembak petani Batavia!” maksudnya, tak-tik ini mengorbankan nasib para petani di Batavai; bila petani ingin membeli kebutuhan sehari-harinya, hanya boleh beli dari anggota VOC. Para petani dilarang keras melakukan transaksi dengan orang lain selain Belanda. Dan bila si petani menjual hasil ladangnya (pokoknya jual apa saja. Tapi terutama=rempah-rempah) kepada Belanda 9memang lagi pula Cuma boleh menjual ke Belanda. Heheheh) harga jualnya Cuma boleh diputuskan oleh Belanda! Nyebelin banget kaan?!

Seorang yang super nyebelin di VOC membuat tak-tik baru dan mewajibkan devide et impera dilaksanakan—mengadu domba rakyat dan bangsawan. (especcially bangsawan) dan dengan cermat menjadi pelerai tanpa diketuhui bahwa mereka biang keladinya. Dengan sayarat: pihak yang dibantu harus melakukan apapun yang belanda ingin mereka lakukan. Kaum bangsawan yang dibantu, harus melaksanakan tugas yang diberikan Belanda meskipun itu harus membebani rakyat. Kerja paksa juga diadakan. Mereka dipaksa menanami tanak milik pemerontha tanpa upah. Menanam dengan kopi, cengkeh kelapa sawit dll. Pokoknya yang laku di pasaran luar negrilah! Sepenuhnya, keuntungan dari itu diambil hanya oleh Belanda.

Akhirnya, pada tahun 1799 VOC dibubarkan karna sudah berhasil mengeruk kekayaan hasil bumi Indonesia dan berhasil memonopoli perdagangan Indonesia-Belanda.

Herman Willem Deandelspun diangkat menjadi gubernur jendral. “haah… susah… berat!” keluh Deandels. “tenang say..” hibur kekasihnya. “kau pasti bisa” deandels menggeleng. “aku mesti membuat benteng pertahanan dari serangan inggris yang sedang marak…”

Kekasihnya masih memasaseu punggung Deandels.

“maksudku –pakai wilayah apa? Masa’ wilayah istanakaku yang jadi benteng?” deandels bergumam sambil berpikir. Lalu mengetuk-etuk dahinya. “pulau jawa.. kau tak dengar keputusan pemerintah pusat Belanda di Indonesia?” kata kekasihnya. “yap! Pulau jawa! Aku mengantuk sampai tertidur pada saat rapat.. jadi tidak dengar deh, keputusan itu!” lalu mereka tertawa tergelak-gelak. Pembantu kekasih kembali menuangkan setengah botol bir ke gelas kaca mewah penuh ukiran ornamen milik Deandels. “berenti sebentar sayang..” kata Deandels pada kekasihnya. “kau pasti capai,” kekasihnya mendongak terdiam, menatap Deandels. “baiklah..” mengusap peluh di dahi. “jemariku pegal..” lalu dengan lentik kekasihnya memainkan jari-jemarinya di depan mata Deandels yang terpesona.

***

“kita ke sini buat apa sih?’ seorang waga bertanya. “tauk!” jawab temannya. “kerja rodi katanye..!” sahut yang lain. “apaan tuh?” temannya bertanya. ‘pake’ cambuk blegug!’ kata seorang bocah 15 tahun. “kerja apaan pakai cambuk?” tanya yang lain.
Si bocah mendengus.

“disuruh ngano-in sapi ngkallee!”jawab seseorang. “bukan!” sahut si bocah akhirnya. Dia sebal sekali. Kok bapak-bapak itu pada O-ON sih? “apa-an dong?” seorang pemuda lain celingak-celinguk culun. “kita entar dicambuk kalo gak nurut perintah!” jelas si bocah sebal. Kenapa ayahnya membiarkannya ikut dengan rombongan buruh-buruh ini sih?!

“IYA?!” temannya bertanya meyakinkan. Keget sekali.
“emang sapi?” pemuda lainnya lagi menyahut. “waduh, gawat itu! Masa’ kita disama-in sama sapi, kebo dan sejenisnye? Manusia kok dicambuk sih?” celetuk si culun yang pintar.

Truk rombongan itu sampai di Anyer. Pengemudinya memainkan tongkat rotan ke arah gerombolan manusia telanjang dada di bak truk tersebut. “cepet turun! Terus kerja! Kalo gak, saya pukul pakai tongkat ini!!” ancamnya sambil mengacung-acungkan rotan itu ke depan hidung rombongan buruh tsb. “kalo ada yang membantah untuk kerja bener, cambuk beraksi!” kata teman pengemudi itu (yang ternyata anggota pasukan belanda) sambil melecut-lecutkan cambuknya ke depan. Beberapa orang terkena sedikit. Lalu segera menyingkir. “WAA! Turun-turun-turuuuun!” semuanya panik berlompatan turun dari bak truk. ***

Baron van Hoevell membenturkan kepalan tangannya ke atas meja besi “ciaauu!: lalu mengibas-ibaskan tangannya kesakitan. “tahan emosimu Hoevell!” kata Fransen. Meraih tangan Baron yang sudah siap memukul-mukul udara dan meninju siapa saja yang tersentuh dengan kulut tangannya. “dia sedikit mabuk!” bisik Douwes Dekker. “dan kemabukannya terparahkan oleh darah tingginya..” sambung Fransen secara bebisik.

“gawat ini!! Rakyat bisa menderita parah!” kata Baron. “aku ingin bicara emapt mata dengan Deandels!” kata Fransen setekah menghabiskan dua botol anggurnya. “jangan minum banyak-banyak! Nanti kamu mabuk juga kayak dia!” lata Douwes mengingatkan. “deandels kurang ajar!” fransen membanting pintu ruang kerjat dan pergi berlari menuju kediaman Deandels. “Puh! Mabuk juga deh!: cetus Douwes. “nyindir?” sahut Baron tiba-tiba. “kau? Kau mulai waras lagi.. sudah tidak mabuk?” kata Douwes sambil menyalakan api cerutunya. ***

“Tidak, tidak, tidak!, tidak.. pokoknya tidak! Aku tak bisa membatalkan acara itu!” tukas Deandels.

“kau bilang acara? Kau katakan itu dengan entengnya?!” Fransen merasakan gerahamnya gemeletuk. “sampai kapan proyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan itu selesai?” tanya Fransen. Ia menjadi gagap setelah sadar bahwa durunya nekad ke sini karena mabuk. Seandainya ia tak mabuk, ia bisa lebih mempersiapkan diri lagi untuk datang ke sini. “tidak tau sampai kapan.. tapi yang pasti. Aku akan terus kerahkan budak-budakku untuk bekerja sampai proyek itu selesai! Yeah, meskipun mereka harus mati dalam tugas,”Deandels berkata dengan santainya.

“kau!!! Kacaukah you?! Kau sudah error, ya?!!!” teriak Fransen tak tahan.
“bukan, kamulah yang error. Kamu baru saja mabuk, bukan?” kata Deandels tenang. “kau sudha keterlaluan Deandels! Tak lama lagi, kau bisa turun dari jabatan gubernur jendral jadi-jadianmu itu!@!*!#!” teriak Fransen lagi, menahan marah.

“silahkan buka pintu dan angkat kakilah dari sini!” kata Deandels dengan cengiran tertahan. “tak usah pura-pura ramah padaku,” lata Fransen dengan datar dan dingin. “Fransen van de Putte.. kau memang menyebalkan..” kata Deandels dengan nada rendah. Sedetik kemudian, Fransen sudah menutup pintu ruang kerja Deandels.-dia sudah pergi dari gedung itu.***

Berbulan-bulan berlalu, tingkat kematian rakyat betambah. dan terus-terus-teruuuuusss bertambah tingkat jumlah jenis penyakit. Rakyat-rakyat jelata bergelimpangan dalam bilik-bilik mereka. Ada jasad-jasad tergelat di atas tanah tanpa diurus. Sampai pera penguasapun ada yang sakit parah karena terus-menerus memikirkan nasib rakyat. Penguasa lain menuntut suapaya Deandels behenti bertindak semena-mena. Dari rakyat biasa sampai dengan para bangsawan sangat membenci Deandels. Pemerintah pusat Belanda di Indonesia marah setenagh takut akan tindakan yang telah Deandels lakukan.

Dengan segera Deandels dipanggil ke kantor utama di gedung pemerintah pusat itu. Di sana, ternyata jabatannhya dicopot oelh pemerintah Belanda di pusat Hindia.

Tubuh Deandels bergetar-merinding saking kagetnya menyadari jabatannya telah dicopot. Dia geram pada Fransen bukanmain. Dia curiga Fransenlah yang melapor pada pemerintah pusat. Kemudian ditelponnya lagi pemerintah pusat untuk bertanya

“aku tidak diberit tau/dilaporkan siapa-siapa. Tapi cukup dengan melihat angka kematian buruh-buruhmu. Dan mengamati tindakan-2 publik yang tak sedikit berdemo agar kau dicopot jabatannya. Lagipula para penguasa juga menelpon. Mereka menuntut supaya kau berhenti bertindak semena-mena. Yaa.. dari pada akhirnya rakyat berpihak pada Inggris? Jadi, sekalian saja kucopot jabatanmu!”

“ouw, jadi kau mencopot jabatanku, karena rasa takut itu ya? Yeaah.. tak apa deh! Lagian aku sudah capek mengurusi pemerintahan!” kata Deandels terus terang. ***

Setelah dia curhat kepada kekasihnya, kekasihnya Cuma berkomentar, “ah, kau memalukan..,” lalu dengan langakh pean kekaksihnya meninggalkan Deandels selamanya. “tunggu sayangku!!!” pekik Deandels sedih. ***

I8II, kekuasaan Belanda di Indoneia, jatuh ke tangan Inggris. Orang Inggrisyang memrintah di Indonesia saat itu adalah sir Thomas Stanford Raffles. Ia memang menghapuskan kerja rodi, tapi tetap saja mengharuskan bayar pajak dengan hasil bumi. Nama sistem perpajakan ini adalah landrente.
“apa, kek?”

“Landrente sayang..” kata kakek pada cucunya.

“bagaimana sistem perpajakan Landrente ,kek?”

“yang jelas, itu sangat memberatkan rakyat.., termasuk kakeknya kakek!” jawab kakek

“ceritakan dong kek!”

“menurut Landrente, samua tanah di wilayah jajahan adalah milik gubernemen. Tapi dengan syarat: para pengguna tanah harus membayar pada gubernemen berupa natura!”

“gubernemen…?” si cucu kelihatan cengok aja.. dari tadi.

“artinya pemerintah..,” si kakek mencomot tape goreng dan asyik menggregogotinya beberapa jenak. Belum habis tape goreng itu, beliau menaruhnya lagi di piring.

“nah.., sang kakek hendak melanjutkan ceritanya. Tapi si cucu menyelak. “ehm.. apa ya itu artinya.. eh? Apa tadi? Natura?” sang kakek mendengarkan cucunya dengan tertawa. “arti natura adalah hasil bumi/alam. Dari kata nature sebenarnya,” jawab kakek dengan nada halus dan ramah seperti biasa.
Kakek kembali menggigit tape goreng sisanya tadi. Lalu mengunyahnya sambil tetap tersenyum pada cucu. Akhirnya menelannya, mengirimnya ke lambung.

“mari kakek lanjutkan ceritanya?…:” sayang sekali kada masa itu belum ada kadaster yang berfungsi menentukan jumlah pembayaran pajak. Jadinya.. ya.. kurang akurat! Para penghitung luas tanah tak bisa menentukan dengan tepat dan akurat. Akibatnya, pajak yang diterima tak sesuai dengan luas tanah dan kesuburan tanah yang digunakan para petani. Karena situasinya begini, sistem Landrente ini gagal mencapai sasaran!” kakek menuturkan pelan-pelan dengan pancarab wajah lembutnya. Cucu beringsut turun dari kursi yang bersebrangan dengan kursi kakek. Ia berpindah ke pangkuan kakek. Lalu mengikuti semua tingkah kakek selama berurusan dengan tape goreng. Sambil mengunyah tape goreng, cucu terus bertanya. “kakek,apa dulu tiap sore ibunya kakek selalu ngegoreng tape?”

“tidak selalu.. ibu sangat sibuk mengurus adik-adik kakek yang berjumlah tujuh”

“ha? Yang benar?!” cucupun terbelalak. “sayang, segala sesuatu tak ada yang mustahil bila allah sudah berkehendak. Bisa aja pohon mangga yang terlihat kokoh itu suatu waktu tumbang begitu saja,”

“ah! Jangan ngomong gitu dong kek! Aku gak mau genteng teras kita ketiban pohon raksasa itu kalo sampe’ tumbang!” kakek tertawa. Kembali bercerita, “karena gagal, stanford Raffles memberlakukan lagi sistem kerja paksa. Rakyat kembali dipaksa menanam tanaman-2 yang laku di pasaran luar negri. Dan lagi-2, tak diberi upah! Tahun 1816 penjajahan inggris berakhir di Indonesia!:“hore!” si cucu bersorak senang mendengar kata: ‘penjajahan berakhir’. Tapi Indonesia dijajah lagi sama Belanda,” lanjut Kakek. “yah.. kok gitu!? Cucu kecewa dan sedih. “sampai segini dulu ya ceroitanya!” kakek segera menghabiskan tape goreng jatahnya. Cucupun mengikuti “ah! Lanjutkan dong kek! Aku kan penasaran!” cucu mnerajuk. :udah mau magrib, cu! Ayo ambil sejadah ama peci. Kita ke mushola!!” kakek bangkit dari duduk lalu menghela napas banyak-banyak. Cucu masuk kek kamar dan mengambil dua pasang peci dan sajadah. Satu pecinya dan satu lagi peci kakek.

“umi! Aku mo pergi! Salim doong!”

“pergi ke mana?” umi memasangkan peci ke kepala anaknya.

“ke mushola laah! Masa; ke diskotek?” umi mendelik mendengar perkataan anaknya. “hush! Anak kecil tau diskotik! Ya udah gih! Berangkat sebelum telat!” suruh umi mengantarkan anaknya ke teras. Sudah ada kakek yang berdiri degan baju kokonya. Dan wajah basah oleh air wudhu.

“hah! Aku belom wudhu nih!” cucu sekaligus anak umi itu menepuk kening lalu berlari ke toilrt. Ia wudhu cepat-cepat dan dalam semenit sudah kembali ke teras. Dalam perjalanan berangkat…………

“kakek! Dulu kecil kakek sering diceritain kisah sama kekeknya kakek gak?” tanya cucu sambil berjalan di pinggir kiri jalan. Pertanyaan tadi membuat kakek tertegun. “kakeknya kakek udah meninggal pas akhir penjajahan Belanda..,” cucu balik tertegun. “tapi sekarang kakek tau rasanya jadi kakek yang suka cerita, kan? Menyenangkan, kan kek?”

“ah, ya!” kakek kembali tersenyum.

Selama Belanda berkuasa lagi, rakyat masih menderita akibat perang terus-menerus. Belanda terpaksa mengeluarkan biyaya banyak untuk melawa Indonesia yang memerangi mereka. “kau punya usul?”
“Tidak,”
“Kau?” pemimpin rapat bertanya pada yang lain.
“oh-yeah! Sama dengan dia!”
“kau?” pemimpin rapat bertanya pada pengawalnya yang berdiri di samping belakang kursinya. “saya hanya melaksanakan perintah bos dan menuruti apapun keputusan Bos!” kata pengawal itu seraya berdiri lalu menunduk hormat pada bosnya. “OH! Kalian ini ingin bikin aku jengkel ya?” pemimpin anggota rapat mulai mengeluh. “maksud anda?” tanya salah satu anggota rapat. “kalian sungguh-sungguh tak ada yang kreatif?! Tak satupun usul yang kuterima dalam daftar ‘USUL RAPAT KALI INI’ yang masuk akal atau bermutu! Lagi pula inipun hanya 3 usul. Ya tuhaaan! Aku sudah mencoba berkali-kali membuat usul dan kalian tak ada yang setuju! Lalu, ketika kutanya, apa usul kalian? Oh, tak ada yang dapat menjawab dengan benar! Rasanya aku bakal gila saja!” omelnya.
“maaf, keluhan anda terlalu panjang untuk saya catat dalam buku catatan consultation saya. Oho..” seorang dokter konsultator tertawa renyah.
“eh, umm, gini pak! Saya sebenernya udah bikin tapi..ngngng. mungkin? Eh-duh!” kata seseorang yang agaknya sangat gerogi. “APA??” tanggap pimpinan rapat dengan wajah murung dan dongkol. “cepatlah katakan! Isiatif untuk menyenangkan hati saya,kek?”
“apa bung? Usulnya apa?” orang gerogi itu bertanya pada rekan di sebelahnya. Sang rekan segera berdiri PD. Lalu memberli salam hormat dan.. :usul saya dan rekan grogi saya ini—bagaimana kalau.. pulangkan saja mereka yang homesick ke tanah air kita tercinta?”
BRAK! Pimpinan rapat membanting buku tebal daftar absensi anggota ke atas meja. “lagi-lagi usul tak berguna! UH!” whuu, dia makin gusar! “badan saya sangat sering gatal tiba-tiba semenjak tinggal di tempat aneh ini pak!” adu salah seorang.
“karena itu, rajinlah mandi!” gelegar sang pimpinan rapat . “saya tak tahan lagi! Bisa-bisa mati kegerahan saya kalo nekad tinggal di sini kelamaan. Kakak saya aja nyaris mati saat ekspedisi ke hutan karena tak pernah mandi. Lalu beneran mati kena sakit malaria,” lanjutnya lagi. Kini dengan air muka cemas dan sedih. Dan sambil garuk-garuk pula!
“DIAM! Kok jadi ngomongin mandi sih? Sudha kamu! Jangan mengeluh lagi! Kamu musti bisa beradaptasi dengan tempat ini bila masing ingin jadi anggota tetap dalam pemerintahan Hindia-Belanda ini!!” sahut seorang lain dengan gebrakan keras—benturan antara kepala kursi dengan meja.
“Hei! Kau sendiri dari tadi tak memberi usul?”
“maaf pak! Tapi sedari tadi kami sudah menyiapkan usul-usul dan saran yang lebih bermutu. Tapi kami sedang mempertimbangkan dengan lebih matang. Supaya bapak tak meledak lagi saat mendegar saran tak bermutu. Jadi saya harap, bapaka bisa memakluminya!”
“sudah! Tak usah bertele-tele. Langsung saja ke intinya bung!” sela pimpinan rapat.
“cultuur stelsel,” jawabnya singkat.
“apah?”
“cultuur stelsel tuan..”

“oh, bagaimana sistem itu bekerja?” pimpinan rapat mulai tenang suasana hatinya. Ia jadi penasaran.
“kupikir, tuan lebih tau!” celetuk si gerogi.
“diam! Aku berdialog dengannya! Bukan denganmu!”
“oups, uhuk-uhuk,” orang yang hendak memberi usul ‘lebih bermutu’ itu terbatuk sejenak. “baik.., ehem! Cultuur stelsel merupakan sistem kombinasi antara sistem lama VOC dengan sistem perpajakan tanah yang musti dibayar dengan hasil bumi,”
“kamu meniru sistem inggris?” tebak rekan si grogi.
“tidak! Tentu saja tidak!” jawabnya gugup.
“bos bilang, kan. Harus lebih kreatif! Jangan niru dong..” sahut pengawal pimpinan rapat. Pimpinan rapat menunduk sambil menhela napas, lalu menunjuk dengan jari telunjuknya teracung panjang ke arah si grogi. “cukup! Kau keterlaluan Vande Velde! Kukeluarkan saja kau dari anggota rapat yang tetap! Bagaimana, setuju! Oh-ya, dan kau pengawalku!”
Pengawal itu menunduk lebih dalam. Wajahnya pucat pasi.
“kau kupecat!”
“HAA! Hanya karena itu tuan? Jangan tuan! Pecat saja saya asal jangan buang saya dan mengembalikan saya jadi budak! Ooh!” pengawal itu benar-benar sedih.
Tapi si grogi seakan sudah gila, santai-santai saja. Bahkan menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan tangannya di silangkan di bawah kepala belakangnya. Badannya disenderkan pada kursi. Sebelum pengawal itu meminta pembelaan lagi, orang yang akan memberi penjelas lebih lanjut tentang cultuur stelsel, berkata dengan begitu pelan.
“hhh…, kalian kekanak-kanakan! Sebaiknya kita urusi si grogi dan pengawal itu nanti saja. Sekarang kita rampungkan dulu rapat ini..,” katanya. Seketika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s