Siluman Tarantula!! (kapten Flint)

Hari itu, hari selasa. Pelangi ikut serta studi edukatif bersama rombongan dari sekolahnya ke Banjarsari. Setelah mendengarkanpenjelasan seorang bapak tentang daur ulang dan sampah organik/nonorganik. Rombongan kelas 4 SD Swasta Islam itu berjalan ke rumah seorang ibu setengah nenek. Sampai di sana mereka disuruh bu guru dan pak guru pemandu/pembimbing mereka untuk menaruh tas-tas mereka di sofa-sofa dan lantai ruang tengah rumah si ibu yg hampir nenek-nenek itu. katanya, mereka harus naik ke lantai atas rumahnya tempat tanaman-tanaman miliknya ia rawat di bangunan kaca. Pelangi, Komet dan Virgo naik ke tangga paling belakangan. Anehnya sudah lama..-lama,,,,,, sekali mereka melangkah sampai melewati tangga spiral berkali-kali namun belum mereka temukan teman-temannya yg lain. Tiba-tiba saat merasa sudah hampir sampai, Pelangi melihat foto pigura yang tak jelas objek yg dipotret. Lama-lama terlihat siluet menyeramkan di foto itu. dan siluet itu akhirnya membentuk sosok aneh yang mirip kapten Flint di cerita sejarah legenda yang ia baca di perpus sekolahnya. Sosok itu mirip laba-laba tarantula dan punya jari-jari kurus kering dan kukunya panjang-panjang. Tangannya penuh bulu kayak gorilla. Mata sosok itu banyak benar! Dan punya rambut  superkusut dan ada gigi taring yang menyilaukan pandangan (mungkin saking mengkilat). Memakai baju bajak laut perompak! Pelangi memelototi foto itu sampai sebuah tangan mencengkram pundaknya. Tangan berbulu!! “hah!” pelangi tersentak kaget. “Kau taruh di mana tadi ranselmu?” Tanyanya garang. “e-e-eng, tadi karna diburu-buru sama Virgo, saya asal geletakkin di depan tumpukan sapu..” jawab Pelangi takut-takut menolehkan pandangan ke belakang pengen tau, siapa sih yang nyengkrem pundaknya??

“AHA!!! Berani-beraninya kau menginjak daerah pekuburanku!! Karena itu kau & teman-temanmu tidak akan bisa ke atas. Dan barang siapa yang menginjak lewat dari kotak bergaris merah yang ada di atas, tidak akan bisa kembali ke bawah! Guahaha!!!!!! Kecuali bila ia ingin masuk ke duniaku! Guahahahaha!!!!!!!!” mahluk itu tertawa keras-keras tapi Virgo dan Komet kelihatan seperti tak mendengar apapun. Pelangi menepis tangan berbulu itu dari pundaknya. “jadiii., kalau kamu tidak mau masuk ke duniaku dan membantuku membunuh peri kehidupan, kamu tak akan bisa ke lantai atas! HAHAHA!”  lalu sosok itu menghilang lenyap perlahan.. o-ow.. \
Pelangi dengan ragu menceritakan itu semua kepada teman-temannya. “oh tidak! Walau aku nggak naruh tasku di dalam batas garis merah, kakiku menginjak garis merah saat ingin menggamit lenganmu..” ucap Komet pada Pelangi. Virgo kelihatan tak peduli, “IH! Aku gak percaya. Semua itu mirip dongeng belaka dari Walt Disney saja! Kamu tau? Walt Disney itu ada tali saudara dengan pembuat Nazi pertama kali!jadi gak usah takut! Itu hampir berhubungan dengan Negara asalku..” kata Virgo sambil mengibas-ibaskan tangannya ke depan-belakang. “nazi itu kan jahat Vir!nyerang Negara islam Cehnya sama Palestine terutama!” kata Komet tersulut kemarahannya dengan ucapan Virgo. “Wah! Ngaco dikau! Di palestin itu yang jajah bukan nazi tapi si teroris terbesar Israel!” sahut Pelangi. “alaaah! Nazi juga hebat!” kata Virgo meneruskan langkahnya menaiki tangga yang tak kunjung berakhir. Memang, si Virgo itu keturunan Jerman. Cuma.. kakeknya dari ibunya itu, beristri neneknya! –ya iyalah!—maaf …maaf.., maksudnya, neneknya itu orang Jawa Bali. Tapi sebagian besar keluarganya memang uwong Jerman. Jadi, ibunya Virgo sudah terkontaminasi darah Bali. Virgopun darahnya jadi campur-campuran! Eh, rujak apa es campur itu ya?
Akhirnya mereka duduk beristirahat karna kelelahan. “hmm.. kayak hiking di mount everest ajah ya?” kata pelangi mengusap peluh di dahinya. “yee.. mount everest..mount everest! Beda jauh kali! Paling nggak gunung jaya pura!” kata Virgo gak kalah ngocol.
‘PRET! Sama aja non! Beda jauuh! Ini karna setan yang dicerita-in si Pelangi!’ kata Komet dalam hati. Tiba-tiba bisikan jelek mampir di telinga Pelangi, “ayoo.. kita bunuh Peri Kehidupan, dengan begitu kalian bisa ke lantai dua. Karna, dimanapun kamu berada kalo belom masuk ke duniaku dan bantu aku, kamu gak bakal bisa naik ke tingkat dua! Meski itu di bangunan lain!!” lalu disusul gelak tawa yang menciutkan nyali setiap orang yg mendengarnya. “ka.. kamu! Si.. set..ssetan tadi itu ya? Kamu.. be-ben-beneran laba-laba tarantul.. tul-tul…” kata Pelangi saking gagapnya. “TARANTULA! AKULAH KAPTEN FLINT! GYAHAHAHAAAA! AKU KAPTEN KAPAL WALRUS!” si kapten laba-laba itu melanjutkan perkataan Pelangi. “Larii.. =! 0 != !!!” Teriak Pelangi tiba-tiba pada teman-temannya. “ heh.. kenapa? Aku gak pengen ngejar kok! Oyaya.. kalian ngajak aku main kejar-kejaran ya? Ok deeh!” kata kapten awalnya terheran-heran. Akhirnya dia menampakkan dirinya di depan Komet dan Virgo. “Nooh! Kan kubilang apa? Gak sekedar dongeng hayalan Walt Disney!” seru Pelangi pada teman-temannya. Serta-merta virgo dan Komet lari terbirit-birit mengekor di belakang Pelangi. “hadooh! Tolong! Bi! Bibi! Ada hantu!!” kata Virgo pada pembantu di dapur yang lagi masak sesampainya dia di lantai bawah. “seperti apa rupa si hantu?” Tanya pembantu itu penuh selidik. “Aaah! Cepetan Bi! Yang penting Bibi sekarang bantuin kami!” Virgo menarik-narik lengan si pembantu. “Hmm.. gak bisa ke lantai atas ya?”
“Kok tau?”
“Teman saya dulu mantan pembantu di sini. Dia dipecat karna pernah disuruh mengantarkan teh untuk sang nyonya itu ke lantai atas. Beliau sedang menyiangi tanaman-tanaman di rumah kacanya. Beliau bernama Bu Murtianingrum.”
“Ooh, itu? ibu-ibu yang akan ceramah ttg tumbuhan pada anak-anak kelas IV Swasta Islam kan?” tebak Komet.
“Hush! Kok ceramah sih istilahnya?” pelangi menyenggol pinggang Komet sambil mendelikkan mata.
“Pasti kalian salah satu muridnya! Kalian nginjek daerah angker yang ada tumpukan sapunya itu kan?”
“Iya, terus-terus? Lanjutin ceritanya dong!”
“terus, temanku itu tak sengaja menyapu daerah angker itu. dulu kami belum tau kalo itu daerah terlarang. Teman kamipun membuat teh dan dengan segera berjalan ke lantai paling atas tempat bu Murti merawat tanamannya. Tapi anehnya sudah 2 jam bu Murti menunggu tapi temanku itu belum datang jua! Beliaupun menelpon ke hp-ku dengan hp yang dibawanya ke atas. Kata beliau, “temanmu itu dong-dong atau apa seeh?! Dia udah naik ke tangga belom?”, kujawab: “sudah kok bu! Sudah 2 jam lalu dia naik tangga. Emang belom nyampe dia bu?” “belom tuh! Huah! Jengkelin tuh bocah! Bisa ta’ pecat dia! Gak sopan udah dipanggil dari tadi!” KLIK! Beliau putuskan hpnya. Lalu bersamaan dengan itu, PRANG! Terdengar bunyi beling pecah. Aku berlari ke tempat yg sekarang sudah ditumpuk sapu-sapu usang itu. di situ, kulihat temanku sedang duduk gaya suster ngesot dengan percikan darah di sekujur badannya dan ada pecahan cangkir beling tempat ia mawadahi teh dan tatakan beling berserakan di sekitarnya. Ada juga cairan teh lumayan banyak di sampingnya. ‘teman.. kemari..’ desis temanku padaku. Aku menghampirinya dengan tanda Tanya dan tanda seru. “Tadii.. sesosok mahluk yg mengaku sebagai siluman tarantula membuka ubin yang kupijak, lalu akupun jatuh sampai ke sini… lihat!” katanya sambil menunjuk sebuah lobang besar jauuh di atas. Itulah ubin tangga yang dibuka sama siluman itu. sesaat kemudian, bu Murti sudah sampai di anak tangga paling bawah dan dia langsung cuap-cuap tak keruan. Pertama kali aku merasakan betapa ceriwisnya beliau. Dan intinya.., tentu saja memecat temanku karna sudah memecahkan cangkir dan tatakan kesayangannya yang termahal di antara semua cangkir yang ia miliki, itu alasan pertama. Alasan kedua: karena sudah 2 jam lebih beliau menunggu, tapi temanku tak datang-datang. Jahat benar kau! Begitu kataku waktu itu pada beliau, tapi dalam hati.. walaupun marah-marah beliau tetap membiayai perawatan R.S untuk temanku yang mulai bersimbah darah karna ternyata percikan-2 darah itu berasal dari anggota badannya yang luka karna jatuh dari ketinggian yang lumayan, wuih! Akhirnya aku menemani temanku bersama sopirnya bu Murti mengantarkan ke rumah sakit. Alhamdulillah kabarnya, 3 hari kemudian dia udah keluar R.S terus buka tmp pelatihan tersendiri untuk gadis-gadis dewasa yang ingin cari kerja. Dan bisnisnya itu sukses, aku bersyukur dia udah gak jadi pembantu lagi.. walaupun aku agak iri.. sejak itulah aku menumpuk tempat kejadian itu dengan sapu-sapu usang dan segala macam benda-benda gudang lainnya. Dan Bu Murti tiap minggu menyemprotkannya dengan parfum berwangi menyengat.”
“Ck!ck!ck!”ucap Pelangi dan teman-temannya bersamaan.
“Wuohoho! Aku datang! Aku dattaang!” seru suara Kapten Flint,
“Oh tidak dia sudah sampai di anak tangga paling bawah! Bagaimana ini Bibi?” Virgo paling panik, tapi si Bibi kelihatan santai aja. Beliau hanya meraih parfum di atas buffet lalu memegangnya erat-erat. Mereka semua berjalan keluar dapur dengan Pelangi dan kawan-kawannya mengikuti di balik punggung si Bibi. Mereka masih takut dengan kapten Flint jadi-jadian itu. beberapa detik berikutnya, Bibi dan Kapten Flint sudah berhadap-hadapan. Kapten Flint kelihatan cengengesan. “he-emang kamu ikutan main kejar-kejaran juga?” Tanya Kapten Flint menatap si Bibi dengan bingung.
“Lho? Emang ini lagi main kejar-kajaran ya?” tanggap Komet lebih bingung.
“Hiyaaat!!!!!!” Bibi mulai beraksi, dia tak peduli pada obrolan si kapten Flint dan Komet, Bibi menggerakkan kakinya mengayun ke depan dan tubuhnya berputar melayang sebentar tanpa jatuh mengenai lantai. Lalu dengan gesit dia memencet parfum itu agar gas wanginya keluar. Lubang parfum itu diarahkannya tepat beberapa inci di depan hidung kapten Flint. Kapten Flint terbelalak dia kelihatan sangat ketakutan sekali. Setelah Bibi menyemprot semua isi parfum ke wajah Kapten Flint, kapten Flint bersin-bersin gak keruan. Lalu berteriak-teriak, “gak tahan!! Aku nyerah! Nyeraaaah!!!!”
“Kalo kamu gak mau disemprot lagi! jangan ganggu orang-orang hidup! Mentang-mentang Cuma karna nginjek kuburanmu! Lagian kenapa kamu gak mau tinggal di negri arwah sih? Negri kehidupan tidak cocok untukmu yang sudah mati!” kata Bibi spontan. “aku ke negri kehidupan karna ingin balas dendam sama peri kehidupan. Wahai bibi! Jangan pura-pura  di hadapanku! Minggir anak-anak! Kami ingin duel!” teriak kapten Flint kembali garang. Hei! Siapa sebenarnya bibi ini? TRING! Cahaya sejuta aurora melingkupi tubuh bibi. Parfum itu dilemparkannya ke langit-langit lalu saat jatuh, parfum itu juga bermandikan sejuta percikan cahaya peri. Saat parfum itu ditangkap oleh bibi yang masih bermandikan cahaya terang sampai-sampai wajah dan sekujur tubuh bibi tak terlihat, parfum itu berubah menjadi tongkat bintang perak. Tongkat itu dilemparkan lagi oleh bibi, lalu sedetik kemudian cahaya ditubuh bibi hilang dan bibi sudah menjadi bidadari caaaantik menawan. Tiba-tiba tongkat bintang itu jatuh dan hanya dengan gerakan jari, tongkat itu berhenti terjun. Terdiam melayang di atas kepala bibi. Ctik! Bibi menjetikkan jari. Dan tongkat itu berputar diatas kepalanya membuat lingkaran cahaya peri berbentuk–mirip seperti gelang besar. Yaa.. pokoknya kayak bidadari-bidadari di dongeng-dongeng itulaah… “BIBI??” Pella dan teman-teman menahan napas terkejut. Caantik benar bibi ini ternyata! Kata Pella dalam hati. Kapten flint membuka bajunya. Ia tak peduli pada aksi si Bibi yang bisa membuat semua lelaki berhenti melakukan aktivitas masing-masing demi melihat keajaiban dari bibi. Terutama kecantikannya! Hehehe.
Kapten flint kini telanjang dada. Bersiap duel. Ia juga mempunyai kekuatan-kekuatan ajaib bin gaib. Lalu ia mengeluarkan sebuah gulungan. Pella menduga itu adalah gulungan peta, dibukanya gulungan itu lalu… BENAR ITU SEBUAH PETA! “peta harta karun anak-anak! Dengan tangannya ia menarik anak buah-anak buahnya dari dalam peta. “kutarik kalian dari kuburan-kubura pulau harta itu!” yang keluar ternyata tengkorang-tengkorak hidup dengan senjata-senjata ditangan-tangan mereka. “huh! Payah! Kau memanggil bala bantuan ya??” ejek bibi. Kapten flint tak menjawab, dia hanya menghunus pedang panjang dari wadah di pinggangnya, pedang itu seperrr panjang! Gagang pedang itu sepanjang telapak tangan Pella, dan pedangnya sendiri nyaris setinggi tubuh bibi. Agak di ujung, pedang itu melengkung hampir mirip sabit. Bisa membunuh seseorang sekali sabet! Ih! Ngerinyaa..! “anak-anak, bersembunyilah di dapur! Masuk ke lemari buffet besar itu sebelum kapten ini menggila! Dan kuncilah lemari itu dari dalam!” perintah bibi melemparkan dua buah kunci kepada Virgo. Virgo langsung ngacir ke dapur dan melakukan semua yang disuruh bibi. Sebelum virgo mengkunci dari dalam, komet memperingatkan temannya yang gampang panik itu. “eh! Kita belum masuk neng!” seru komet. Dari luar dapur sudah terdengar bunyi pedang dan bunyi pistol. Bibi terlihat sibuk memainkan tongkat bintak peraknya. “oh iya! Maaf Met, lupa!” jawab Virgo. Mereka bertiga masuk ke dalam. Di dalam gelap gulita. Mereka berkeringat karna menahan sumpek. “duh! Kenapa bibi itu bodoh sih? Buffet ini kan kecil?” keluh Pella. Ia mendorong-dorong teman-temannya karna kesempitan. “buffet biasa kan pasti ada isinya? Sedangkan ini kosong-belongsong? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan bibi di sini!” kata Komet mengetuk-ketuk dinding buffet dari dalam. Virgo tertidur sambil menyandar di dinding bagian belakang-dalam buffet. Pella akhirnya ikut-ikutan tidur menyandar. Tapi karna tak muat ia tidur di perut Virgo. “hoi! Kalian serius pengen keluar gak?!” bentak Komet. “ENGGAK!” kompak virgo dan Pella menjawab. “kan, kita ke sini bertujuan sem-bu-nyi dari kapten pembawa onar itu!” kata Pella dengan matanya yang sudah terpejam siap-siap tidur. “ih! Kalian nyebelin! Udah gak bisa berpikir jernih ya?” sindir Komet.
“IYA!” koor teman-temannya menjawab dengan kompak lagi.
“WAA! Aku dikelilingi teman-teman yang udah gak warass!”teriak Komet. “sst! Anak saya lagi tiduur!” kata Pella membelai-belai Virgo yang benar-benar sudah tidur lelap. “o ya, pintunya udah dikunci belum tuh?” lanjut Pella. “tauk! Yang megang kunci kan Virgo!” cetus Komet bete. “Vir! Virgo! Banguun! Udah dikunci belon tuuh?” kata Pella menggoyang-goyangkan tubuh Virgo. “eh? Dia kan anakmu! Kenapa dibangunin bu? Kesian anaknya lagi bobok!” canda Komet—tepatnya karna stress! “Ayo dong!! Vir! Banguun!” akhirnya Virgo bangun juga, dia mengerjap-erjapkan matanya. “Ngantuuk!” desahnya. “Ayo! Mana kunci itu??” desak Pella tak sabar. “Nih!” dengan malas Virgo merogoh kantung celananya dan mengeluarkan dua buah kunci yang digantung dalam satu gantungan kunci. “Oke, sekarang mana kunci lemari ini?” kata Komet menyambar kunci yang dipegang Virgo. “Eit! Tunggu! Kalian mau ngunci buffet? Wong uwes ta’ kunci kok mau!”Kata Virgo dengan bahasa jawa, matanya masih setengah terpejam. “oh ya, leherku gatel nih dari tadi. Mo buka jilbab aah!”kata Virgo seraya membuka jilbab. Lalu tergerailah rambut kepirangannya yang bergelombang. Tapi ini aslii! Bukan dicat!  TUK! Bunyi leher Virgo terpentok sesuatu. “ada sesuatu dipunggungku! Coba tolong dolihat guys!” kata Virgo menelengkan kepalanya ke belakang. “Gagang pintu!” jerit Komet. “ssst! Jangan norak!” cetus Pella.
“Tapi ini aneh! Masa’ ada gagang pintu di dinding dalam buffet?”
“ Dan ada lubang kuncinya pula!”lanjut Virgo.
“Lubang kunci?” bisik Pella terperangah. “buffet apa-an ini?” kata Pella lagi.
“Jangan-jangan kunci yang satunya lagi…?” kata Komet matanya membulat sangat besar dan otaknya berputar.
“Oh ya! Bibi itu kan ngasih kita dua buah kunci. Jadii…” pella membenarkan dugaan Komet. “Aku tau apa yang ada dalam benak kalian!” Virgo menggoyang-goyangkan tangan Komet yang sedang menggenggam Kunci. “ayo kita coba!!” sentak Virgo berusaha menyadarkan teman-temannya yang tiba-tiba bengong. “kenapa tidak?” kata Pella seraya menggerak-gerakkan lehernya karna pegal sedari tadi mendongaak terus. Mereka memutar salah satu kunci di lubang kunci di dinding buffet itu. Tapi tidak berhasil. Pintu dinding ini tak juga membuka. Mereka mencoba kunci yang satunya lagi, dan… “BERHASIL!” sorak mereka serentak. Virgo menubrukkan tubuhnya ke depan pintu dan seketika pintu itu terbuka lebar. “ruang bawah tanah?” gumam Komet. Pella membantu Virgo berdiri karna tadi dia jatuh terjerambab di atas tanah gara-gara menubrukkan tubuh ke pintu dinding tadi. Wajahnya belepotan tanah. “jiiyy! Kotor banget sih ruangan ini? Kualitas buffet itu payah!” Virgo misuh-misuh sendiri. “lagian salahmu sendiri pake’ nubrukkin badan! Jangan malah nyalahin buffetnya dong!” sembur Pella. “siapa yang nyalahin benda JELEK ITU?” tangkis Virgo. “apalagi ngejek!” tanggap Pella berusaha menguasai emosinya. “grmbl!grmbl!!” Virgo masih kesal. Dia anak bangsawan, tak mungkin mau berkotor-kotor dengan tanah begitu. “sst, tenang teman-teman! aku merasakan firasat buruk…” komet akhirnya angkat bicara setelah berkeliling melihat-lihat ruangan melompong itu. “eh-gelap banget ya? Aku hampir gak bisa lihat kamu Met!”
“Buka saja terus pintu dinding itu! Supaya kita tetap dapat cahaya!” kata Komet memberi saran. Dia melangkah maju ke arah sebuah pintu yang dari tadi begerak-gerak seperti ada orang yang mendorong-dorongnya dari dalamnya dan berusaha keluar dari balik pintu itu. “itulah firasat buruk yang kumaksud!” komet menunjuk ke pintu itu. “sebaiknya kau tak terlihat begitu tenang Komet.. karna.. yaa.. aku yakinn.. tak ada orang yang suka berada dalam situasi seperti ini!” kata Virgo gagap. Ia berbicara dengan nada riang dipaksa-paksa. “se..sebaiknya… kau segera menn..mene.. menemukan jalan keluar dari sini!!” Virgo berbicara lagi dengan nada orang bicara kalo lagi kebelet pipis. “kamu kenapa sih Vir? Ayo susul Komet sebelum dia lebih jauh melangkah! Lihat!” kata Pella langsung menggamit lengan Virgo dan berjalan menyusul Komet yang terus berjalan menembus kegelapan-menuju tengah ruangan. “jangan jauh-jauh dari pintu dinding ini! Di sini satu-satunya tempat yang masih sedikit bercahaya! Kalo kamu terus jalan ke sana! Kamu bisa tersesat dalam kegelapaaan!” teriak Virgo gelagapan panic karna takut. Pella tak peduli, dia terus menarik Virgo untuk ikut Komet. Virgo memberontak, jilbabnya dibiarkan jadi pel di tanah. “ada beberapa mata yang memperhatikan kita dari tadii! Itulah kenapa aku tak mau ikut kalian. Tak jauh dari sana ada mahluk yang terus memerhatikan kitaaaaa!!!” Virgo berteriak terus-menerus. Dia bertingkah seperti orang paranoid. Komet menemukan tongkat besar dan dipukulkannya ke kepala Virgo. Seketika virgopun pingsan. “Kamu ngapain Met?” Pella tersentak melihat tindakan Komet.
“Bikin dia pingsan! Biar dia gak ngebangunin mahluk-mahluk mistrius itu! Habis, dia berisik banget sih!”
“Mahluk apa?”
“Di balik pintu itu neng!” Komet kembali menunjuk pintu yang masih bergerak-gerak itu.
“Sudah ah! Mendingan sekarang kita ke lubang keluar itu!”
“Lubang keluar mana?”
“Ada pokoknya! Ikuti saja aku!” mereka berjalan bersama-sama sambil menggotong  Virgo. Sampai di bawah lubang yang bersinar, mereka meletakkan Virgo ke tanah pelan-pelan. “oke, sekarang kau tolong ambilkan tali tambang di bawah batu itu!” kata Komet pada Pella. “itu?” pella meyakinkan. “iyalah! Cepet gih aku juga mulai merinding nih!”
“OHO! Ternyata kamu juga takut. Hihihi!” pella cekikikan sambil berjalan ke pojok ruangan yang ada batu besarnya. Di bawah batu itu terjepitlah tali tambang yang tergulung-gulung. “wah berat nih!” Pella mencoba mengangkat batu itu. Tapi untuk ukuran anak perempuan apalagi yang jarang olahraga, batu besar itu terasa sangat berat. Dia melirik pada Komet berharap kawannya itu segera melihat kesulitan dan lalu membantunya. Tapi Komet hanya berjongkok sambil memandangi Virgo yang masih tertidur gara-gara pingsan dipukul olehnya. “Vir! Bantu aku doong!” seru Pella, suaranya menggema ke setiap sudut ruangan…
“Ohh.., all right..” Komet bangkit dari jongkok dengan enggan. “berat ini!” kata Pella dengan suara burung pelatuk si woody woodpecker. “suaramu terlalu keras dan cempreng untuk berteriak-teriak..” ucap Komet resah dengan suara sangat rendah. Mereka mulai mengangkat batu itu bersama-sama dari atas tumpukan tali tambang. “jangan belagu lo! Mentang-mentang menang ikut lomba vocal di sekolah! Mending sekalian ikut audisi jadi peserta idola cilik!” sembur Pella. Pella memang suka menyembur kalo mood-nya lagi jelek. “ni anak bawel banget si, dikasih tau! Ejekan tadi tuh maksudnya negur kamu..” komet memajukan bibir bawahnya tanda dia jengkel. “emang kenapa kalo bawel-he? Kamu bukan aku dan aku bukan kamu!” ujar Pella tambah bawel. “karna kalo kamu berisik dan teriak-teriak bawel begitu.. akan muncul sesuatu dari lubang gelap ituu!!” komet menjerit tertahan sambil mencengkram pundak pella dan mengguncangng-guncang tubuh sahabat lamanya itu. ‘calm down.. Met.. calm down.. please.” Pella akhirnya sadar dari tadi Komet tidak mau bercanda karna saking waspada. Komet melepaskan cengkramannya. Dia sudah memegang gulungan tali tambang dengan gaya mirip koboy yang sedang memegang tali laso. “bangunkan Virgo Pella!” kata Komet menyuruh Pella.
“Ow, well.. kau mulai lagi bertingkah bossy..” keluh pella seraya berjongkok di samping Virgo. “vir! Bangun! Hurry up! Before she began to angry..” Pella berbisik di terlinga Virgo. Virgo langsung bangun. “any task for me?” Tanyanya spontan. “yes..” pella berkata singkat lalu mendorong Virgo ke dekat Komet. “kalian tolong bahu-membahu untuk mencapai lubang di atas. Lubang itu cukup muat untuk dilewati orang langsing seperti kalian. Ya.. yang jelas aku bersyukur tak ada orang gemuk di sini.” Gurau Komet. Dengan cepat dia berubah kembali menjadi serius. “ayo! Pella naik ke bahu Virgo! Lalu segeralah Pella naik ke atas lubang dan tarik Virgo ke atas!” Komet bertitah. “atau… kalo ternyata ada pegangan di atas, kamu tinggal berpelukan di kaki Pella, oke?” kini Komet menitah pada Virgo. “ready, Boss!” ledek Virgo.
Bahu-membahupun terjadi. Pella memang 2 senti lebih tinggi dari Virgo dan virgo 2 kilo lebih berat dari Pella. (waah.. pas banget ya?). Pella menggapai pegangan besi yang menonjol dari atas lantai di tepi lubang. Ia mencengkram pegangan itu erat-erat. Virgo berjinjit dan memeluk kaki Pella yang untungnya tak dekil. Pella menaikkan tubuh ke atas dan menarik kakinya kirnya yang dipeluk Virgo, lalu pada saat Virgo sudah delat dengan tepi lubang. Pella mengulurkan tangan ke Virgo dan Virgo menyambut uluran tangan itu, kemudian Virgo melepas pelukan tangannya yang sebelah dari kaki Pella dan ikut dengan tangannya yang satu lagi untuk memegang tangan Pella. Pella menarik sekuat tenaga. Setibanya di atas Virgo membaringkan tubuh di atas lantai. “awas! Jangan biarkan dia langsung tidur!” Komet berteriak dari bawah.
“Kau ingat soal- tidak boleh berteriak-teriak bawel itu?!” Pella berkata dengan cemberut. “sendirinya!” sindirnya lagi. “oke-oke.. tenang komet.. tenaang” kata Komet pada dirinya sendiri. “Baiklah, sekarang kalian bersiap menyambut lemparan tali ini! Begitu ujung tali sampai di tepi lubang, langsunglah menggenggamnya bersama!”
“Lalu?” virgo bertanya karna merasa perintah itu kurang lengkap.
“Lalu aku akan memanjat tali ini sampai ke atas!” Komet langsung memulai aksinya. Dia melempar tali itu ke atas dengan gaya koboy melemparkan tali laso untuk menangkap sesuatu. “Tangkap!” komet mengingatkan. Dengan sigap kawan-kawannya menangkap ujung tali tambang itu begitu talinya sampai di tepi lubang .
“Fyuuh.. berhasil. Nah, jangan lepas sampai aku selesai memanjat!”
“Wah, kuat gak kita?” Virgo bertanya dengan gugup.
“Anak mami! Jangan cepat lelah!” sentak Komet sambil tengah memanjat tali itu.
“Siapa yang berteriak anak mami..?!” terdengar suara dari dalam lobang gelap di dinding ruang bawah tanah itu. “oh.. mahluk itu..?” Komet makin waspada. “cepat panjat!” Virgo menyeringai karna merasa ada yang membelanya. “jangan senang dulu kamu!” kata Komet pada Virgo begitu melihat ‘anak mami’ itu tersenyum puas. Komet sudah setenagh bagian tali dipanjati. Terdengar langkah-langkah kaki dari lubang gua yang gelap yang tadi ditunjuk Komet saat ia bertengkar dengan Pella. Akhirnya…
“Tinggal 2 % dari bagian tali ini yang harus kau panjat!” Pella memberi support. Tiba-tiba perlahan demi perlahan terlihatlah sosok yang tadi melangkah dari dalam gua gelap yang dimaksud Komet. “Laba-laba raksasa?!!!” Mereka bertiga terperangah. “jangan terlalu lama takjub Komet! Cepat naiik!” Pella menyadarkan Komet yang terpaku saking kagetnya. “tanganku juga sudah pegal niih, megang tali tambang melulu!” Virgo memberi keluhan tanpa diminta. “okee.. hup!”
“GRAAAAA!!” teriak laba-laba itu menggerakkan kakinya untuk menarik tali tambang itu kembali ke bawah. Akhirnya Komet sampai di tepi lubang bercahaya itu dan tubuhnya ditarik oleh teman-temannya. Laba-laba itu memang berhasil menarik tali tambang ke bawah karna kawan-kawan Komet melepaskan tali itu dari pegangan mereka, tapi laba-laba itu gagal mendapat Komet. “alhamdulillah…” kemudian tanpa ada yang memberi ba-bi-bu lagi ketiga gadis itu berlari tanpa tujuan dari tepi lubang itu. “lubang itu bersinari karna ternyata atasnya adalah ruangan berlampu.”
“Ya, kita telah tiba di dekat ruangan rumah kaca milik bu Murti!”
“Sungguh?”
“Aku yakin!” Pella menekankan kalimatnya yang sebelumnya. Ada banyak pintu di ruangan berupa aula itu. Mereka harus menghabiskan 3 menit untuk menemukan ruangan yang ada anak-anak berseragam sekolah sedang berkumpul. Sampai di ruangan ruamh kaca tersebut, tempat sudah sepi, tinggal segelintir anak-anak yang masih tinggal. “yang lain mana?” Tanya Komet terburu-buru.
“Ya ampun! Kalian  kemana saja? Bu guru mencari kalian terus!” seseorang mendongak dari buku catatannya. Dia adalah Cloudy. “kau tak kan percaya bila kuceritakan peristiwa yang telah menimpa kami. Sekrang, mana yang lain?”
“Belum jauh tuh! Katanya pada pengen ke ruang mushola buat solat johor. Habis itu kita pulang ke sekolah.”
“Ooh.. ya sudah. Ayo kawan-kawan!” ajak Komet pada kedua temannya. Mereka keluar ruangan itu menuju koridor berliku-liku di luar. “tunggu aku! Aku sedang mencatat penjelasan dari Bu Murti tadi! Supaya kalian tidak kebingungan saat diberi soal di work sheet nanti!” Cloudy mencegah mereka bertiga untuk menyusul lebih jauh lagi. Virgo berbalik dan menghampiri Cloudy. “cloudy, nulisnya nanti saja di mushola! Sekarang cepat sebelum kita kehilangan rombongan! Jangan sampai ketinggalan Cloud!” nasihat Virgo. Cloudy segera berkemas-kemas lalu mereka beruda menyusul Pella dan Komet.

Aku mendengar suara teman-teman dari arah sini!” sorak Virgo sembari menunjuk jalan koridor di sebelah kanan. “okey, this way..” kata Komet berlagak nginggris. Mereka berlari menyusuri koridor itu. Tak berapa lama kemudian mereka sampai diperrempatan koridor. “jalan kiri, lurus atau kanan nih?” Tanya Pella. “ayo, aku mendengar suara teman-teman kita makin jauh!” mereka berjalan mengikuti Virgo yang kini jadi pemimpin.
Menit-demi-menit berlalu….
“Bruk!” Virgo menabrak Ludy. Cowok bermata sipit dan cadel. “ati-ati kalo jalan Vilgo!” kata Ludy ketus. “I’m sorry Lud, but, you can’t angry to me lake that!” kata Virgo mulai belagu. “why, hm?!” Ludy menantang. “because, gue anak tajir tao!” lanjut Virgo dengan bahasa betawi (akhrinya). “gue anak jerman yang kaya!” Virgo melanjutkan kesombongannya. Semua teman-teman di situ memandang pada mereak berdua dengan bertanya-tanya. “aku tau gimana caranya bikin mereka berdua diem” bisik Pella pada Yati. “Gimana?” yati bertanya dengan semangat.  Pella mengajak Cloudy, Komet dan Yati untuk berseru-seru: cieee! Tapi tentunya Virgo tak mengetahui hal itu.
“CIEEEEE! LUDAY SAMA SI INDO JERMAN NIEE!” koor mereka berteriak-teriak begitu kompak. Seketika Ludy dan Virgo diam—malu, sangat malu. Mereka sadar, bahwa mereka sudah bersikap norak karna hanya soal sepele sampai dipeributkan begitu. Semua mata memandang ke arah mereka, ya, semua mata anak murid kelas 4 SD iSwasta Islam itu. Kecuali para guru. Mereka sedang sholat. selesai Pak Yudhi solat, beliau menanya-nanyai beberapa saksi mata. Beliau merasa keberisikan saat solat. Setelah menasihati semua murid, beliau Cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. “nah, sekarang giliran kalian solat berempat-berempat di ruang musola. Berhubung musolanya gak muat, jadii..” Bu Imah berbicara di toa. Akhirnya setelah semua selesai solat. (beberapa ada yang solat di jalan koridor akhirnya)…

AKU BERJALAN-JALAN KE RUMAH BU MURTI

Kesan: rumah itu hebat, sangat banyak ruangan. Sayang aku tak ikut mendengarkan penjelasan Bu Murti. Tapi rumah itu bisa membuat tamu-tamu yang nekad berkeliling melihat-lihat menjadi tersesat. Seperti yang terjadi padaku.

Pesan: bu guru, pak guru. Jangan pernah lagi membawa kami ke tempat seperti itu lagi!!!!! Ada tarantula, kapten flint, tengkorak, ibu bidadari. Aaahhh! Menyeramkan!

NAMAKU: Pella

Begitulah isi lembar work sheet berisis Kesan-Pesan yang harus ditulis anak murid. Dan persis seperti  di atas Pella menulisi work sheet itu. Saat bu Imah membaca hasil kerja Pella, beliau memainkan alisnya bingung. Semua anak murid tengah serius menekuri lembar kerja yang diberikan guru-guru. Mereka sedang duduk-duduk di ruang tamu Bu Murti. “BA!” bibi mengagetkan Pella. Beliau sudah merubah tampilan dirinya menjadi manusia biasa. “eh-bib.. maksudku bidadari…” bibi tersenyum tulus padanya.”tak apa. Panggil saja aku sebagai bibi.”
“Bi, gimana kapten flint-nya?”
“Beres.. sluruh arwah kapten Flint hancur. Tak ada yang tersisa. Biasanya kan orang kalo mati tinggal arwahnya, nah, arwah kapten Flitn-pun sudah tak ada..” kata Bibi senang. “Baguslah! O-ya bi, tadi kita ketemu tarantula sungguhan tapi dia berukuran raksasa! Lebih besar dari Abiku..”
“Hmm.. dia ayah kapten Flint yang dikutuk anak tunggalnya.” Jelas Bibi. Alis Pella bertemu, dia siap mendengarkan kembali sebuah cerita seram dari bibi.
“Bibi nggak ngibul?”
“Ohoho.. tidak sayangku, tidak pernah bibi berani berbohong.”
“Jadi, kenapa dia dikutuk?”
“Flint marah karna ayahnya telah memperistri seorang tarantula sebesar telapak tenganmu.”
“HA? Bagaimana caranya?!”
“Begini: suatu hari ayah kapten Flint menemukan seekor laba-laba di tangah hutan saat melakukan ekspedisi. Dia seorang professor yang terlalu berambisi mengubah hewan menjadi manusia. Suatu hari dia mendapat akal untuk membuat ramuan pengubah laba-laba peliharaannya itu menjadi seorang wanita”
“Lho? Akhirnya jadi peliharaannya tuuh?!”
“Iya! Nah, terus.. berubahlah laba-laba betina itu menjadi wnita manusia. Otak dan seluruh organ-organ tubuhnya sudah menjadi yang sewajarnya sebagai manusia.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, sampai seorgan-organ tubuhnya menjadi oragan tubuh manusia!”
“Ow, keren..”
“Lalu, merekapun menikah dengan paksaan dari ayah kapten Flint.. setelah melahirkan kapten Flint, ibunya kapten Flint kabur dari rumah mereka ke dalam hutan. Dengan bantuan tuan Snaky Smart, ibu kapten Flint berhasil berubah menjadi tarantula lagi!” bibi membetulkan posisi celemeknya.
“kemudian, setelah kapten Flint dewasa, dia akhirnya berhasil mengorek keterangan tentang ibunya. Betapa marah dan sedihnya dia mengetahui bahwa ibunya adalah seekor tarantula. Dia juga marah pada ayahnya karna sudah memunculkan Kapten Flint ke dunia ini dengan cara kawin paksa.akhirnya dikutuklah ayahnya dengan ilmu yang dia peroleh dari perguruan Black Magic”
“ouh, menurutku kapten Flint terlalu berlebihan! Dia bisa saja memaafkan ayahnya atau kabur dari rumah seperti yang telah dilakukan ibunya.”
“tidak, dia tidak mau pergi ke manapun. Karna ingin memperbutkan rumah mereka dan menguasai ruang laboratorium ayahnya. Karna itulah alasan ia mengutuk ayahnya—sekalian menyingkirkan..”
“ehmm.. agaknya cerita barusan terlalu dewasa untuk di dengar anak 10 tahun sepertiku..”
“tapi kamu sudah mengerti kan?”
“tentu, ouf.. haah..” Pella akhirnya menghela napas panjang karna lega cerita itu telah selesai. “barusan itu.. seperti dongeng!”
“memang, akupun masih kurang percaya pada Flint. Dia yang menceritakan itu semua padaku saat kami bertemu di Motel negeri Magic. Aku ikut perguruan Islamic Magic.” Kata Bibi mendesah. “aku rindu dia yang dulu.. sebenernya berat hatiku untuk menghancurkan arwahnya. Itu adalah misi dari atasanku dan aku wajib melaksakannya. Bila tidak kulaksanakan, sama saja aku melanggar hukum. Sebelum dia terhasut untuk bergabung dengan para siluman laba-laba, dia seorang manusia biasa. Cukup tampan sebenarnya..” kata Bibi menelan ludah untuk sekian kalinya. Pella harus bersusah payah menahan tawa mendengar kata: ‘cukup tampan sebenarnya’. “umur berapa bibi jadi bidadari”
“aku adalah anggota keluarga bidadari sayangku.. hanya saja aku baru menemukan jati diriku itu saat umur 18 tahun. Ini tak seperti angkatan senjata TNI. Bila kamu bertanya pada kakekmu yang pensiunan TNI dengan kata-kata persis yang baru kamu lontarkan padaku. Maksudku seperti ini-‘umur berapa kakek jadi Letnan?’ nah itu baru tepat!”
“iya deh, bu guru” canda Pella.

Anak-anak murid kelas 4 smt II SD Swasta Islam maniki bus bergiliran. Ada aliran ke pintu depan dan aliran ke pintu belakang. Hehehe.. (loh kok kamu ketawa?) Pella naik lewat pintu bisa yang belakang. Dia duduk di barisan yang tempat duduknya ada dua, dan 3 baris dari belakang.
Di tengah perjalanan, Pella dan Komet saling membicarakan kejadian yang telah
mereka alami. Pella tak lupa memberitahu informasi dari Bibi kepada Komet. Virgo menceritakan pengalamannya kepada Yati dan Cloudy, teman sebangku bis-nya. Dia menceritakan dengan menggebu-gebu. “seru banget deh bo’!” katanya mengakhiri ceritanya. “mirip dongeng..” tanggap Yati singkat. Cloudy mengangguk ragu-ragu. “seperti cerita karangan..” akhirnya Cloudy ikut menanggapi. Virgo cuma terdiam putus asa karna teman-temannya tak mempercayainya. “yah… aku sudah menduganya.. mustahil ada kawanku yang percaya tentang pengalaman seram kami di rumah Bu Murti.” Kata Pella dalam hati. Tapi… semuanya sudah berakhir. Kapten Flint, bibi, professor berambisi .. semuanya sudah berlalu.
“tak akan kulupakan pengalaman itu..” kata Pella mulai memejamkan matanya untuk tidur di sambil duduk. Komet menyusul.. dia kelihatan tersenyum sambil memejamkan mata. Virgo berucap.. “aku tak mungkin menyesal karena mendapat pengalaman itu” kata Virgo datar. Dia melirik Cloudy dan Yati yang masih terheran-heran menatapnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s