Kala Sore Datang Menjelang, dan Saat Suasana Malam Berjaya

Lembayung jingga melingkupi langit. Tirai-tirai perumahan mulai ditutup. Lampu-lampu perumahan, mulai dinyalakan kembali. Jendela-jendelapun mulai ditutup, sejak dari tadi pagi sampai siang terbuka. Kecipak-kecipak air dari kamar mandi, bersahutan. Bunyi orang mandi sore. Kosrek-kosrek langkah orang tersaruk-saruk dari bangun tidur siangnya. Alangkah meruginya wahai orang yang tak solat ashar!

Cnting, cnting bunyi sendok teh mengaduk minuman dalam cangkir. Istri-istri menyuguhkan kopi atau teh pada suaminya. Ibu-ibu bertengkar kecil dengan anaknya karena sang anak susah disuruh mandi sore. Menolak manja perintah sang ibu. Anak-anak yang bersekolah di full days school-pun tiba. Di rumah, disambut riang oleh orang tuanya

Angin berdesir-desir, menggoyangkan pucuk-pucuk daun cemara….,

pisang, dan kelapa.  Pokoknya tumbuhan apa saja yang ada di lingkungan itu. Matahari merosot di ufuk barat, makin melenyapkan cahayanya. Pipinya memerah, malu-malu bersembunyi. Menyebabkan langit sore memerah kejingga-jingga-an. Semburat cahayanya makin tenggelam di balik buntalan-buntalan bantal kelabu yang melayang di langit

Kolam-kolam ikan memantulkan cahaya sun-set dengan airnya. Ikan-ikannya beriak-riak tenang. Menyantap butir-butir makanan ikan yang dituangkan ke atas kolam oleh majikannya—makan malam. Ketika cahaya matahari benar-benar hilang samasekali dari langit, ditelan awan-awan kelam itu.., Semua orang beranjak tidur. Ada yang langsung tidur, ada yang solat isya terlebih dulu

Tak disangka, tak dinyana. Air dari awan-awan itu terjun bebas membasuh bumi. Bulir-bulir air berdentuman pada permukaan tanah. Menghasilkan bunyi tetesan syahdu. Orang-orang yang masih di luar atap. Buru-buru mencari atap tuk berteduh

Selarik gerakan terbersit jelas di  jendela. Selarik, yaa.. selarik. Tarikan tangan pada kerai jendela. Seseorang mengintip keluar rumah. Tepat ketika selarik cahaya membaret langit. Petir menggelegar. Siutan angin bersahut-sahut melenggak-lenggokkan dedaunan di pepohonan. Gemericik air hujan terpeleset di genting. Rumpun-rumpun bunga meliuk-liuk genit mengikuti irama angin. Daunnya melambai-lambai malas
Burung-burung gereja bersembunyi di sela-sela dahan rimbun. Ada juga yang mengembangkan bulu dan memejamkan mata—menghangatkan diri. Berteduh di sela-sela tumpukan genting yang mereka anggap sebagai gua.

Kepik-kepik sontak berhenti mengerjapkan-ngerjapkan sayap kuningnya. Merayap makin ke atas pucuk cabang pohon. Siput-siput bermunculan di teras rumah. Berjalan santai tanpa bahaya. Satu-dua baru ada yang melongokkan kepala dari dalam cangkang. Satu-dua tetap bersembunyi dalam cangkang, menikmati saat-saat itu untuk tidur. Ikan-ikan bersemangat memunculkan mulut mereka ke permukaan air. Megap-megap mencari cacing tanah yang nyasar tercebur ke kolam.

Seseorang tadi, menatap sendu keluar. Menggigit bibir, apa yang membuat alam ini jadi begitu ganas? Oh, kamu.. tidakkah kamu sadari hujan angin memang kelihatan ganas. Namun bila kau meniti benang keindahannya pelan-pelan, kamu kan temukan keramahan hujan itu..  katak-katak bernyanyi riuh rendah di atas teratai, atau di bawah naungan daun singkong atau juga pisang. Memanggil orang itu, orang yang sedang mendekap guling dan kepalanya terayun-ayun. Menunduk lemah. Ia trauma, yaa.. trauma. Akan petir itu. Bapaknya meninggal akibat tersambar petir, bapaknya telat menjauh dari tengah sawah. Hanya beliau sendiri saat itu yang satu-satunya tertinggi ditengah petak sawah nan luas itu.

Alam tak peduli pada macam apapun musibah yang dideritanya akibat hujan. Bocor merembet-rembet ke seantero rumah mungilnya. Dindingnya yang hanya terbuat dari sulaman kulit bambu. Tak dapat menahan jebolan air hujan yang turun bagai derasnya air terjun. Ia hanya tidur beralaskan kasur lapuk tanpa sprei. Bantalnya penuh tambalan.

Halaman rumahnya hanya terpagari oleh pasak-pasak yang dikatkan dengan kawat besi. Pohon-pohon cabai mengitari rumah itu, dengan pagar hidup berupa tanaman bayam liar. Serta dedaunan sambiloto yang menjalar sampai ke dinding belakang rumah. Jika malam hujan, semua orang yang menghuni rumah itu, harus waspada akan bahaya hewan malam. Lintah, kalong, dan ular derik berbisik-bisik menghantui tidur. Sering tanpa disadari, saat bangun mereka dapati seekor lintah gemuk melekat di tubuhnya. Itu sudah biasa bagi mereka. Tinggal di tengah kebon tak terurus dengan pepohonan pisang, kelapa, jambu, mengkudu dan mangga yang tumbuh sendirinya tanpa seorangpun sengaja menanamnya. Tanaman air mata pengantin memberi sentuhan mencolok pada pekarangan rumah itu. Ulat-ulat bulu berkeliaran di dinding teras rumah.

Ketika intonasi hujan merendah, bunyi buliran air yang tersisa terdengar kencang membentur mulut tong-tong besar. Tumbuhan lidah buaya yang di tanam di pot yang digantungkan di kayu-kayu yang menopang seng. Daunnya terayun-ayun pasrah di hujam oleh tetesan deras air hujan. Bunga bakung dan Lely mulai menyembul dari pucuk di tangkainya. Muncullah kuncup bunga itu. Dan perlahan-lahan dengan lihai mencari kesempatan untuk mekar tanpa dilihat orang. Bunga kemuning, bermekaran menggoreskan warna putih di tengah-tengah rimbunnya dedaunan pohon kemuning. Bila kau memperhatikannya dari jauh, bunga itu terlihat seperti lapisan bantal putih di atas bantal hijau. Bermekaran dengan kawanannya membentuk gerumbulan putih. Mereka yang belum mekar, masih menjadi buah berwarna merah sebesar kuku jari kelingking. Bunga kenanga banyak yang merontok karena ditimpa gemericik air hujan yang terlalu deras. Bunga Bangkai sejenis Raflesia Arnoldi dengan santai sembari menyenderkan tangkainya pada daunnya yang persis tanaman kaktus, mengembangkan kelopak-kelopak bunganya.

Jam berdentang pukul sebelas malam, semua penghuni kebon rumah itu tertidur lelap, kecuali cacing-cacing tanah, mereka bekerja keras didalam rumah mereka—menyuburkan tanah. Dan bunga-bunga sibuk memekarkan diri. Beberapa buah Mahkota Dewa, jatuh dengan sendirinya karena sudah kematangan. Dedaunan pohon mangga sesekali bergemerisik karena dihinggapi kalong-kalong nakal. Mereka makan seenaknya tanpa seizin sang pemilik pohon dan jika tak habis mereka tinggalkan begitu saja tetap mencantol di tangkainya dengan keadaan sudah bosok. Bunga-bunga Mulis berguguran akibat terpaan angin selama hujan tadi. Indah sekali, menjadi pupuk tumbuhan bayam. Senyum sumringah dari bulan sabit, menggelayut di bibirnya. Membuat rona kedamaian di wajahnya, membuat sejuk suasana malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s