Pershabatan

Pelangi sudah lama berteman dengan Komet. Sayangnya ternyata Pelangi punya sifat borjuis. Komet tak menyadarinya. Pelangi punya prinsip berteman yang sangat salah: berteman adalah demi memperoleh kesenangan dan ‘menerima’ suatu kebaikan dari sang teman. Padahal di mana-mana seharusnya berteman itu untuk memberi. Saling menerima berarti juga saling memberi sementara Pelangi hanya ingin menerima. Suatu hari kelicikan Pelangi sudah memuncak: “Pella, aku pengen nonton bioskop kusus para bos-bos di kantor papaku. Dia kan produser TPI jadi kamu di tempat bioskop itu bisa ketemu para pemain film di TPI. Terutama pedangdutnya loo!.” Kata komet pada Pelangi. Ia awalnya menduga pelangi bakal menolak karena dia kan jilbaber!

“heh?! Mau ikut dong! Tapi. Duit beli tiketnya..” kata pelangi pura-pura berpikir menimbang-nimbang. Komet langsung sadar.. “hehe pengen dibeli-in ya? Tenang.. aku dah tau kok, buat apa aku bilang-2 soal ini kalo bukan untuk ngajak kamu ke bioskop bareng?”  kata Komet. Lalu ia berjanji besok sudah akan membeli tiket untuk Pella. Panggilan untuk Pelangi. Ternyata ayahnya Komet sakit magh jadi gak bisa ikut ke bioskop.
“Huh! Gak mau temen sama kamu lagi ah! Ternyata kamu payah, inkar janji!” kata Pelangi sebal. Hhh.., licik banget ya dia? Berteman hanya untuk kebagian kekayaan temannya. Maklum, pella kan tinggal di kampung. Dengan lugunya Komet langsung berkaca-kaca, “aduh plis dong Pella! Maaf.. banget! Pliis jangan tega mutusin persahabatan kita ya? Soalnya aku rada kuper siih! Jadi cuma kamu yang bisa jadi temen setiaku!” komet berkata dengan memelas. Pelangi akhirnya iba juga. Sayang beberapa minggu kemudian pas ada ulangan, Pelangi dengan lancarnya menjawab semua soalnya. Beberapa soal Komet kelimpungan menjawabnya. Tiba-tiba lecekan kertas dilempar ke mejanya.

“hei? Dari siapa ni?” saat dibuka lecekan itu.. oh! Jawaban-jawaban semua soal ulangan itu ada di situ! Dan di bagian paling bawah ada tulisan: dari Pella (kamu ambil jawaban-jawaban yang soal-nya gak bisa kamu jawab aja yah! Kalo semua namanya curang!) komet langsung manggut-manggut senang dan bingung.  Tapi sepulang sekolah, Pella pengen main ke rumah Komet soalnya dia mau liat kamar Komet yg mewah dan karna mewah jadi pengen nginep. Padahal kamarnya sendiri udah bagus.. biasa, borjuis! Si Komet Cuma mengangguk ragu tapi dalam hatinya sesungguhnya dia senang. Tapi ada rahasia besar sampai dia ragu menerima permintaan Pella. “duh, kayaknya gak bisa sekarang deh neng!”
“Yaah, padahal aku udah bawa baju gantinya! Ih, kok males sih lama-lama temenan sama kamu? ”
“Aah kamu, ada masalah serius di rumahku nih! Urusan keluarga yang gak boleh kamu tau!” kata komet akhirnya tegas. Pella agak tersentak mendengar nada ngomong si komet yang gak biasa itu. “hmm, ya sudah deh! Tapi, ngerti gak sih kamu alsasan kenapa aku ngasih contekan? Itu biar aku bisa main ke rumahmu!” lalu Pella melangkah pulang dengan merutuki sifat Komet. Padahal yang paling nyebelin kan si Pella sendiri.

Sementara itu di rumahnya, Komet kesepian karna seluruh barang di rumahnya disita oleh aparat kepolisan bla-bla-bla dikarenakan ayahnya tertuduh sudah terkait masalah korupsi. Kata ayahnya, “tenang sayang, ayah berada di sisi benar. Insya allah tak akan terjadi apa-apa yang buruk pada ayah Selama Allah tau ayah berbuat benar. Yaa., paling-paling masuk RuTan” Maksud ayah apa sih? Komet masih memperherankan kalimat barusan. “ayah masuk penjara Bu?!” Tanya Komet kaget saat ikut-ikutan membaca Koran  bersama ibunya. “gak usah panik!! Semua itu Cuma fitnah!!!!” bentak ibu dengan nada panik ?? “waduh kayaknya ibu frustasi neeh..” komet tak tahan pengen main keluar rumah. Awalnya pengen ke rumah Pella. Tapi, takutnya dia malah minta main ke rumahnya Komet. “malu-malu-maluu!!!!!” seru komet dalam kesendirian di taman kompleks-nya. “apa kata teman-teman kalo ada yang baca Koran?” komet pusing sendiri. Dia seperti buntu pikiran akhirnya pergi ke rumah Pella. Dia curhat dengan Pella, sayang pella menanggapinya dengan desahan, “ah, aku malu. Sahabatku anak seorang koruptor?!” desis Pella tak percaya. “kumohon, kamu mau mengerti keadaanku! Yah?” ucap Komet lagi-lagi memelas.

Besoknya, di sekolah dia memilih konsultasi sama Cloudy, temannya yang berhati selembut awan dan pipinya segembul gumpalan awan. “Cloud, kupengen ngomong sama kamu di saung dong!  Sekalian Jajan bareng, yuk!” kata Komet spontan. “ajak Pella atuh!” kata Cloudy mengingatkan. “males..” desah Komet. “?! Tumben si eneng males jajan bareng sohib deketnya sendiri?” goda Cloudy. “itulah kenapa aku mau ngomong-ngomong sama kamu. Obrolannya lumayan serius lo!” lalu mereka berjalan ke kantin belakang. Di sana mereka jajan pop ice dan mie goreng. Lalu mereka berlari menyebrangi taman belakang sekolang yang dipenuhi rumput bunga dan pohon. Di sudut taman ada saung lebar. Di sanalah tempat anak-anak murid sekolah Swasta Islam belajar secara praktek. Atau, kalo kantinnya sudah penuh di saat jam makan siang, yang gak kebagian tempat boleh makan di situ. Nah, sekarang kan lagi isitrahat, saung lebar itulah tempat paling nyaman buat ngobrol, main, ngegosip dll. Terutama buat anak perempuan. Di saung itu sudah ada Meteor, Sagitta dan Pravo yang sedang berkumpul sambil makan jajanan masing-masing.
“Hei! Si anak saudagar kaya yang cantik itu datang!” bisik Pravo yang kebetulan temen les-nya Komet juga.
“Halo salamu-alaikum nona komet!” sapa Sagitta ramah.
“He kalian! Sadar! Sini-sini.. mau denger berita hot gak? Seruu!” kata Meteor dengan mata kesal pada mereka-Komet, Pravo dan Sagitta.
“Bapaknya komet kan..” Meteor terus berceloteh. Komet tak mendengarkan dan sudah menebak bakal ada gossip tentang dia. Komet tau betul kalau Meteor itu ratu gosip di kelasnya. Sementara gerombolan tiga cewek tadi bergosip, Komet dan Cloudy memulai acara konsultasinya. “kenapa si Pella yang jibaber itu jadi suka artis dangdut TPI ya?”
“Menurutku demi ketemu artisnya. Sekarang gak sedikit perempuan, yang meski udah kelihatan kayak akhwat tapi tetep ada tuh harapan ketemu artis idolanya. Masih ada tuh kebiasaan nonton sinetron aneh-aneh.” Kata Cloudy berusaha bijak.
“Nah, sekarang masalah lebih serius. Pella berbuat kebaikan padaku pasti selalu ada maunya. Tau’ kenapa ya? Dulu kebanyakan imbalan yang dia mau: uang jajan. Dia seperti memanfaatkanku: dengan menjadikan aku, yang dikenal sebagai anak orang kaya oleh seantero sekolah-bukannya sombong lo!, sebagai sahabat terdekatnya.”
“mm, kalau ini aku mulai agak bingung. Dia itu tipe orang kampung yang kalo ngelihat kesempatan dapet pernak-pernik, duit dan sejenisnya bakal nafsu banget! Mungkin maksudnya memanfaatkan kamu supaya dia kecipratan keuntunganmu juga. Dia sering minta dibelikan perhiasan ke kamu gak?”
“eh? I-iya, tapi Cuma kalau dia ultah. Selalu maksa-in aku beli hadiah special buatnya, tapi gak selalu perhiasan kok! Uhmm, kayak misalnya buku novel berkelas itu lebih sering..” ucap Komet sembari mulai menyendok mie gorengnya.
“yee.. itu sama aja neng! Berarti kesimpulannya ada masalah dengan keuangan keluarganya sampai-sampai uang jajan aja minta ke temen. Emang kita ortunya? Gitu lho kesannya! Emang ortu-nya gak pernah mikirin gituan buat dia ya? Kalo sampai begitu, kita Tanya aja Pella-nya, mungkin beneran ada problem rumit di keluarganya. Terutama soal ekonomi. Dia sering minta duit jajan ke kamu kan?”
“iyalah! Dari tadi udah kujelasin dari awal kok!”
“kasihan Pella..” gumam Cloudy mulai menyedot pop-ice rasa anggurnya.
“eh? Maksudnya?” kali ini Komet berucap sambil menyeruput pop ice-nya.
“hadooh! Kamu belum ngerti juga ya? Duuhh, Komet-ku yang lugu!” kata Cloudy meleapas bibirnya dari mulut sedotan lalu mengusap-usap kepala Komet. Komet langsung manyun dibilang begitu, tapi diam-diam dia nyengir juga. “udah yok! Kita cari Pella sekarang sebelum bel selesai istirahat berbunyi! Aku kan belajarnya di kelas sebelah..” kata Cloudy bersemangat dan bangkit dari duduknya.

“belum selesai nih mi gorengnya! Tunggu sikit lagi!” kata Komet terburu-buru melahap sisa mie gorengnya. “dibawa aja gelas plastiik wadah mie-nya. Siapa tau Pella di kelas. Kamu tinggal makan di sana aja bareng dia.”
“oke-oke!” kata Komet akhirnya bangun dari duduknya sambil memegang gelas plastik mie gorengnya. “oke-oke! Jadi si nona Komet anak penjahat mau pergi ke mana nih?” sahut Sagitta tiba-tiba dengan gaya mencemooh. “udah yuk! Gak usah deketan lagi ma dia! Cih!” sahut Pravo juga bangkit dari duduk lalu melempar pandangan benci pada Komet. Diikuti Meteor tiga anggota geng penggosip itu turun dari saung lalu bermain di lapangan. Komet mengerti, tapi dengan cerdiknya dia menutupi rasa gundahnya dengan tampang lugu.

Cloudy paling heran memperhatikan Pravo, Meteor dan Sagitta berlari-lari ke arah anak-anak perempuan lainnya dan membisik-bisikkan sesuatu ke telinga mereka satu-satu.ada yang menanggapi dengan histeris, ada yang no comment, ada yang cuek, tak peduli, dan tak percaya. Paling parah ada yang memicingkan matanya kelihatan mencari-cari sosok Komet dengan gaya menantang. Komet dengan tergesa-gesa berlari sambil menggamit tangan Cloudy, mereka kembali menyebrangi taman luas berumput itu menuju kantin. Dari kantin Komet berlari-lari tak keruan dengan perasaan sesak membara di dadanya, ke arah kelasnya di lantai atas. Sampai di kelas, Komet menjatuhkan dirinya di atas kursi belajarnya dan langsung merebahkan kepalanya di atasnya meja. Sementara mukanya ia tutupi dengan melipat tangan di sekeliling kepalanya. Lalu terdengarlah suara sedu sedan dari mulut Komet.

“Met, kenapa kamu??” Tanya Cloudy prihatin. “bukan urusanmu! Aku pengen sendiri aja di kelas! Cloud, usir temen-temen yang masih di kelas, biar aku puas nangis sendirian tanpa ditertawakan teman-teman!!!” teriak komet. Tentu saja Cloudy tercengang. Dengan hati-hati ia bicara pada teman-teman yang lain yang masih asyik makan bekal dan bertukar cerita dikelas. Selesai semua pergi keluar dengan termangu-mangu, Cloudy masuk lagi. “loh? Ngapain masuk lagi?! Kamu bukan perkecualian!” ujar Komet ketus.
“tolong jelaskan apa adanya Met! Kita tadi masih akrab-akrabnya mengobrol,tau-tau berubah drastis jadi gini kan aneh? Kita belum ketemu sama Pella.. kita baru mau membereskan masalah persahabatanmu dengan Pella kan? Kok tiba-ti..”
“CUKUP! Sagitta yang dikenal anak teramah di kelas 4 ini, tiba-tiba jadi judes sama aku! Pravo yang awalnya paling senang bertukar cerita dan bekal denganku, jadi begitu?! Pella yang awalnya sangat baik Hati denganku jadi.. ”
“EITS! Aku ngerti sekarang, menurutku Pella memang dari dulu mata duitan dan pengen tampil borjuis. Dia juga bukan pendengar curhat yang baik.” Kata Cloudy mulai mengerti, ada yang menghasut Sagitta dan Pravo sampai-sampai mereka begitu memusuhi si Komet secara tiba-tiba. Cloudy merangkul Komet, “cerita dong Met, ada rahasia besar nih yang kamu pendem dalam-dalam rupanya..”
“hiyy. Buat apa ih, aku pakai cerita–cerita ke kamu! Aku jadi curiga, jangan-jangan semua temenku bakal berubah jadi negative terhadapku. Dan ingat! Kamu bukan perkecualian!!” ujar Komet lagi, matanya sembab tapi tatapan kecewanya berkilat-kilat di bola matanya. Cloudy yang pintar membaca perasaan orang hanya dari raut wajah dan tatapan mata, langsung terhenyak. “kamu kayaknya kecewa berat.” Kata cloudy datar. “apa sih pengen ikut campur aja?!”
“Met,  tenang! Insya allah aku bukan tipikal yang kamu gak suka. Aku tinggal di lingkungan yang mendukungku supaya terus berperilaku baik dan berahlak mulia, tau sendiri kan orang-orang di kompleks-ku pada ikut ngaji dan TPA. Yang surat-surat pendek itu udah level anak TK. Dan aku..” kalimat Cloudy terputus, ia tak ingin riya. “iya-iya.. aku tau, bentar lagi kamu lulus juz 29 kan?” terka Komet mulai tersenyum. Cloudy tersenyum tak enak. Dia benar-benar tak mau riya. “ah, kamu bisa aja Met! Udah! Mendingan sekarang kamu terus terang ke aku! Siapa tau aku tahu solusinya.”
“deuu, gayanya udah kayak orang konsultater aja!” ledek Komet.
“ayo dong, cerita-in aja Komet!” bujuk Cloudy. Tiba-tiba, gebrak! Pintu kelas terkuak, terlihat Pella yang berdiri di ambang pintu. “biar saja Cloud, dia kurang ajar. Sekalinya ada yang prihatin sama dia dan diminta curhat aja, dia nolak mentah-mentah. Aku pernah digitu-in, setelah reda masalahnya, dia ketawa-ketiwi udah asik lagi. Intinya, dia tuh Cuma caper!” geram Pella berkata. Komet menggigit bibir, degan takut-takut ingin membantah kata-kata Pella. TAPI SEBENARNYA SEMUA ITU BETUL.

“begitu ada yang prihatin ke dia saat dia sedang ada problema, dia malah cuek dan menampilkan wajah mengiba-ngiba dan tatapan berduka lara. Padahal semua itu bohong! Dia hanya minta diperhatikan! Di lingkungan tempat tinggalnya dia selalu bertingkah salah, ceroboh dan culun karena itu tak ada tetangga yang mau temenan dengannya. Karena itu juga dia cari-cari perhatian di sekolahnya dengan sering-sering berwajah muram dan sedih. Pasti bakal banyak  yang mau temenan denganku—mungkin begitu pikirnya!” jelas Pella berapai-api. “aku gak suka sama orang yang caper!” dengus Pella.
“tapi bagaimana kamu tau sifat-sifat pribadinya. Yang culun, ceroboh de-el-el itu?” Tanya Cloudy.
“aku tau dari Komet..”
“berarti dia masih mau curhat dong!”
“itu habis kudesak-desak!”
“yee…, kalau mau denger curhat orang jangan maksa-maksa! Itu kan hak-nya si Komet!”
“iya! Ngapain kamu maksa! Dimana-mana yang denger curhat itu kan bersifat pengertian dan makluman!” kata komet akhirnya angkat bicara. “sudah.. kalian berdua itu sama saja.. sekarang saling mengakulah kalian masing-masing akan kekuranganmu! Oke, gimana kalo aku suruh kalian buat daftar kekurangan dan kelebihan kalian di buku notes-ku!” ujar Cloudy memberi usul.
“ii.., males dah!” kata Pella. “ei, ini kan berguna untuk kalian sendiri! Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan teman sendiri, kalian harus terlatih menghadapinya. Kepada kelebihan, kamu terlatih tidak perlu merasa iri dengan kelebihan temanmu! Kepada kekurangan, kamu terlatih tidak mengejek dan tak perlu membenci temanmu hanya karena  kekurangannya! Ngerti kan?”

Berikut daftar-daftar kelebihan dan kekurangan Komet dan Pelangi:
KELEBIHAN KOMET:
o    Bisa menerima kenyataan pahit dengan baik
o    Bisa melukis seindah Galileo Galilei
o    Bisa menyembunyikan perasaan buruk dengan tetap tersenyum
o    Mempercayai teman
KEKURANGAN KOMET:
o    CAPER, bila kelihatan ada peluang untuk melakukannya, tindak-tanduknya jadi berlebihan
o    Traumatic
o    Tak mau melakukan koalisi atau perdamaian tapi mau melakukan pembalasan dendam
o    Terlalu mudah percaya, pun kepada orang asing tak dikenalnya
o    Tel-mi dan sedikit lugu

KELEBIHAN PELLA:
o    Gaya bahasa yang dipakainya menulis sudah seperti seorang sastrawan
o    Realistis
o    Pintar memahami konsep dasar suatu cerita atau penjelasan
o    Pintar mengambil hati
KEKURANGAN PELLA:
o    Kalau perasaannya sedang mangkel atau dongkol, kata-kata pedas siap meluncur dengan lancar dari mulutnya-saking pintarnya dia menyusun kata. sayang, kalo lagi BT kata-kata yang dipakainya seringkali kasar.
o    Perasaan ingin tampil borjuis dihadapan temannya padahal di rumahnya dia sangat sederhana.
o    Bila melihat kesempatan mendapat suatu benda perhiasan emas/perak, pokoknya yang mewah, dia tak ragu-ragu lagi memaksa orang/menyuap orang suruhan agar mau mengambilkannya untuk dirinya sendiri. Kalo bukan begitu, dia berani membeli benda itu dari pemiliknya.
Setelah semua itu ditulis di buku notes-nya Cloudy, tentunya Pella menulis dengan ogah, Pella dan Komet saling membaca catatan temannya: Pella membaca catatan Komet, Komet membaca catatan Pella. Selesai membaca keduanya saling melempar senyum geli—geli terhadap kekurangan masing-masing. Mereka sadar, setiap orang ternyata punya kelebihan dan kekurangan. Oh, allah maha adil!

Lalu setelah berpelukan, keduanya menatap Cloudy dengan senyum jahil. “Sekarang, kelebihan dan kekuranganmu! Berikan ke notes kami!” seru mereka tepat ketika bel masuk berdering. “eh-oh? Ma-maaf, udah bel tuh! Nanti pas pulang sekolah yach! Hihihi bye-bye!” kata Cloudy langsung cabut ke kelas sebelah. Sementara itu teman-teman yang sekelas dengan Pella dan Komet berhamburan masuk ke dalam kelas. Yang tadi pada diusir sama Komet dan Cloudy, masuk tergesa-gesa dan memberondong pertanyaan untuk komet, sebagian besar dengan wajah agak sebel.
Pella dan Komet cuma geleng-geleng kepala sambil cekikikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s