The Amazing Museum

Hari ini Pelangi sedang Family trip ke Museum Iptek Taman Mini Indonesia Indah. Setelah membayar tiket untuk naik sepeda gantung/sirkus Pelangi naik ke atas tangga yang menuju ke.. kea pa ya? Mirip Podium gitulah! Hanya saja ini ada jauh diatas kolam renang kosong air. Setalah adiknya, si Bintang berhasil sampai ke  suatu yang mirip podium yang di seberang. Dan balik lagi ke podium tempat tadi dia naik itu sepeda dan tempat tadi dia di ikatkan pinggangnya dengan ikat pinggang keamanan sama mbak-mbak. Giliran Pelangi naik itu sepeda.

“yok de’! silakan naik!” kata mbak-mbak itu ramah. Dengan gugup Pelangi naik ka atas salah satu jok sepeda (soalnya joknya ada dua). Pelangi sedikit gemetar. Lalu mbak-mbak itu mengikatkan ikat piggang sepeda untuk keamanannya. Sebenarnya sudah ada beban berat berupa besi beton panjang yang dikaitkan ke sepeda itu dan tali yang akan di lewati sepeda itu sudah dipertimbangkan kekuatannya. Kemudian mbak-mbak itu mendorong pelan sepeda sirkus itu sambil berkata “ayo! Mulai dikayuh de’!”

Pelangi mengayuh tapi tepat beberapa kayuh sebelum sampai di tengah, Pelangi berhenti mengayuh karna kelelahan. Sepeda sirkus ini tidak kayak sepeda  yang kupunya, ringan! Yang ini berat bet dah! Pasti karna beton itu! tiba-tiba Pelangi melamun dan merasa seperti dirasuki sesuatu. “Pelangi! Ada yang bisa kubantu supaya kamu bisa cepat sampai ke sebrang?” Tanya sebuah suara. “siapa itu?”
“ini aku! Yang menjadi beban di bawahmu! Perlukah aku meringankan  berat tubuhku?”  Pelangi jawab saja .. “perlu banget dong! Tapi siapa ya yang ngomong itu?”
“aku! Si Beton!” bulu kuduk Pelangi tiba-tiba berdiri tegang. dia menoleh ke bawah. “padahal aku gak pernah makan lo! Gak perlu diet, tiap hari aku udah puasa.. tapi kenapa aku tetap berat banget ya?”

“Beton, temanku. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Allah memang sudah menciptakanmu darisanaya udah berat! Tinggal, kamu berharap keajaiban terjadi padamu!” cngkring! Pelangi membunyikan bel sepeda sirkus itu. lo kok ada bel-nya juga? Jadi kayak sepeda biasa? “Pelangi, lihat!” seru suara beton. “apa?” pelangi kembali menoleh ke bawah. “sesaat setelah kudengar bunyi cngkring, muncul sayap dari tubuhku!”
“waah!! Kamu jadi ringan dong?”

“iya yah? Aku coba terbang yah? Kamu pegangan erat-erat pada stang sepeda itu!” Pelangi menurut pada si beton. Lalu si beton mulai terbang melaju kedepan. Tubuh si beton dipenuhi cipratan cahaya seperti tinker bell. Tapi karena Pelangi tidak ikut mengayuh si cahaya kejaiban pada tubuh beton mulai redup. “kenapa kamu tidak ikut ngayuh? Kamu tidak terbiasa kerjasama ya? Gak pernah gotong royong ya? Gak pernah bahu membahu ya? Gak pernah..” ia teruuuss mengoceh. Pelangi sebal! Ia menutup kupingnya dengan kedua tangannya. Pelangi lupa pesan untuk selalu memegang stang sepeda selama menempuh perjalanan di atas tali sirkus. Tiba-tiba sepedanya oleng!

“O-ow..” ucap pelangi singkat lalu dengan segera memegang stang sepeda. Si beton sudah kembali menjadi beton biasa. Tak ada yang membantunya lagi. “pelangi ayo terus kayuh! Kamu deg-degan ya?” Tanya sebuah suara lagi. Pelangi menoleh ke bawah. Tapi, si beton sudah tidak punya mulut, hidung dan mata seperti tadi. “i-iya, aku deg-degan banget!” kata Pelangi keringatnya mulai jadi hujan deras. “ awal nya aku sudah gugup dan agak takut, tapi kalau ada mahluk halus ngajak aku ngomong. Aku tambah takuuut!!!” teriak Pelangi histeris. Ia berusaha mengendalikan emosi takutnya. “lihat ke depan terus Ngi! Kamu dari tadi tengak-tengok samping dan bawah siih! Kalau kamu gak lihat bawah, udah dari tadi kamu nyampe’ ke sini kali!!” ketus suara itu berkata. “ke sini mannn-nna?” pelangi bertanya sambil bergidik. “Aku! Si benda yang kamu kira podium yang mirip tempat khutbah itu!” oh! Kenapa semua benda kini bisa bicara??! Wuaa!!!!!!!! Ternyata itu suara benda yang menjadi tujuannya menyebrang tali sirkus itu. “anggap saja aku ini surga dan tali  yang harus kamu titi dengan hati-hati. Dan kolam renang kosong yang jauuuh di bawahmu adalah neraka!” usul si benda itu. “jangan yang aneh-aneh ah!” pelangi akhirnya mulai mengayuh. Tapi tiba-tiba kolam renang kosong itu sudah penuh dengan api raksasa yang berkobar-kobar dan dengan ganasnya menjilat-jilat tali sirkus milik iptek itu. Dia buru-buru mengayuh tapi tiba-tiba satu jilatan keras dari api terasa di kakinya.

“Uwaaaaaa!!!!!! Tuoolooong!” ia terengah-engah melanjutkan mengayuh. “pelangi!! Pelangi!!! PELANGII!! Jangan bengong aja kamu! Ngapain sih takut amat?! Cepet hooy!!” teriak si ‘benda yang dia sebut podium’ itu  tak sabar. Tapi lama-lama pandangannya kabur, dan saat jelas kembali, si benda tadi sudah tidak bermulut dan bermata—seperti si beton itu. tapi bedanya, suara teriakan itu masih berbunyi.  Pelangi menengok samping kanan bawah. Jauh di bawah sana, di pinggir pembatas kolam renang kosong itu abinya Pelangi berteriak memperingatkannya, “pelangii! Terus majuu! Gak usah takuut!! Kamu gak bakal jatoh kalau tak berdiam terlalu lama sekali di situuu!! Tadi ade’mu aja bisa!! Kenapa kamu nggak??” teriak Abi dari bawah dengan kedua tangan membentuk corong di depan mulut. Ooh, ternyata yang teriak gak sabaran itu dari tadi Cuma abi! Pelangipun mengayuh dengan cepat dan mantap. Lalu setibanya di benda yg tadi meneriakinya itu, seorang mas-mas menyambutnya dengan segera membuka ikat pinggang pengaman itu. lalu Pelangi turun dari atas melewati tangga dan di bawah ia disambut dengan pelukan uminya dan ledekan dari bibir adiknya, si Bintang. “biar aja ya Kak? Hehehe!” kata uminya membela Pelangi.

“huuuh! Pokoknya kakak payah! Payah! Uwehehehe..” ledek BIntang.

“sekarang giliranku!” sepupunya, mas Ipul berjalan mantap dan tegap ke atas podium uji nyali itu. di atas Mas Ipul udah ditunggu mbak-mbak yang sigap memberi motivasi (kalo mas ipul kelihatan ragu/gugup) dan memasangkan ikat pinggang pengaman. Pelangi tersenyum lega berhasil melewati tali sirkus setan itu.

“hei Pelangi! Takut niyeeh!” ujar suatu suara. Jangan-jangan dia lagi..? soalnya umi dan Bintang sedang berjalan ke kasir pembelian tiket naik sepeda sirkus itu. Bintang pasti pengen naik sepeda lagi karna itu dia beli tiket lagi. Pelangi langsung menyapu pandangan ke segala arah.

“ka-ka..mu..?! kusangka kamu cuma hayalanku! O-o-oh! Tadi bukankah Cuma mimpi?” kata Pelangi terbelalak. “salah! Hi-hi-hi!” kata benda yang tadi meneriakinya itu. Benda itu mengedipkan mata dan saat Mas Ipul sampai di atas benda itu, dia menghilangkan mata, mulut dan hidungnya. Sama seperti tadii! Lalu setelah Bintang menaiki sepeda itu lagi, Pelangi, Bintang, Mas Ipul, Umi-Abi dan Nenek-Kakek  melanjutkan tour dalam museum iptek yang Pelangi pikir agak angker itu. untuk terakhir kalinya ia menoleh pada benda-benda hidup itu untuk memastikan kalo mereka sudah tak bisa ngomong lagi. eeh, tau-tau..

“dada Pelangi!” Kata benda-benda itu serempak. Tapi kali ini tali dan sepeda sirkus itu juga bicara. “dadah…!” Pelangi melambaikan tangan dengan mata membulat takjub..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s