Puput dan Situgintung

Siapapun berpikir aku ini lemah, tapi tidak aku tidak cengeng! Setelah itu aku tau apa makna bersaudara. Sikapku dulu memang sangat menyebalkan. Aku ini anak bungsu jadi kupikir tak apa toh aku bersikap kolokan. Dan segala sesuatu selalu merengek pada ortu. Tapi hari sial itu tiba saat adik baru lahir dari  perut ibuku. Dan dia laki-laki, senangnya hati abangku karna akhirnnya punya saudara laki-laki. Kakakku juga senang terlebih karna merasa makin dewasa. Aku yang paling sebal. Hampir setiap hari perhatian penuh selalu tertuju kepada adik pembawa sial itu! Bah! Padahal aku dulu yang paling ingin punya adik baru. Tapi tsecara mental aku belum siap. Yaah.. apa mau dikata. Aku belajar mandiri secara terpaksa. Untung kakak sulungku tak jadi menjauhiku, karna akhir-akhir ini emosiku tak bisa dikendalikan. Sampai adikku berumur 3 tahun, akhirnya dia mengerti aku benci padanya. “Nah, kau sudah lebih paham sekarang!” aku bentak adik baruku.

Suatu hari di hari libur. Aku bangun subuh-subuh kudengar tangisan adikku karna minta enen tiba-tiba. Cih! Anak kecil merepotkan saja. Aku mengambil air wudhu. Menyusul kakak-kakakku. Aku bangga melihat kakak sulungku, dia selalu berusaha bersikap adil dalam membagi kasih sayang kepada adik-adiknya. “kamu juga dulu ngerepotin say.. ayah-ibu yang cerita ke aku.” Kata kakak padaku. Aku mendongak terpana. Kakak sepertinya tau isi pikiranku tadi. “kamu harus berperilaku baik pada adikmu yah..! sayang, sebagai saudara kandung harus saling menyayangi doong.. jangan kecewakan kakak yah! Jangan sampai saat kakak mati kamu masih berantem sama adikmu..” aku Cuma menanggapi datar.

Kami solat berjama-ah. Ibu tidak ikut solat soalnya harus ngano-ngano-in adik baru itu dulu. Saat kami solat berjamaah dengan dipimpin oleh Ayahku. Di tengah solat saat kami sedang rukuk, terdengar guruh air di depan rumahku. Guruh air itu terdengar jauh tapi lama-lama….. mendekat! mendekat! Dan! [PYAR! Terdengar bunyi gelombang air raksasa memecah terbentur dinding rumah kami (di teras). Bunyi itu terus beruntun tak henti-henti sampai.. pada tahiyat akhir deburan itu meretakkan dinding teras. Air mengairi sela-sela retakan dinding, dan… “assalamualaikum warahmatullah.. 2X” ucap ayahku.

Tiba-tiba DRAG!

Sebuah deburan air besar membasahi tubuh kami yang membelakangi dinding teras. SYRUUSY……. Bunyi air kembali membasuh seluruh tubuh kami..

Kami bangkit terburu-buru dari duduk simpuh. Air telah membasahi seluruh tubuh kami. Perabotan kami rusak berat. Dan beberapa menit sebelum rumah ini runtuh total, Ayah berteriak “lari keluar!!!!” aku tak peduli pada semua suar-suara itu. Aku langsung keluar dari rumah lewat pintu belakang menuju kebon kami. Aku mengambil sampan buatan ayahku dan menaikinya. Beberapa detik selanjutnya, aku hanya dapat memejamkan mata dan beerpura-pura tak dapat menyaksikan semuanya. Aku duduk diatas sampan sambil merunduk. BYUURRR!!! Lagi-lagi deburan keras menghantam rumah kami dan.. GRUDUK! “kakaaaak!!” aku mendengar adik baruku itu memanggilku di sela-sela reruntuhan rumah kami yang sudah digenangi air. Namun aku tak peduli. Aku terus merunduk sambil memejamkan mata. Pasokan deburan air tak habis-habis, dan akhirnya aku sadar rumah kami akan tenggelam dalam sungai lebar. Aku mengambil sembarang tongkat panjang yang kuduga berasal dari perapian tetangga. Dan kudayung sampan itu sebisaku. Kulihat ibu muncul dari permukaan air, menggemblok adik baruku yang kelihatannya sedang pingsan. Disusul gemuruh jatuhnya bangunan-bangunan lain, berdebum membuat deburan air lebih tinggi. Rumah-rumah tetanggaku juga hancur. “kakak di mana?!” aku berteriak serak-serak basah. Dan kulihat menyembul sedikit wajah dan permukaan lekuk-lekuk tubuh manusia di dekat sampanku yang sudah terapung di atas air. “KAKAK?!” aku melompat dari atas sampan dan menceburkan diri ke air banjir ini. Dengan gesit aku memeluk kakakku yang mengapung itu lalu menariknya sekuat tenaga ke sampan, tapi arus air yang entah dari mana asalnya menyeret sampan kami menjauh. Aku hanya dapat menggerakkan kaki yang terasa sangat berat karna terlalu basah. Aku berusaha berenang sambil memeluk kakakku yang tetap mengapung. Aku berlari dalam air sekuat tenaga menuju bukit yang lumayan tinggi di dekat kebon kami. “BRUSSSH!” lagi-lagi deburan air mengamuk dan menampar wajahku lalu mendorongku ke sebuah pohon terbesar di kebon kami. Aku menggigil, aku tak bisa memikirkan hal lain selain: selamatkan diri sendiri! Aku memeluk dahan pohon, oh.. ternyata aku nyangkut di dahan pohon kebonku. Sementara pohon-pohon lain yang dulu sangat indah berseri menghijaukan kebonku, tumbang susul-menyusul. Aku terus memeluk dahan pohon itu sekuat tenaga, jangan sampai jatuh! Di bawah sana, ombak air keruh menggulung-gulung dengan ganasnya. Aku tertidur.. sejenak aku melupakan kakakku yang telah lama hilang dari peganganku..

Matahari bersinar tinggi. Aku dapat melihat burung berciap-ciap sambil terbang di langit jauh di atas permukaan air coklat keruh ini.. air keruh? Mana rumah-rumah itu? Mana kebon-kebon indah dan menyejukkan pandangan itu?! Seekor burung ternyata bukan berciap-ciap bahagia sebagaimana bila burung berciap-ciap karna menyambut pagi yang indah. Burung itu sedih! Dia hinggap di dahan basah sambil mematuk-matukkan paruhnya ke dahan itu. Dia teruus mematuk dan.. lalu terbang begitu terlihat burung lebih besar darinya di dahan pohon lain. Dia hinggap di dahan pohon yang ada burung terbaringnya itu. Lalu.., dia diam terpekur memejamkan mata sambil berdiri di sebelah si burung yang warnanya sama persis dengannya. Hanya saja bentuknya sedikit lebih besar.

“oh? Itu ibunya? Eh—kakaknya?!” aku tersentak mengatakan kata kakak. Aku terpeleset dari atas pohon dan byur… aku nyemplung ke dalam sungai lebar yang sudah cetek ini. “cari kakak! Cari..!” aku menggigit bibir berusaha menelan semua kenyataan ini. Kira-kira ini sudah jam enam atau setengah tujuh pagi. Ombak besar itu sudah berhenti aktif.. aku menyipakkan semua air yang kulalui. Ketinggian air mencapai dadaku..  aku terus berjalan melawan rasa lelah yang teramat sangat. Dan.. TUK! Aku tersandung sesuatu di dasar sungai keruh ini yang mulanya adalah desa yang indah. Ku raba-raba dasar sungai. Dan aku merasakan lekukan hidung! Lalu kucoba mengangkat seusatu yang panjang di dasar situ, dan ternyata di permukaan air kulihat sebuah tangan. Yang kuangkat ini adalah tangan! Lalu dengan cepat aku tau mana perut manusia ini. Sungai buatan mendadak ini memang airnya sangat keruh dan kotor. Jadinya dasarnyapun tak kelihatan. Aku mengangkat sebuah kepala orang di dasar situ. OH! AKU MENGENALI WAJAH INI! walaupun sudah sedikit rusak. Aku mengenali wajah ini.. “kakak!” aku memeluk jasad ini.. aku akan berjanji tak akan membenci adikku kak.. mulai saat ini ya allah!! Maafkan aku kak, Allah.. aku akhirnya sadar, payah benar aku, punya adik baru malah dibenci! bodoh, bodoh , BODOH! Betapa bodohnya aku! Ternyata rasa benci itu bersumber dari kecemburuan yang disulut oleh goda-an setan!

Aku Cuma dapat menangis terisak-isak. Aku memeluk jasad kakak dan menyeretnya dalam air menuju ke kaki bukit di balakang kebonku. Di sana ada dataran yang lumayan lebih tinggi dari ini. Dengan begitu aku harap kami tak perlu berbasah-basah lagi. Setelah membaringkan tubuh kakak di atas tanah kering di atas bukit itu. Aku turun lagi ke ‘desa tenggelam’ kami. Dengan mata kering (tak bisa nangis lagi) aku kembali menyipak air keruh yang sudah mulai surut ini. Aku pergi mencari ayah. Di kebon, kulihat pohon-pohon kami yang telah tumbang dan, di sela-sela rimbunan pohon tumbang yang rusak. Aku melihat sekilas sosok manusia. Kurobek-robek dedaunan rimbun pohon (yang kini di dasar air dan sebagian lagi kelihatan di atas permukaan air) dan kutemukan sebuah bahu. Rimbunan ini masih lebat. Kukuak lagi sampai terbukalah sebuah lobang robekan besar menganga di antara rerimbunan daun pohon ini. Di dalamnya ada Ibu terbaring, bajunya koyak, beliau sedang memeluk adikku……. Aku langsung menyeruak ke dalam tak peduli duri-duri tangkai daun melukaiku. Aku menarik tangan adikku, cukup enteng.. kugendonglah dia. Sambil tetap menggendong, aku menarik tubuh Ibu. BERAT! Aku terus mencoba tak henti-henti meskipun tubuhku mulai gatal berendam dalam air kotor iniii terus.. aku berani bertaruh, habis ini pasti aku bakal kena kutu air! Oh, tapi jangan sampai. Allah! Jangan anggap itu sebuah permohonan… Aku mencoba tak henti-henti menarik tubuh ibu. Tenagaku terkuras karna terlalu lama menggendong adikku sambil berusaha menarik tubuh ibu dari dalam rimbunan dedaunan pohon ini. Aku mulai putus asa, dan masih terus mencoba menarik tubuh ibu keluar dengan deraian air mata menyerah..

Helicopter-helikopter berdatangan. Mendarat tak jauh dari tempat musibah ini. Lalu keluarlah orang-orang berseragam dari dalam helicopter itu. Mereka berpatroli mencari sesuatu. Menyusuri genangan air keruh nan kotor ini.. aku tertidur di kaki bukit bersama adikku. Sesuatu terantuk tubuhku. Mereka orang-orang itu!! Aku mengucek mata. Aku takut. Takut tanpa alasan yang jelas. Tentu kalian dapat memakluminya bukan? Aku adalah bocah cilik berumur 5 1/2 tahun saat itu. Seseorang mengangkat tubuhku dan menempelkan telapak tangannya di dadaku. Kemudian: “yang ini hidup! KEAJAIBAN!” lalu akupun ditaruh di atas tandu dan dibawa ke arena sekeliling tempat parkir helicopter itu. Di sekitarku, terbaring juga orang-orang lain yang telah memejamkan mata dengan wajah membeku. Aku menggeliat, berusaha bangun, lalu menyentuh salah satu wajah orang-orang itu (yang semuanya diselimuti terpal-dari ujung kepala sampi ujung kaki). Aku membuka selimut itu, dan.. deg-deg 2X..

“Bi Iyeum? Bi? Bibi tidur apa, apa sih nih? Jangan pura-pura gak denger deh Bi! Bibi! Bibi?!!!” aku terus menggerak-gerakkan kepala beliau. Berharap dengan begitu beliau segera bangun. “BIBI! Ih! Bibi ini! Jangan diem aja dong bi! Bibi sebel sama aku..???” dengan polosnya aku bertanya. Lalu, lelah berusaha membangunkan beliau aku kembali membaringkan diri. Mencoba tidur kembali. Tapi tak bisa, kudengar langkah-langkah kaki menuju ke arahku. Oh, orang-orang yang berpatroli itu..

“dik? Udah bangun dik?! Alhamdulillah! Heh! Yanto! Meriki! Ono cah uwes bangun!” kata orang berseragam itu riang. “kenopo mas Bambang?” seseorang lain menghampiri yang tadi berkata riang. “Iki! Uwes siuman! Dik? Boten nopo-nopo kan yo?”

“gak ngerti..” kataku lemas sambil menggaruk kepala. Sontak semuanya tertawa. Oh.. mereka petugas-petugas penyelamat kami yang disuruh pemerintah. Itu Cuma persepsiku tapi menurutku, hanya allah yang dapat menyelamatkan kami. “Adik Dimas mana? De’ Dimas mana..?” kataku lunglai berusaha bangkit untuk duduk. Seseorang berhenti mendadak meminum kopinya. Lalu dia menyemburkan isi mulutnya keluar. Sepertinya dia terlalu kaget mendengar ucapanku tadi. “yang anak laki-laki kecil di sebelah kamu tadi itu?”

“MANA??” keluhku garuk-garuk kaki.(waduh kayaknya bener nih kena kutu air!) “manaa..???!” aku mengentak-entakkan kaki. Rupanya karna aku masih sangat kecil waktu itu, aku tak mengerti maksud pertanyaan bapak-bapak yang tadi nyemburin kopi dari mulutnya itu. Aku direngkuh oleh beliau. “sabar ya adik kecil..” aku tentu berontak. Dan.., “INI! INI DIA! Masih hidup!’ teman beliau keluar dari helicopter dan menggendong di depan dadanya seorang bocah lelaki kecil. “de’? adek..?” aku loncat berdiri. Dan menghampiri bapak-bapak yg sedang membaringkan adikku di atas terpal di sebelah tanduku. “adik masih bobok? Dik.. bangun dong! Belum solat subuh kan..?” aku menggoyang-goyang pelan tubuhnya. Bapak-bapak tadi menatap terharu pada kami. Beberapa menit kemudian, adikku membuka mata dan..

“eng.. engngngng….! Engh!” dia menggeliyat gelisah. “dik! Bangun dong ah! Jangan rewel ya!” kataku setengah memaksa. “EBOOO!IIIBUUUU!” Panggilnya. Aku menepuk kening. Aduh kenapa kutinggalkan ibu di semak-semak itu?! “ayo dik! Jemput ibu!” aku memaksanya bangkit. Bapak-bapak tadi sudah bubar kembali berpatroli. Aku menggemblok adik dan pergi diam-diam dari pengawasan bapak-bapak lain yang kayaknya bertugas mengawasi kami semua yang terbaring di dekat helicopter. “jalan-jalan ke bendungaan…” pinta adikku masih setengah bobok. “kamu ngigo ya?” dia tak menjawab. Jujur hatiku senang sekali bersyukur dia masih hidup.aku terus berjalan menuju pepohonan tumbang itu tempat jasad ibu tersembunyi. Sambil menggemblok tentunya.. “ke BENDUNGAN! AAH! Mau jalan-jalan! Mau piknik bareng lagi sama ibu-ayah!” adikku berteriak-teriak rewel. “SST! Dieem!” aku sedikit membentak. Tiba-tiba, saat hampir sampai di kebon lama kami, adikku menggebuk-gebuk punggungku. “ah! Kalo gitu kamu gak usah kugemblok deh!” aku menurunkannya. Dia kembali menggebuk lebih keras, “GAK MAUU! AKU MAU KE SANA!! BIAR PIKNIK BARENG LAGII!” Aku kembali menggembloknya. “duuh, repot deh emang kalo momong adik masih seumur aku!” aku menepuk-nepuk pantatnya pelan. “sst.. diem yah! Bapak-bapak itu entar nyari-in kita…”

Kami berdiam di tenda bobrok. Sambil tetap menggendong adikku, aku mencari-cari sosok ayah di antara kerumunan manusia dewasa. Adikku tertidur terlampau nyenyak. Dia terlalu lelah selama pencarian abang dan ayahku bersama orang-orang berseragam. Kulihat ibu-ibu gendut yg kayaknya kukenal, sedang duduk diatas tikar sambil menggigit-gigit bantal dan menangis jerit-jerit histeris. Seorang mbak-mbak berseragam mewah memegang microphone menyodorkan mic-nya ke arah remaja yg duduk di sebelah ibu-ibu gendut itu.. mereka saling berbincang. Aku mendekati sambil berjalan dengan kaki berlutut. Menyeret dengkul yg terasa sangat ngilu. “mbak Jenah?” aku memegang ujung kebayanya. “eh-? Dik Puput?” katanya menoleh ke arahku. Mbak-mbak yg rupanya sedari tadi mewawancarai mbak Jenah menoleh juga padaku. Microphone sudah mulai di sodorkannya kepadaku. Tapi begitu seorang penge-shoot menepuk pundaknya dan menggelengkan kepala, dia menarik lagi mic-nya dan disodorkan lagi ke mbak Jenah. Aku tak mengerti, sama sekali tidak. Yang kini memenuhi kepalaku Cuma Abangku dan Ayahku. Di mana mereka? Apa nasibnya sama dengan Ibu? Oh jangan! Jangan sampai! Aku belum sanggup hidup tanpa Ayah ya allah!! Sebenarnya begitupun juga dengan ibu.. tapi apa mau dikata. Ibu sudah pergi. Barusan ibu dikuburkan bersama jasad-jasad lain oleh para petugas. Kuburan massal–tanpa nama di batu nisannya. Ayah pernah memberi tahuku tentang hal ini. Pa jangan-jangan ayah ada di antara jejeran kuburan ini?! Tidak! Tidak! Tidak mungkiin masa’ setelah Ibu pergi, ayah juga??

Aku bertanya pada ibu-ibu di sebelah mbak Jenah yang tak lain adalah Mbok Salma penjual nasi uduk tinggal di dekat rumahku. “mana Syifa mbok?” tangisan beliau yang baru saja reda, meledak kembali. “syifa kemana Mbok?” tangisan beliau makin keras, disertai gumaman-gumaman menyebut nama anaknya—Syifa. Mbak Jenah, kakak Syifa, membelaiku. Matanya berkaca-kaca. “syifa pergi say…” pergi ke mana? Batinku. “di jejeran kuburan itu pasti ada jasad Syifa. Kalo gak ada, mungkin di rumah sakit.” Aku mundur dengan kaki selonjor. Mundur beberapa tarikan tubuh ke belakang. Dengan mata melotot kaget tak percaya, aku mundur dari depan tatapan Mbak Jenah dengan menyeret tubuh ke belakang. “nggak! Gak mungkin! SYIFA MANA?!” teriakku tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan mbak Jenah. Mbak Jenah menyentuh pundakku sambil tersenyum tabah.. “sabar ya dik Pu..” aku langsung mengedik. “jangan main-main! Mbak gak bohong kan?!” kataku dengan nada tinggi karna panik. Satu lagi orang yang dekat denganku hilang… yaitu, Syifa. Aku meremas ujung kebaya mbak Jenah sambil menggigit bibir dan bersiap menumpahkan banyak air mataku…

Aku Cuma berjongkok sambil memeluk kaki dan di sebelahku, duduk selonjor adikku dengan tatapan kosongnya. Dari tadi dia hanya menepuk-nepuk paha dan sesekali nyengir sendiri. Kami sedang berada di lantai ruang tunggu di dekat ruang perawatan jenazah-jenazah yang di temukan di dalam arus air dari Bendungan Situ Gintung. Salah satunya ada Syifa, walaupun sekujur tubuhnya mulai koyak, tapi salah satu cirinya masih dikenali. Yaitu: kalung huruf perak berbentuk: SyiPut. Itu kalung pesananku untuk kado ul-tahnya sebulan yang lalu. Tanda persahabatan kami.. Syifa&Puput. Hehehe. . . ah, aku tertawa? Wah syukurlah, akhirnya aku dapat tertawa kembali. Aku baru berdiri dari jongkok  ketika pintu ruang rawat jenazah itu terbuka.. dan keluar mbok Salma bercucuran air mata, didampingi dengan mbak Jenah yang bermata sembap. “ada syifanya gak?” nah, saat itulah aku diajak masuk sama mbok Salma untuk melihat Syifa dan ketika kulihat kalung itu…

“AJAIB, tak putus sedikitpun atau ukiran hurufnya ada retak, tak ada samasekali! Hanya saja karatan…” seruku dalam hati. Tapi aku kembali sedih melihat wajah sahabat lamaku itu.. ih! Gak tega lihatnya! Aku memalingkan muka dan berlari keluar ruangan dan tak sengaja aku menubruk seorang suster. “eh? Dik? Aturan anak kecil jangan masuk.. ayo’ main di luar yah!” suster itu menggiringku keluar. Rasanya ingin kembali aku menangis sepuas-puasnya mengingat Syifa, tapi aku cubit pipiku tiap kali ada genangan air terasa sedikit di pelupuk mata. Aku sudah janji sama Ayah agar tidak jadi anak cengeng dan manja, aku sudah punya adik! Aku bukan lagi si bungsu yang lemah dan manja! Mulai sekarang aku janji seumur hidup tidak akan menangis kencang lagi!

oh, kuharap kehidupan akan berubah lebih baik setelah ini……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s