The Exciting Sunday Morning

IMG_0308[1]

Mungkin setiap kota di Indonesia memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari Minggu. Salah satunya kota Pelajar dan Budaya ini, Yogyakarta. Tidak hanya Jakarta tempat asalku yang punya car free day dan event Sunday Morning. Yogya punya Sunday Morning yang berlokasi di Kampus bekennya, kampus segala mahasiswa di Indonesia. Yang menyediakan tempat bersantai di Minggu pagi. Yap, Universitas Gadjah Mada. Dari pintu masuk dekat gedung vokasi Ekonomika dan Bisnis sampai melewati gerbang FBS UNY. Jalur yang cukup panjang untuk jogging sebenarnya. Mungkin kalau diilustrasikan, di awal jalur Sunday Morning dompetmu masih penuh, tapi begitu keluar yap, tahu sendirilah. Yeah dan ini adalah tulisan kedua tentang mini advanture-ku bersama Aghnia, kalian bisa follow Instagram @aghniarlf

IMG_0274

Jual kerudung aja bisa jadi lucu gini

Namun pagi itu aku dan Aghnia bukan berniat jogging. Misi kami simpel. Ngabisin duit.

Continue reading

Advertisements

Sushi Story, So Many Stories

Processed with VSCO with c1 preset

Aghnia

We really want to sightseeing that afternoon. And wait, let me introduce my friend. She is the most fantastic girl that i’ve ever known since i study in Yogyakarta. No, it wasn’t an exaggerating words. She is the badass girl who made me break the rules more easily. And that day, Tuesday gonna be the second time for me, I went to her motel near to our school, it only take a few minutes from the dorm. She has her own world in her motel. And in her home sweet home of course.

Call her Aghnia who known as rider girl. She goes to everywhere by herself, on her own motorcycle. She’s not the top rank in my class, but she is the one who make the clever persons can be her—how can i say?—obey her? Nope, yeah respect her well. I don’t know either all my classmate that really have good attitude as Jogja’s Students, or Agnia herself that really bossy. She is the boss. I call her boss. Because she likes to ask, giving command some kindo that. The theory of “You dont need to be the number one in your class to be success” is applicated well in my school.

So than, this blog for the next several my writting i’ll tell you about my days, my trip, my mini-advanture with her! Yeay!

***

After making many options, and asking another firend of mine about our destinations.

“How about the Bowling Cafe?

“No! It’s expensive,”

“Well, how about Kali Milk?”

“TOO FAR, DUDE.” She said too far because she’s the one who will ride the motorcycle, she will be my driver. Haha.

“Uhmm.. What if..,”

“The wifi is suck,”

Then, i already gave all the options of the place. Now let the big boss make the decission.

“I really wanna take you to Warung Up Normal, it’s an abnormal cafe for abnormal person. But, i’ve got so little money,”

“Then, let me bill on you,”

Of course she doesnt want it.

Finally we right away went to Sushi Story.

**

For me, who already stay as a student in a boarding school in Jogja City, i still rarely know about the hang out places. For me who used to be home-based child. Hang out on the roof top of house, or the balcony in front of the bedroom is amazing enough.

So, Sushi Story. A restaurant that providing Japanesse Food. Located at Affandi Street, Condongcatur, Depok, Sleman, Special Region of Yogyakarta.  This restaurand not only serve the japanesse food, but also the decoration of the interior, and the cashier, and the chef! It has so many franchise in Indonesia, but he most welknown is here, The Sushi Story Yogyakarta. The price is quite standard so i and Aghnia, we bargain our money to buy some sushi. Though in Sushi Story, not only provide the sushi, but all the japanese menus. Ramen, tobobki, etc.

Processed with VSCO with c1 preset

You can also choose to sit outdoor or indoor, indoor? I meant behind the glass wall. And near the table of the chef. Yes, in this restaurant the desk to order food, and the the desk for the chef making the food are different.

Processed with VSCO with c1 preset

Sakao Maki and Banzai Maki, yeay!

 

Finally, i orderd Sakao Maki and Agnia ordered Banzai Maki. Two kind of sushi that has the cheapest price i think.  Oh yes, for your information, if you interested to make it, Sakao Maki made from sushi rice, bonito tempura, chopped kyuri, tsukemono carrot and papaya, nori sushi and Amzupai Sauce.  We chose to sit outdoor, with the long table and long bench. And near the table there were Sakura Trees. I believed it wasn’t real tree. But it looked so lovely. With the bird cages hung on the ceiling.

Processed with VSCO with f2 preset

And the obscurely lamps. It felt nice altough we still brought the heavy stuff (my huge backpack with dirty clothes inside, haha). And one more thing, the chef are good looking. I dont mention that they handsome. But, haha, yes. They looked well. With the ellegant uniform of Sushi Story’s emplooyees. And elegant smile. Hah, really are you kidding me?

First, i felt so shame noticed my self admiring the chef, but, it turned out that Agnia kept focus on a man with the most good-looking face. I teased her, i said “Should i interview him?” I put my naughty smile, my hand full with the cellphone and her pocket camera. She only widely opened her eyes with the mumbling voice, “What the..?! Just, DONT!” She just moved her lips with low voice.

“Then just stand and admire him from this spot. I can just ask him to take a picture together. Then we post it into instagram,”

But, Aghnia’s expression made me sit again! XD.

**

Yeah, we went home when the first rain drop came down to earth. Lucky she prepared the raincoat. And almost all the momories of her pocket camera contained the silly and unimportant short videos about our ride. Haha.

Romance Phobic

Menatapnya seperti membuka luka lama. Kelebat bayang putih-biru berlarian lagi melintasi ruang bersuhu dingin ini. Rina sibuk mengemut sendok berisi gumpalan eskrim Mcflury Choco. Tidak peduli hidungnya mengeluarkan cairan dan bersin berulang kali. Ia sengaja berlama-lama disitu, toh di luar hujan turun begitu lebatnya. “Ini yang disebut perayaan patah hati,” lawan bicaranya, Nisa, an old friend duduk di hadapannya.

Juga sibuk menjilati eskrim saus strawberry. Dua gadis remaja tanggung (18 tahun) menghabiskan sore itu di salah satu tempat nongki di Mall Malioboro. Nisa dan Rina bahkan telah saling mengenal sejak taman kanak-kanak. Nisa tahu betul karakter sahabatnya. Rina tidak akan menangis hanya karena masalah sepele. Sepele? Ya.

“Gini deh, gue bingung sama dia. Dia kan udah tau lo dari dulu. Jalan 7 tahun kalian akrab, but, kenapa dia engga..?”

“Itu poinnya!” Rina menyela sambil mengacungkan sendok plastik eskrimnya.

“Dia sangat tahu! Tahu setahu-tahunya. Bahkan soal gue yang..terikat, oh no, tersihir sama dia bertahun-tahun. Dia ga kasih tau gue, karena mau jaga perasaan gue, Nis!”

“Hell yeah! Kalo dia sebaik itu kenapa dia upload foto berdua cewek lain. LEbih sakit kan, lo cuma bisa nerka tanpa dia kasih tau apapun. Dan lo malah tahu dari orang lain. Itu lebih sakit,”

“Mungkin dia kira gue cuma ngira cewek itu temen deketnya,”

“Bullshit!” Diah meletakkan gelas eskrimnya dengan kasar. Sudah satu jam lebih mereka duduk di sudut itu. Dekat dari wastafel. Dan di sisi kanan Rina, dinding kaca sempurna basah di luar oleh air hujan. Mereka bisa menikmati pemandangan-kesibukan Malioboro di bulan Desember. Dan mulai menggigil oleh AC ruangan. Ia memakai sarung tangan hitam yang ia beli di toko aksesoris tak jauh dari sini.

“Seriusan kita gak move on ke mana gitu?” Rina bertanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya yang dingin. “Gue pewe, meski gigil,” Balas sahabatnya nyengir.

Rina melanjutkan jilatannya. Baginya semua makanan di kafe fast food itu bisa mengembalikan moodnya. Atau setidaknya menghibur hatinya.

“Lo gak pernah coba tanya si Natali. Kenapa mereka bisa sampai taken–akhirnya?”

“Natali? Gue rasa dia udah wanti-wanti Natali biar gak jelasin terlalu banyak ke gue,”

“But, lo tau, pacarnya bener-bener bukan tipenya dia! Natali pun mengakui kan, [acar dia sekarang gak cakep. Aneh,”

“Tapi anak kedokteran, woy!”

“Cantikan Natalie, Rin!”

“Love is blind,” Rina sedikit melamun saat menangkis perkataan NIsa. KEnapa terkesan ia membela perbuatan seorang yang sudah menyakitinya? Tapi alangkah menyebalkan urusan perasaan ini. Apalagi bagi gadis lugu sepertinya yang membiarkan perasaan itu tumbuh berkembang hingga mengakar kuat seolah pohon kokoh nan rimbun. Butuh sesuatu yang dahsyat untuk menghancurkannya.

“Asal lo gak philobhobic aja kayak gue,” Nisa dengan gaya acuhnya menyeruput fruit tea dari gelas stereofoam yang mereka pesan untuk menemani lunch dengan fried chicken. Semua yang dikonsumsi mereka saat itu sangat junk food.
“Wait, gue tahu istilah itu..,”

“Phobia akan jatuh cinta,” Nisa menimpali sambil terkekeh. Well, pernyataan NIsa barusan cukup membuat Rina tersedak. “Itu seriusan? Bukan sugesti lo doang?”

“Si Izzah juga lho, Rin. Dia malah hasil test di internet”

“Hmp. tes kayak di facebook kan, dasar itu mah ga valid,”

Lalu diam. sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Lo gak percaya sama cinta. Gitu intinya?” Rina bertanya dengan wajah meledek.

“Bukan. Lebih kayak cinta dalam konteks relation-ship. Gue sempet sampai pada satu kesimpulan bahwa, gak ada satu hubungan yang awet. Pasti akan ada putus. cerai,”

“Stop. Tapi lo liat orangtua kita kan?”

“Ya itu dulu Rin. Sekarang ego masing-masing lebih tinggi,”

“Menurutku asal kita sama orang yang tepat, pasti awet kok,”

Walaupun Nisa bukan cewek berpengalaman dalam hal percintaan ataupun cowok. Entah mengapa RIna lebih suka membagi pikirannya dan berdisksui dengan Nisa. Ia suka cara Nisa menanggapi galauannya. SIkap skeptis dan cederung sarkasnya. Seolah Rina membutuhkan itu. Ketimbang dengan lawan bicara yang mendorongnya selalu berpositive thinking. Atau hanya bisa menghibur dengan kalimat standar, “Sabar ya.. Pasti ada hikmah di balik itu,” Hoam bosan.

“Gue tanya, lo setuju gak dengan guotes lebih baik bersama dengan orang yang mencintaimu, daripada yang kamu cintai,”

“Nope! Gue ga bisa begitu,”

“Lho, kalau keadaan memaksa?”

Seketika Rina teringat akan bacaannya yang mengisahkan seorang wanita yang jatuh hati pada pria lain. Dan mati-matian berusaha mencintai suaminya.

“Gawat, gue mungkin akan jadi seorang istri yang bahkan susah-payah mencoba mencintai suami,”

“Daripada lo sama yang lo puja. Tapi ujungnya dia menghianati lo?”

“Lagipula cinta itu bisa nyusul,” Rina menimpali. Kawannyada benarnya untuk yang satu itu.

bersambung.

Secret Garden-A Real Secret Resto

img-20161202-wa0056

Menyusuri jalan Martadinata, menyusuri jembatan yang menyebrangi Kali Winongo, kami menikmati senja yang akan segera berakhir sambil berjalan kaki dari jalan Agus Salim sampai ke pasar Serangan. Menyebrangi perempatan Cavinton yang tampak glamour oleh cahaya dari lampu jalan dan tentunya, lampu hotel Cavinton.

img-20161202-wa0055

Sebenarnya tujuan kami kali ini tidak related dengan hotel cavinton. Tapi kurasa tak ada salahnya membahas sedikit kemegahan hotel tersebut—yang disekitarnya banyak musisi jalanan yang baru beres-beres jelang magrib. Kamipun menyebrang ke belokan di depan pasar, dan melipir sepanajng kios yang telah tutup. Akhirnya tibalah kami di pintu masuk. Sebuah restoran dengan konsep party outdoor. Secret Garden. Sesuai namanya, restoran ini beruansa hijau selayaknya sebuah taman. Dan lokasinya sangat rahasia, siapa yang menyangka di balik deretan kios pasar, dan dalam jalanan gelap beraroma tak sedap ini ada tempat seindah Secret Garden. Memang cukup kontras kondisinya, antara gerobak dan warung-warung kelontong atau angkringan  sebrang pintu masuknya Secret Garden, dan nuansa di pintu masuk yang—waw, seolah memasuki dimensi lain!

img-20161202-wa0058

Sebenarnya dari awal aku tahu ada restoran bernama Secret Garden di kawasan ini saja aku sudah terheran-heran. Seperti, hm, entahlah, salah penempatan. It’s not supposed to be here, got it? Karena itulah mungkin disebut SECRET.

Continue reading

Dalam Senandung Beo

 

img-20161129-wa0007

Sebenarnya aku berniat menuliskan intro yang lebih bagus. Akan tetapi sulit juga menemukan kata yang pas untuk menggambarkan betapa ramai dan riuh-rendahnya nyanyian maupun cicuwit burung di Pasar Satwa yang baru saja kami kunjungi. Lebih lengkapnya, baca laporan perjalanannya saja ya! Chek it out.

*

*

Pagi ini cuaca sangat mendung sehingga rasanya gravitasi ke kasur lebih kuat dari pada daya yang dikerahkan untuk bangkit. Ditambah hawa dingin dari Air Conditioner kamar 116 yang kami pesan untuk seminggu kedepan ini. Hm, agenda kami hari ini sebetulnya cukup menarik. Ya, kami akan berbuuru batik untuk si Umi yang memang seorang re-seller batik di kediaman kami di Bekasi sana.

Continue reading

Paris Cafe-Romantic Bakery Shop

 

img-20161129-wa0014

For you who like romantic or cutie european style , this cafe really suitable for you! Its only take a few minute from Tugu Jogja by car. And just take a minute by walking from Tentrem Hotel, right at the A.M Sangaji street.

img-20161129-wa0021

While choosing the menus

This is the specific location address: Jl. A. Moh. Sangaji No.68 B, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233. Maybe you need to copy paste it! XD

img-20161129-wa0032

By accentuating the paris atmosphere and minimalist interiors this Paris Cafe is actually a bakery cake and pastry shop that sells European breads. Besides, Paris Cafe also provides hot drinks and a variety of other baverage. The Cafe consists of two floors. The first floor is only contain of the bakery shop and at the lower floor terrace there are a few chairs and a sofa with letter-U.

Continue reading

Pensil

pensil-untuk-hobi-menggambar

Aku kehilangan

Pensil

Apa ia, digulung dalam

Ratusan volume udara

dalam sekotak

ruang hampa?

 

Tunjuki aku titik hitam

di moncongmu

yang mencucu

Biasa bercumbu

dengan selapis putih

persegi panjang

 

Ayo! Tunjukkan padaku

Kau satu-satunya

Artefak dari peradaban

abad milenium

yang segera jadi purba

 

Hanya denganmu bisa

Kulukis memoar

atas ruang dan waktu yang ada